pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 28 September 2012 halaman 6
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Tawuran Pelajar dan Kegagalan Pendidikan
 | Jum'at, 28 September 2012
Ahmad Nurullah

Sutrisno

Pendidik, Dosen, dan Mahasiswa Pascasarjana (S2) UMS

LAGI, aksi tawuran pelajar terjadi. Kali ini, tawuran antara siswa SMAN 6 dengan SMAN 70 di Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, (24/9/2012). Dalam tawuran itu, seorang pelajar bernama Alawy Yusianto Putra (15 tahun) meninggal dunia akibat luka tusuk benda tajam tepat di dadanya (Jurnal Nasional, 25/9/2012).

Sebelumnya, tawuran antarpelajar yang memakan korban tewas juga terjadi di Depok, Jawa Barat. Korbannya, Didik Triyuda (17) siswa kelas 2 SMK Baskara, Jawa Barat akibat mengalami luka serius di bagian kepala dan kakinya. Sedangkan di Bogor, Jawa Barat, dua kelompok pelajar SMK bentrok di Jalan Raya Gunung Putri yang memakan korban tewas bernama Rudi Noval Ashari karena terkena sabetan senjata tajam.

Maraknya aksi tawuran pelajar sungguh menyedihkan, mengingat pelajar seharusnya berkonsentrasi belajar, menuntut ilmu setinggi-tingginya justru terlibat dalam tawuran. Tawuran antarpelajar yang selama ini terjadi sudah cukup memprihatinkan. Para pelajar berperang. Tak jarang hingga nyawa melayang.

Tawuran antarpelajar dan berbagai bentuk kekerasan lainnya bukanlah laku yang berdiri sendiri. Latar belakang tawuran pelajar juga semakin kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Bahkan, maraknya tawuran antarpelajar akhir-akhir ini sudah semakin membudaya di kalangan pelajar. Kondisi ini menggambarkan keadaan emosional siswa yang tidak stabil dan sistem akademis di sekolah yang sangat rapuh sehingga tidak bisa memberikan pemahaman tentang pentingnya budi pekerti.

Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, kerap menjadi tempat suburnya praktik-praktik kekerasan. Tawuran pelajar merupakan cermin kegagalan sebuah sistem pendidikan. Ada yang salah dalam sistem pendidikan di negeri ini, hilangnya etika, perilaku baik, disiplin, merasa benar sendiri, serta tidak menghargai orang lain. Sistem pendidikan yang berbau kekerasan dan kehilangan etika-moral cenderung melahirkan tawuran pelajar dan berbagai bentuk kekerasan (bullying) di sekolah.

Hasil riset Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dilansir Juli lalu, misalnya, menunjukkan bahwa 87,6 persen responden mengaku mengalami tindak kekerasan di sekolah dalam berbagai bentuk. Dari jumlah itu, sebanyak 42,1 persen mengalami kekerasan oleh teman sekelas dan 28 persen oleh teman lain kelas. Sistem dan kurikulum pendidikan di Indonesia saya kira kini telah kehilangan ruh dan maknanya serta tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Tawuran yang melibatkan peserta didik adalah potret bagaimana institusi pendidikan gagal menjalankan fungsinya. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan kita bernegara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu, dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan pula bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Potensi peserta didik dikembangkan menjadi manusia ideal, yakni bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab.

Saat rapat kabinet di Kemendikbud beberapa hari lalu, Presiden SBY mengatakan, kekerasan di sekolah sebagai suatu sikap yang telah keluar dari nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan. Presiden menegaskan, budaya kekerasan harus dihentikan. Sikap Presiden SBY itu menunjukkan adanya perhatian khusus terhadap maraknya praktik kekerasan dalam masa orientasi sekolah. SBY pun langsung meminta Mendikbud M Nuh serta para pendidik di seluruh Indonesia memastikan betul agar masa orientasi terjadi tanpa tindak kekerasan, baik horizontal antarsiswa atau vertikal antara siswa dengan guru (detik.com, 31/7/2012).

Kita prihatin karena tawuran yang melibatkan para pelajar itu adalah kejadian turun temurun. Seolah para guru, orang tua siswa, dan masyarakat tidak berdaya mencegah. Tawuran pelajar sungguh meresahkan dan karena itu harus menjadi pemikiran bersama, terutama bagi para pendidik di mana para peserta didiknya terlibat. Maka itu, kita harus meletakkan roh pendidikan kepada fondasinya. Pendidikan harus lebih berorientasi untuk membentuk kecerdasan intelektual, pengembangan kemampuan intelektual, kematangan pribadi, kematangan moral dan karakter peserta didik.

Pendidikan bukan ajang untuk mengasingkan manusia dari kecenderungan untuk berbuat baik (hanif), melainkan sebuah ajang untuk terus membangun karakter bangsa (nation character building), yang dewasa dalam segi intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ) hingga terbetuklah masyarakat madani (civil society).

Selain itu, berbagai pendekatan harus dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Misalnya, fasilitas umum sebagai tempat berekspresi pelajar harus diperluas dan mudah diakses. Para pelajar mesti disibukkan dengan kegiatan yang positif untuk melampiaskan energi melimpah yang mereka miliki. Kebijakan pendidikan pun jangan terlalu memberatkan dan memaksa peserta didik.

Pencegahan tawuran pelajar seharusnya dapat dilakukan semaksimal mungkin dengan cara koordinasi, relasi, dan menciptakan suasana kondusif sekolah dengan melibatkan guru, orang tua, aparat keamanan, maupun masyarakat sekitar. Selanjutnya, menyusun program aksi penanggulangan tawuran pelajar berdasarkan analisis menyeluruh, melakukan evaluasi, serta pemantauan secara periodik dan berkelanjutan.

Tak kalah penting, menggalakkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang berfokus pada pembinaan hati nurani yang dikembangkan dari nilai-nilai agama, moral, sosial, dan budaya. Saya yakin, jika pendidikan karakter diterapkan secara benar dan maksimal, aksi tawuran pelajar dapat dihilangkan. Semoga. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana