pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 07 Oktober 2011 halaman 5
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Saatnya Dekap Semua Kalangan
Jakarta | Jum'at, 07 Oktober 2011
Rizky Andriati Pohan

ISLAM adalah agama yang menjunjung tinggi asas inklusivitas. Allah tidak pernah memandang seseorang dari rupanya. Dengan demikian lembaga keuangan Islam pun harus memiliki sifat seperti ini. Sebab, semakin baik akses seseorang ke sektor keuangan maka semakin baik pula standar kehidupannya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan, kemiskinan dapat ditekan bila semakin banyak orang Indonesia yang melek finansial. Namun sayangnya, menurut Muliaman, separuh penduduk Indonesia belum memiliki akses pada jasa keuangan formal. Mereka tergolong dalam kelompok yang masih buta finansial.

Pengamat Keuangan Mikro dari Malaysia Asyraf Wajdi Dusuki mengatakan, orang-orang miskin sering luput dari perhatian lembaga keuangan Islam karena mereka dianggap tidak memiliki kemampuan kredit yang baik. Mereka juga tidak memiliki kolateral, tidak memiliki kemampuan menabung, berisiko dalam meminjam dan tidak memiliki asuransi. Meski demikian bukan berarti mereka tidak layak untuk didekati oleh industri finansial.

Persoalan pertama yang harus dilakukan adalah membuat orang tak mampu memahami tentang lembaga keuangan. Hal ini bisa dilakukan dengan pembentukan kelompok-kelompok sosial yang diberikan pelatihan. Melalui kelompok ini, bank bisa menyalurkan pembiayaan. Malaysia telah melakukan ini dengan cara menduplikasi pemberian kredit Grameen Bank di Bangladesh ala Muhammad Yunus. Kelompok tersebut terdiri atas 10 orang dan diberikan pembiayaan dalam jumlah tertentu. Mereka wajib mengembalikan pinjaman setiap minggu sebesar hanya satu ringgit Malaysia. Bila ada salah satu anggota yang tidak dapat mengembalikan maka kelompok bertanggungjawab untuk menalangi terlebih dahulu.

Pola kedua adalah pembentukan kelompok yang lebih besar dengan terdiri atas 50 hingga 200 orang. Selain diberikan pembiayaan, anggota kelompok juga ditekankan untuk menyisihkan uang mereka dalam bentuk tabungan. Dalam penyaluran pinjaman, tekanan sosial dalam pola ini lebih diperketat. Model ini telah dilakukan di Srilanka, Kamerun dan Burkina Faso. Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah lembaga keuangan bisa melakukan pendekatan langsung kepada individual. Hal ini justru lebih banyak dilakukan oleh bank-bank di Indonesia.

Sumber-sumber bagi keuangan mikro ini pun sebenarnya bisa sangat terbatas. Pembiayaan ini bisa berasal dari dana sedekah, zakat serta wakaf.

Asyraf mengatakan, lembaga keuangan Islam harus memiliki perbedaan dalam menyalurkan keuangan bila dibandingkan bank konvensional. Bedanya adalah perbankan Islam harus menjalankan fungsi intermediasi sosial dengan membangun pengetahuan mereka. Selain itu bank juga harus rajin menghampiri orang yang belum dianggap bankable. Ini jelas berbeda dengan konsep bank konvensional di mana klien datang ke meja teller.

Direktur Utama BNI Syariah Rizqullah mengatakan, institusi keuangan Islam sebenarnya memiliki misi menyalurkan kesejahteraan dengan adil. Namun lembaga keuangan Islam masih terkesan eksklusif karena para pelakunya masih menjalankan bisnis secara sendiri-sendiri.

"Kalau selama ini kurang inklusif, boleh jadi bank syariah belum mampu mencapai masyarakat yang seluas-luasnya. Sebaliknya masyarakat juga belum mampu menyerap dan menggunakan produk keuangan syariah," kata Rizqullah Islamic Finance: Towards Achieving Greater Financial Inclusian", Kamis (22/9), di Jakarta.

Inovasi, menurut Rizqullah, adalah salah satu kunci untuk mencapai inklusivitas. Inovasi bisa dilakukan dalam tiga bidang yaitu inovasi produk, proses dan teknologi. Selain menambah nilai jual produk, inovasi di perbankan syariah tidak boleh bertentangan dengan syariah, fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dan aturan Bank Indonesia.

Yang terpenting pula, inovasi harus menjawab kebutuhan masyarakat. "Tidak ada artinya jika bank syariah mengeluarkan produk seinovatif apapun jika tidak bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya lagi.

Dia mengakui, selama ini perbankan syariah kesulitan berinovasi karena tingginya biaya penelitian. Oleh karena itu dia mengusulkan agar bank-bank syariah bersatu untuk membuat inovasi bersama sehingga biaya dapat ditanggung bersama.

"Saya setuju kalau inovasi produk dilakukan beramai-ramai sehingga biaya bisa dibagi daripada saling intip-intipan dan pengen gratis saja. Produknya sudah keluar baru ikut. Itu tidak Islami," katanya.

Rizqullah mengatakan, salah satu upaya BNI Syariah untuk mencapai inklusivitas adalah mengembangkan produk kartu kredit dengan asas Islam yaitu Hasanah Card.

"Masyarakat sudah terbiasa menggunakan kartu kredit sehingga kami berusaha memberi opsi produk yang memiliki fungsi kurang lebih sama tetapi dikelola secara syariah," katanya.

Sementara untuk menjangkau inklusivitas, BNI Syariah juga berencana membuka 55 unit pembiayaan usaha mikro di seluruh Indonesia pada tahun depan. Presiden Direktur Bank Syariah Mega Benny Witjaksono mengatakan, penyaluran pembiayaan Bank Syariah Mega difokuskan kepada sektor mikro. Tahun lalu, sekitar 82 persen pembiayaan Bank Mega Syariah disalurkan ke sektor tersebut.

Menurutnya, Bank Mega Syariah adalah bank pertama yang melayani langsung nasabahnya tanpa perantara. Bank Mega Syariah sendiri membangun 210 kantor yang melayani pembiayaan mikro. Namun bisnis ini kerap terkendala sumber daya manusia yang tak jarang ditarik bank lain karena tawaran yang lebih menggiurkan. n Rizky Andriati Pohan

close
Jakarta

Institusi keuangan Islam harus dapat diakses orang yang tidak memiliki kemampuan ekonomi sekali pun.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana