pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 24 November 2012 halaman 4
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Sarjana Mengajar ke Daerah Terpencil
 | Sabtu, 24 November 2012
Budi Winarno

Arie MP Tamba

tamba@jurnas.com

Pendidikan khususnya untuk daerah-daerah terpencil di Indonesia masih perlu peningkatan. Berbagai masalah yang menghambat masih sering muncul. Sarana dan prasarana jadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta isinya, serta peralatan sekolah untuk menunjang proses belajar mengajar.

Pembangunan gedung-gedung sekolah megah di perkotaan dengan fasilitas memadai untuk kegiatan belajar mengajar, akan berbanding terbalik dengan keadaan yang terbentang di daerah-daerah terpencil. Tidak ada fasilitas yang memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan. Gubuk-gubuk reyot yang mereka sebut sebagai gedung sekolah tidak didukung fasilitas yang mencukupi sebagaimana terdapat sekolah-sekolah normal pada umumnya di perkotaan.

Dan masalah yang juga menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah perihal kualitas guru. Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil.

Sehingga seringkali seorang guru di daerah terpencil memutar otak untuk memenuhi berbagai hal yang diperlukannya untuk ajar-mengajar. Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah di Indonesia.

Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di daerah terpencil, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggungjawab sebagai seorang guru. Namun sayangnya perhatian pemerintah kepada para guru di daerah terpencil masih terbilang kurang. Beban yang ditanggung oleh seorang guru di daerah terpencil tidak sebanding dengan imbalan yang didapatkan. Hal inilah yang menyebabkan kurangnya guru yang bersedia berkarir di daerah terpencil.

Untuk mengatasi sebagian kekurangan ini, dan juga meningkatkan kualitas guru-guru di daerah terpencil, kini secara khusus Kemdikbud membuka peluang bagi 2.630 orang mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terpencil, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) untuk menempati posisi di seluruh Indonesia selama satu tahun untuk mengatasi kekurangan guru.

"Kabupaten Biak, misalnya, bagi guru yang ingin kembali ke daerahnya akan diterima dan akan diangkat menjadi PNS di sana. Hal itu disampaikan oleh Bupatinya," kata Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdikbud Supriadi Rustad dalam penjelasannya di hadapan peserta Sarjana Mendidik (SM-3T), di Jakarta, Rabu (21/11).

Tahun 2012 jumlah peserta yang mengikuti program SMT-3T meningkat dibanding 2011 sebanyak 2.479 orang, kini bertambah menjadi 2.630 orang. Peningkatan itu terjadi karena Kemdikbud terus melaksanakan penambahan lokasi yang dijadikan program SM-3T ke propinsi-propinsi lain, seperti Kalimantan Barat yang berbatasan dengan negara tetangga, Pulau Nias, dan Sulawesi Utara, kata Supriadi.

Program SM-3T masih berlaku jangka pendek, yakni selama satu tahun. Namun demikian, banyak manfaat yang diperoleh Kemdikbud dari peserta SM-3T berupa masukan-masukan bagi peningkatan mutu, sarana dan prasarana di daerah 3T tersebut.

Keberadaan Sarjana Mendidik di daerah 3T, ujar Supriadi, selain memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di wilayah pengabdiaan, keberadaan para sarjana dari program ini memberikan manfaat besar karena para sarjana sekaligus menjadi guru multifungsi.

"Dengan bekal keterampilan mendidik dan disiplin keilmuan memadai, para sarjana ini juga mampu menginspirasi anak agar mau kembali ke sekolah," ujar Supriadi.

SM-3T merupakan bagian dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI), untuk mempercepat pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Program ini dijalankan sebagai solusi jangka pendek dan jangka panjang.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan Darmaningtyas mengatakan program SM-T3 dinilai positif untuk melahirkan bibit-bibit guru masa depan. "Program ini bagus untuk mencari bibit calon guru. Ini langkah baru yang harus diapresiasi."

Keberadaan Program Sarjana Mendidik ini akan mampu melahirkan guru-guru berkualitas. Karena para sarjana tidak langsung diterima begitu saja menjadi guru, tapi harus melakukan praktek mengajar terlebih dulu, katanya.

Meski program ini masih baru, kata Darmaningtyas, namun program ini sejalan dengan apa yang diharapkan sejak dahulu, yakni penerimaan guru dilakukan secara selektif. "Dan program ini akan lahirkan guru kreatif, punya idealisme dan panggilan jiwa yang tinggi. Karena guru akhir-akhir ini lebih banyak mengejar soal materi," tuturnya.

Program SM3T direncanakan akan berlangsung hingga 2015. Program tersebut diberi nama Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia. Tujuannya untuk mencari model pendidikan guru khususnya di daerah tertinggal. ant

close

Kemdikbud buka peluang sarjana mengajar ke daerah terpencil, terluar, dan tertinggal

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana