pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 23 April 2013 halaman 6
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi AEC 2015
 | Selasa, 23 April 2013
Ahmad Nurullah
Fathur Anas

Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC), Jakarta

BANYAK kalangan menilai, Indonesia belum siap dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015. Sebab, daya saing--baik produk maupun Sumber Daya Manusia (SDM)--masih kalah bersaing dengan produk impor lainnya. Dikhawatirkan, dilaksanakannya AEC akan mematikan produk-produk Indonesia.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia memandang serius dalam menghadapi perdagangan bebas antarnegara ASEAN tersebut. Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah adalah membentuk komite khusus. Dalam pidatonya di Acara Indonesian Young Leaders Forum HIPMI di Jakarta, Kamis (18/4) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebutkan bahwa pemerintah akan membuat komite khusus untuk persiapan menyambut AEC 2015.

Pada 7 Oktober 2003 diadakan sebuah pertemuan ASEAN yang kemudian melahirkan Declaration of ASEAN Concord II. Dokumen yang juga dikenal dengan nama Bali Concord II itu berisi rencana pembentukanASEAN Community tahun 2015. Pertemuan ini menghasilkan komitmen dari seluruh anggota ASEAN untuk mewujudkanASEAN Communitytahun 2015 yang dibangun atas tiga pilar utama.

Pilar pertama, ASEAN Political-Security Community. Konsep yang diajukan oleh Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama politik dan keamanan antarnegara anggota. Pilar kedua adalahASEAN Economic Community.Pengusul utama ASEAN Economic Communityadalah Singapura dan Thailand. Pilar ketiga, ASEAN SocialdanCultural Community.

Dari ketiga pilar itu,ASEAN Economic Communitypaling mengundang perhatian dan menjadi bahasan banyak pihak. Hal itu lantaranASEAN Economic Communityakan membawa dampak besar tidak hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga dalam segala aspek kehidupan lain.

Tujuan utamaASEAN Economic Communityini adalah untuk mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam empat hal: (1) ASEAN sebagai aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal(single market and production base);

(2) ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi(a highly competitive economic region);(3) ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah(a region of equitable economic development);dan (4) ASEAN sebagai kawasan terintegrasi(a region fully integrated in to the global economy).

Penyatuan ini akan menciptakan pasar yang mencakup wilayah seluas 4,47 juta kilometer persegi dengan potensi lebih-kurang sebesar 601 juta jiwa. Karena itu, sebagaimana dikatakan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa saat menghadiri pertemuanASEAN Economic CommunityCouncil ke-9 di Brunei Darussalam, diperlukan keseriusan dan kesiapan Indonesia untuk menghadapiASEAN Economic Community. Kesiapan itu dibutuhkan agar Indonesia mampu menjadi pemain utama, bukan hanya sekadar partisipan dalamASEAN Economic Community.

Jika kita cermati, apabila dibandingkan dengan sembilan negara anggota ASEAN lain, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat difungsikan menjadi modal berharga dalam menghadapiASEAN Economic Community. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta dari sensus penduduk tahun 2000.

Dari perspektif ekonomi, fakta ini tentu menggambarkan bahwa Indonesia memiliki ketersediaan sumber daya manusia (SDM) sangat mencukupi untuk bersaing dalam kompetisi ekonomi regional. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 39 persen dari total penduduk ASEAN sebanyak 608 juta jiwa, Indonesia berpotensi memberikan pengaruh besar bagi terwujudnyaASEAN Economic Community.

Kedua, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang cenderung lengkap dibanding negara-negara ASEAN lain. Sejumlah komoditas utama di sektor pertanian dan pertambangan yang dikonsumsi negara-negara ASEAN berasal dari Indonesia.

Ketiga, Indonesia memiliki pengalaman penting dan berharga dalam menghadapi berbagai tantangan dan kendala, terutama saat diterpa krisis moneter pada kurun waktu 1997-1998. Pengalaman pahit ini telah menjadikan Indonesia jauh lebih matang dan siap dalam mengarungi lautan ekonomi global.

Keempat, keanggotaan Indonesia di berbagai forum kerja sama ekonomi global, terutama G20. G20 adalah forum resmi kerja sama ekonomi global pengganti Kelompok 8 (G8). Forum ini dibentuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dunia dengan memperkokoh fondasi keuangan internasional. G20 merupakan reperesentasi produk domestik bruto dua per tiga penduduk dunia. Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang tergabung dalam G20.

Kelima, pertumbumbuhan ekonomi Indonesia positif dalam beberapa tahun terakhir sebagai buah keberhasilan mengelola ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat di tengah awan kelabu krisis global yang melanda langit sebagian besar negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Juga fakta, pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan tren positif, yakni selalu berada di atas enam persen. Tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah China. Tingkat konsumsi, investasi, dan ekspor akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara serentak.

Meski memiliki lima modal penting itu, tentu Indonesia juga harus melakukan sejumlah perbaikan mendasar guna memantapkan diri dalam menghadapiASEAN Economic Community. Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Antara lain: akselerasi kesiapan infrastruktur, konsentrasi industri manufaktur di pulau Jawa, struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi lulusan sekolah menengah umum atau sederajat ke bawah, dan pengelolaan maritim.

Namun, khusus masalah pengelolaan maritim harus mendapatkan perhatian ekstra. Sebab, ASEAN Economic Communityakan menumbuhkan kawasan Asia Tenggara menjadi pasar ekonomi yang sangat kompetitif dengan jaringan produksi dan distribusi yang saling terhubung. Karena itu, berbagai prioritas pembangunan industri perkapalan dan perbaikan fasilitas pelabuhan menjadi sangat penting bagi setiap negara anggota ASEAN, terutama negara dengan luas laut sangat besar seperti Indonesia. n


close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana