pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 01 Desember 2012 halaman 4
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Pendidikan Vokasional Penuhi Kebutuhan Tenaga Trampil
 | Sabtu, 01 Desember 2012

INDONESIA memiliki berkah demografi yaitu tumbuhnya angka usia produktif tertinggi di dunia. Besarnya tenaga kerja usia produktif yang dimiliki seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional. Sayangnya, hingga kini hasil lulusan pendidikan tinggi maupun sekolah menengah belum bisa diserap industri secara maksimal.

"Pendidikan kita harus segera berbenah. Pendidikan vokasional jadi solusi di masa depan yang bisa selamatkan bangsa ini dari pertarungan global," kata Hotma Prawoto, Direktur Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Kamis (29/11).

Sesuai perkiraan, tantangan terdekat yang perlu diperhatikan yaitu masuknya tenaga kerja terampil dari China dan India pada 2013. Repotnya tenaga terampil asing itu bukan dari tingkat sarjana, magister maupun doktoral tapi dari kelompok tenaga terampil level sekolah menengah dan diploma.

"Mereka itu lebih kompeten, punya sertifikat profesional. Kita butuh antisipasi kedatangan mereka, apalagi kebijakan China-ASEAN Free Trade Area sudah berjalan pada 2015 mendatang. Kalau tidak siap, tenaga kerja kita kalah dengan tenaga kerja asing," kata Hotma Prawoto.

Sekolah Vokasi UGM, disebutkan kini mengarahkan pola pendidikan agar bisa mendapatkan sertifikasi keahlian yang dibutuhkan industri. Melalui tekad penyelenggaraan pendidikan keahlian berbasis terapan, yang unggul dan bermartabat telah dilakukan kegiatan pendidikan vokasional yang berstandar global.

Agus Nugroho, Ketua Vocational Days UGM menambahkan lewat model pemagangan ke sejumlah perusahaan, sebenarnya mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman kerja. Mahasiswa yang magang, disebutkan mendapatkan honor sesuai dengan upah minimum regional setempat.

"Pola magang, kita sudah punya usulan seperti apa. Sekarang kita sudah memiliki database peta ketenagakerjaan yang bisa diakses stakeholder terkait. sejumlah pihak seperti PLN, Hitachi dan PT Hexindo sudah jalin kerja sama soal kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai," kata Agus.

Sedikitnya ada 48 institusi dan 5 lembaga sertifikasi yang kini sudah digandeng untuk mewujudkan sistem informasi interaktif yang berguna bagi semua pihak. Sistem Informasi Tenaga Kerja Terampil (SITKT) yang telah dirancang, disebutkan sangat berguna bagi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Kita sementara offline, lewat sistem yang ada. Persaingan global itu harus kita menangkan, pendidikan yang kita jalankan itu harus bisa menciptakan lulusan yang punya keterampilan, siap pakai," kata Agus. n Fatur

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana