pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 19 Januari 2013 halaman 6
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Teknologi Sederhana Mengurangi Banjir
 | Sabtu, 19 Januari 2013
Ahmad Nurullah
Yanto

Mahasiswa S3 di Universitas Colorado, Boulder, Amerika Serikat

BANJIR telah menjadi tamu tahunan bagi warga DKI Jakarta. Saat orang-orang di berbagai penjuru dunia menyambut Natal dan Tahun Baru, misalnya, warga Jakarta harus bersiap menyambut banjir yang hampir pasti datang.

Secara teknis, banjir terjadi karena adanya air yang tergenang di atas permukaan tanah. Banjir dapat dicegah dengan membuat saluran pembuangan (drainase) dan atau memanfaatkan saluran pembuangan alam (sungai) lalu mengalirkan genangan air menuju ke laut. Elevasi permukaan tanah dan kemiringan lahan menjadi faktor sangat penting. Sayangnya, selain memiliki kemiringan yang landai, sebagian besar wilayah Jakarta memiliki ketinggian rata-rata 8 meter di atas permukaan laut.

Mekanisme banjir di Jakarta dapat dipisahkan menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah naiknya permukaan air Sungai Ciliwung yang berasal dari debit banjir kiriman dari daerah-daerah di sebelah hulu Jakarta yaitu: Depok dan Bogor. Tahap kedua ditandai dengan ketidakmampuan saluran drainase di wilayah kota Jakarta untuk mengalirkan air ke Sungai Ciliwung karena naiknya permukaan air sungai. Tahap terakhir adalah menggenangnya air di permukaan tanah karena meluapnya saluran drainase.

Pencegahan banjir dapat dilakukan berdasarkan tiga tahap terjadinya banjir tersebut. Ketinggian permukaan air Sungai Ciliwung akibat banjir kiriman dapat dikurangi dengan membangun waduk atau bendung di daerah hulu. Waduk atau bendung tersebut harus didesain dengan tujuan utama untuk pengendalian banjir.

Meluapnya saluran drainase dan menggenangnya air di permukaan dapat ditanggulangi dengan mengalirkan air di saluran drainase ke tempat penampungan selain sungai. Dengan kedalaman permukaan air tanah rata-rata 9-10 meter dari permukaan tanah, tanah di Jakarta memberikan ruang yang cukup untuk menampung air hujan. Cara yang dapat dilakukan adalah membuat sumur resapan, baik di bawah saluran drainase maupun di lahan.

Waduk Atau Sumur Resapan?

Dengan terbatasnya ruang akibat perkembangan kota yang membutuhkan lebih banyak perumahan, perkantoran dan bangunan jalan, penentuan prioritas antara waduk dan sumur resapan menjadi penting. Hanya untuk penyerdehanaan, pengertian waduk meliputi segala bentuk bangunan penampung air yang dibangun di atas permukaan tanah seperti: waduk, bendung, bendungan, dan situ. Meski, berbagai jenis bangunan tersebut berbeda.

Waduk memiliki kelebihan mampu menampung air dalam volume besar. Air waduk dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti: irigasi, sumber baku air minum, pembangkit listrik tenaga air, pengendalian banjir maupun sebagai tujuan wisata. Waduk seperti ini disebut waduk multifungsi. Untuk keperluan tersebut, waduk perlu dibangun dengan volume yang besar, konstruksi yang kuat dan mungkin teknologi pengoperasian yang canggih. Lahan yang diperlukan untuk pembangunan waduk dengan demikian juga harus luas.

Lokasi waduk yang tepat menjadi faktor penting. Waduk harus dibangun di daerah hulu dengan topografi yang memungkinan menampung air dalam jumlah besar. Beberapa hal tadi menjadikan pembangunan waduk selain memakan biaya besar juga membutuhkan waktu lama, baik dalam tahap pembebasan lahan, perencanaan, pelelangan hingga proses konstruksi.

Beda dengan waduk, satu unit sumur resapan memiliki volume tampungan yang jauh lebih kecil karena dibatasi oleh ketinggian permukaan air tanah dan permeabilitas tanah. Namun, manfaat langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan cukup besar. Sumur resapan berfungsi meresapkan air ke dalam tanah, mengurangi air limpasan penyebab banjir, dan menjaga ketersediaan air dalam tanah. Selain mampu mengurangi debit banjir, air yang tersimpan di dalam tanah mampu mencegah penurunan lahan yang dapat merusak bangunan gedung, dan mencegah intrusi air laut.

Dengan teknologi yang sederhana, sumur resapan dapat dibuat oleh pemerintah maupun masyarakat. Selain itu, sumur resapan dapat dibangun di bawah bangunan yang sudah ada dengan waktu relatif singkat. Dalam kondisi di mana ketersediaan lahan menjadi masalah umum dan serius bagi pengembangan wilayah Jakarta, sumur resapan merupakan pilihan teknologi yang tepat untuk mengurangi banjir.

Meski awalnya sumur resapan dimaksudkan untuk meresapkan air dari atap dan daerah sekitar pemukiman ke dalam tanah, namun pada perkembangannya sumur resapan dapat difungsikan sebagai sistem drainase kawasan yang mengalirkan tidak saja air hujan dari atap rumah, tapi juga air hujan yang melimpas di badan jalan, trotoar, maupun lahan parkir. Dengan begitu, sumur resapan dapat dibangun di bawah saluran drainase yang sudah ada.

Ilustrasi Teknis

Umumnya bangunan pengendali banjir dirancang berdasarkan curah hujan kala ulang tertentu. Semakin besar kala ulang, semakin tinggi curah hujannya. Curah hujan harian tertinggi di Jakarta terjadi tahun 2007 dengan rata-rata sebesar 235 mm. Dengan luas wilayah kurang lebih 652 kilometer persegi, volume air hujan yang jatuh di wilayah Jakarta oleh sebab kejadian hujan tersebut adalah 153 juta meter kubik.

Jika kedalaman muka air tanah rata-rata 9-10 meter, maka sumur resapan dapat dibuat dengan kedalaman 8 meter. Dengan asumsi, diameter sumur 1 meter, maka volume air yang dapat ditampung oleh satu unit sumur resapan kurang lebih 6,4 meter kubik. Sumur resapan tersebut dapat dibangun di bawah saluran drainase yang sudah ada. Dengan panjang saluran drainase 7.200 kilometer dan antarsumur resapan 5 meter, maka jumlah sumur resapan yang dapat dibangun adalah 1,44 juta unit dengan volume sebesar 9,2 juta meter kubik.

Dengan jumlah hari hujan rerata di Jakarta 150 hari, volume air hujan yang diresapkan ke dalam tanah setara dengan 1.380 juta meter kubik per tahun. Dengan asumsi tingkat konsumsi maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari atau 547 juta meter kubik per tahun. Dari kebutuhan air total tersebut, 40 persen di antaranya dipenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sedangkan 60 persen sisanya menggunakan air tanah.

Artinya, volume air tanah yang dipompa dalam satu tahun sekitar 328 juta meter kubik. Dengan begitu, pembuatan sumur resapan menghasilkan penambahan air ke dalam tanah sebesar 1.052 juta meter kubik per tahun. Jika diasumsikan jumlah tersebut terjadi secara merata di seluruh wilayah provinsi DKI Jakarta, maka terjadi peningkatan permukaan air tanah sebesar 1,6 meter tiap tahun. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana