pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 02 Maret 2013 halaman 6
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Generasi Emas, Kurikulum 2013
 | Sabtu, 02 Maret 2013
Ahmad Nurullah

Setyo Pamuji

Akademisi pada IAIN Sunan Ampel, Surabaya

AKHIR-AKHIR ini, dunia pendidikan menjadi topik pembahasan aktual. Kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait kurikulum baru (2013) menjadi polemik dalam masyarakat. Tak sedikit setuju dengan kebijakan tersebut, namun juga banyak yang menolak. Rasanya, terlalu dini jika menjustifikasi kurikulum tersebut secara cepat, apalagi parsial. Pandangan yang komprehensif perlu digunakan sebagai pisau analisis.

Pendidikan memang masalah urgen yang perlu mendapat perhatian. Dalam era pasca-modern kini, pendidikan menjadi menu wajib bagi semua elemen masyarakat. Tak heran jika tiap ada wacana tentang pendidikan, reaksi masyarakat beragam. Ini membuktikan, masalah pendidikan tak boleh asal coba-coba, termasuk dalam kaitan kurikulum baru ini.

Menjawab Keresahan

Ada kritik yang cukup pedas ketika kurikulum baru ini akan benar-benar diimplementasikan. Ada yang mengatakan, "ganti menteri, ganti kurikulum". Hal itu terkait seringnya terjadi perubahan kurikulum.

Bahkan dalam masa reformasi saja, telah tiga kali mengalami perubahan kurikulum: tahun 2004, 2006, dan sekarang. Namun, ungkapan yang menyatakan "ganti menteri, ganti kurikulum" perlu dipikirkan ulang. Pemerintah tidak boleh seenaknya membuat aturan tanpa ada latar pertimbangan yang penting dan mendasar.

Ide untuk mengubah kurikulum, jika didalami, sebenarnya merupakan desakan dari masyarakat. Tak asing di telinga, masyarakat menyalahkan sistem pendidikan: ketika terjadi kesalahan, semisal menyontek, berani pada orang tua, bahkan korupsi juga mengarah ke hal itu.

Selain itu, persepsi yang menganggap bahwa sistem pendidikan di Indonesia hanya semata-mata mengajarkan aspek kognitif, beban mata pelajaran yang terlalu berat dan kurang bermuatan karakter agaknya juga ikut menyumbangkan gereget bagi pemerintah, khususnya Kemendikbud, untuk menjawab keresahan masyarakat dengan menyuguhkan kurikulum yang diharapkan sesuai harapan masyarakat.

Contoh, ada empat substansi dasar yang mengalami perubahan dalam kurikulum baru, yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian. Namun, yang sering menggejolak di masyarakat adalah terkait pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam belajar.

Ada beberapa alasan yang menguatkan Kemendikbud menerapkan enam pelajaran wajib di SD: pelajaran Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, serta Olahraga dan Kesehatan, yang sebelumnya ada belasan pelajaran. Banyaknya pelajaran yang diampu oleh siswa dirasa sangat membebani. Terlalu banyak. Hal itu dinilai kurang efektif. Sesuai dengan pandangan Darmaningtyas, pengamat pendidikan, yang mengatakan bahwa lebih baik jumlah pelajaran sedikit, mendalam, daripada banyak tapi malah mengambang dan hanya permukaan.

Setidaknya, setelah wacana itu terlontar, ada tiga mata pelajaran penting yang dihapus, yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa Inggris. IPA dan IPS dianggap pelajaran tambahan saja, atau muatan lokal. Tidak masuk kurikulum nasional. Sedangkan Bahasa Inggris menjadi kebijakan daerah masing-masing.

Namun mata pelajaran IPA dan IPS sebenarnya tidak akan dihapus begitu saja. Mata pelajaran itu akan diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Menurut Musliar, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mata pelajaran itu akan menjadi penggerak dan akan menarik mata pelajaran lain. Mata pelajaran bersifat lebih tematik-integratif. Penjelasan yang diberikan tak sekadar teori. Nuansa karakter juga dirasa lebih kental dalam kurikulum baru ini.

Esensi Pendidikan

Masalah pendidikan memang perlu didiskusikan guna kebaikan bersama. Dengan kata lain, pendidikan harus dilakukan atas kesadaran bersama. Dalam proses pendidikan diperlukan interaksi aktif-partisipatif antara pendidik dan yang dididik.

Dalam buku The Culture of Education (1996), Jerome Bruner, seorang ahli psikologi dan pendidikan terkenal di Amerika Serikat mengatakan, usaha untuk sadar atau mengerti pendidikan ada empat jenis, dan pandangan pedagogik ini harus diimplementasikan dalam proses pembelajaan, bukan semata teori belaka.

Pertama, pandangan internalis, suatu pandangan yang berusaha mempertanyakan terkait apa yang dapat diperbuat oleh peserta-didik dalam proses pendidikan. Seorang peserta-didik sangat dituntut peran aktifnya. Kesadaran siswa untuk berpikir independen, dalam arti bukan semata-mata hormat pada guru, namun juga harus lebih hormat pada kebenaran.

Kedua, pandangan eksternalis, pandangan yang mempertanyakan kontribusi pendidik kepada peserta-didik. Pendidik harus mampu memberi pemahaman, bukan sekadar informasi pada peserta-didik. Dengan kata lain, dibutuhkan pendidikan yang benar-benar andal. Sepandai-pandainya orang, pembimbingan belajar dibutuhkan. Kontribusi seorang pendidik yang kompeten benar-benar diharapkan.

Ketiga, pandangan intersubyektif, pandangan yang menganggap proses belajar merupakan interaksi bersama. Proses pendidikan bukan semata interaksi antara pendidik dengan peserta-didik, namun juga peserta-didik dengan peserta-didik lainnya. Interaksi bersama ini akan melahirkan kecakapan sosial.

Keempat, pandangan obyektif; cara pandang yang berusaha menghilangkan sekat antara pendidik dengan peserta-didik. Pendidik dan peserta-didik dipandang seperti sekawanan semut. Pandangan seperti ini akan memecahkan kebekuan. Seorang peserta didik lebih dapat bebas berekspresi.

Pemberian kebebasan bagi peserta-didik merupakan modal untuk menumbuhkan generasi emas ke depan. Tidak adanya perasaan terhegemoni akan membuat seseorang lebih aktif dan kreatif. Seperti dikatakan Kahlil Gibran, pujangga Libanon, "Seseorang dapat bebas tanpa kebesaran, tapi tak seorang pun dapat besar tanpa kebebasan."

Empat pandangan tersebut adalah sebuah kesatuan. Implementasinya juga diharapkan tidak setengah-setengah sehingga dapat menghasilkan pandangan yang kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotorik.

Gerbang akhir proses belajar bukan sekadar tahu atau menguasai keterampilan yang diinginkan, melainkan merupakan proses refleksi, termasuk refleksi tentang jenis pekerjaan di masa depan. Dan semua itu telah ada dalam kurikulum 2013. Masyarakat berharap kurikulum baru ini membawa perubahan besar untuk dunia pendidikan bangsa ini. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana