pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 18 Juni 2012 halaman 5
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
FK Unsoed Bebas Biaya Masuk
Purwokerto | Senin, 18 Juni 2012

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional memerintahkan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk menghilangkan biaya masuk di Fakultas Kedokteran. Biaya yang dikenakan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran hanyalah uang SPP sebesar Rp.15 juta per semester, itupun sudah termasuk biaya praktikum, Kuliah Kerja Nyata dan Wisuda. Perintah Dirjen Dikti tersebut secara otomatis memangkas anggaran Unsoed terutama dari penerimaan uang pangkal, uang gedung dan lainnya.

Diakui oleh Pembantu Rektor II Unsoed, Dr Eko Haryanto, kebijakan tersebut sangat menguntungkan mahasiswa. Dibanding dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta( PTS) lainnya di pulau Jawa, mahasiswa dapat meraih gelar sarjana dengan biaya yang relatif lebih rendah. Perbandingannya, seluruh biaya proses perkuliahan hingga mencapai gelar di FK Unsoed diperkirakan mencapai Rp125 juta. Namun di FK Universitas Diponegoro (Undip) nominal tersebut hanya sebatas uang masuknya saja.

"Sangat menguntungkan mahasiswa meski di sisi lain juga sangat memberatkan pihak kampus. Mau tidak mau seluruh pembiayaan kampus saat ini tergantung sepenuhnya pada SPP. Termasuk juga dengan pembangunan gedung perkuliahan. Karena belum ada kecukupan anggaran, terpaksa ditunda hingga ada anggaran tahun depan," kata Eko Haryanto, Minggu (17/6).

Menurutnya, biaya SPP sebesar Rp.15 juta per semester hanya berlaku di FK Unsoed. Paling mahal di lingkungan Unsoed, namun termasuk murah dibanding fakultas kedokteran di universitas lainnya.

Biaya tersebut terpaut sangat jauh dengan fakultas lainnya. Contohnya seperti UKT Fakultas Ekonomi yang menarik SPP sebesar Rp 2,8 juta per semester, FISIP Rp 2,4 juta per semester dan Fakultas Peternakan sebesar Rp 3 juta per semester.

"Jika mahasiswa bisa menyelesaikan studinya hanya dengan 8 semester, maka yang bersangkutan hanya mengeluarkan Rp.24 juta dan sudah dapat menyandang gelar sarjana," ujarnya.

Menyikapi permasalahan anggaran, pihak Unsoed terpaksa menerapkan sistem keuangan sentralistik. Seluruh biaya SPP tiap semesternya dikumpulkan di rekening rektorat dan selanjutnya dialokasikan ke masing-masing fakultas.

Selain itu, pihak rektorat juga membuka program sumbangan sukarela bagi para mahasiswa baru yang diterima melalui jalur undangan. Hanya saja, program itu hanya disanggupi oleh 7 orang mahasiswa baru dengan memberikan sumbangan lebih besar daripada nominal SPP. Sedangkan yang merasa keberatan dan hanya sanggup menyumbang di bawah nominal SPP tentunya lebih banyak lagi.

"Untungnya kebijakan Dikti tidak serta-merta menangkas seluruh sumber anggaran. Pemerintah pusat tetap akan mengalokasikan dana pendidikan tinggi melalui APBN. Begitu dana tersebut turun, seluruh pembangunan sarana dan prasarana kampus dapat dilanjutkan kembali," kata Eko Haryanto.

Steve Saputra

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana