pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 07 Agustus 2012 halaman 4
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Panti Al Rifdah (Bagian 1)
Panti Asuhan Pemberdayaan Anak-anak Cacat Ganda
Semarang | Selasa, 07 Agustus 2012

Seorang anak kecil terkulai tak berdaya di bangsal kayu berpagar berukuran satu meter persegi. Sesekali dia miring dan kepalanya bangkit dengan sorot mata kosong menerawang langit-langit. Tak bersuara meski mulutnya menganga.

Anak kecil berusia 2 tahun itu menderita lumpuh sejak kecil. Tak hanya itu, anak yang diberi nama U'ut itu juga mengalami tuna rungu dan tuna wicara sejak dilahirkan kedua orangtuanya--yang entah di mana.

U'ut bayi ditinggal begitu saja oleh bapak-ibunya di salah satu tong sampah di sudut Kota Semarang. Di sudut panti, juga ada Salwa, bayi lima bulan penderita hydrocephalus; Salma, bayi 18 bulan penderita kelainan usus panjang pascaoperasi; dan Temu, gadis 13 tahun penderita autis dan tuna rungu.

Mereka merupakan bagian dari 17 anak lain sejenis yang dirawat oleh Rahma Faradila (35), di Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah, Kelurahan Tlogomulyo, Pedurungan, Semarang. Saat Jurnal Nasional berkunjung, Kamis (2/8) siang, mereka baru saja disuapi makan siang oleh Rahma dan beberapa pengasuh lainnya.

Anak-anak cacat ganda yang dirawat Rahma, tidak diketahui kedua tuanya. Pasalnya, beberapa di antara ditemukan di jalanan oleh Satpol PP dan aparat Kepolisian tanpa diketahui siapa orang tuanya. Ada juga yang ditemukan di tong sampah, hingga di tinggal di rumah sakit setelah orangtuanya mengetahui anaknya cacat.

"Anak-anak cacat di tempat saya mulai dari usia 2 bulan sampai 12 tahun. Penderitaan fisik yang dialami beragam, ada yang lumpuh, tuna rungu, tuna netra, tidak bisa jalan, epilepsi, autis, polio, dan penyakit fisik lainnya," kata perempuan yang juga pengajar di sekolah swasta Semarang ini.

Melihat mereka yang telantar dan cenderung tak diperhatikan lebih orang lain, Rahma terketuk hatinya dan menerima tawaran dari Dinas Sosial untuk merawat anak-anak cacat ganda tersebut. Kemudian, dia bersama empat teman donatur lainnya mendirikan panti asuhan Al-Rifdah ini. "Saya sungguh tidak tega melihat anak-anak tidak berdosa itu, saya niatkan bersama empat donatur lainnya mendirikan panti asuhan Al-Rifdah ini pada tahun 2006," tutur perempuan berjilbab ini.

Bermodalkan niat dan kesungguhan Rahma, hari demi hari anak-anak itu dibesarkan, dengan makanan, pakaian dan tempat sederhana. Namun biaya menghidupi 16 anak berkebutuhan khusus itu tidak sedikit, biaya operasionalnya per bulan rata-rata Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Dinas Sosial Jateng memberikan dana Rp1.500/ orang/per hari, atau kira-kira per bulan Rp700 ribu.

Untuk mencukupi kebutuhannya, terkadang panti asuhannya juga mendapatkan uluran tangan dari orang lain. "Namun setiap bulan kami masih tetap mengeluarkan uang pribadi untuk mencukupi kebutuhan anak-anak tersebut," ujar perempuan kelahiran 17 Juli 1977 ini.

Rahma menyatakan, bersama dengan empat pengurus panti asuhan Al-Rifdah lainnya, ia mengaku ikhlas meskipun setiap bulan mewakafkan tenaga, pikiran, sekaligus uang ratusan ribu rupiah demi membesarakan anak-anak cacat fisik tersebut.

Menurutnya, dengan cara ini ia merasa bisa mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadanya. "Dibandingkan dengan anak-anak cacat ganda itu, saya bersama pengurus lainnya masih diberi kesempurnaan fisik, walaupun kami sebenarnya berasal dari warga tidak kaya," ujar perempuan yang sudah bergelut dalam bidang sosial sejak usia 23 ini.

Meskpun dengan berbagai keterbatasan, lanjut Rahma, usaha untuk membesarkan anak-anak itu sudah berjalan lima tahun walaupun lika-likunya juga banyak. "Tapi Alhamdulillah, meskipun catat, tapi aturannya gampang, lebih mudah dari pada anak-anak normal, hanya saja harus diperhatikan lebih karena keterbatasan fisik," kata ibu beranak satu ini.

Hanya saja, kata dia, yang masih menjadi kendala adalah pembantu pengasuhnya yang kerapkali tidak betah, sebab selain gajinya kecil, juga anak-anak berkebutuhan itu terkadang berak dan kencing seenaknya, sehingga menyebabkan para pembantu pengasuh itu tidak betah.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana