pencarian berita:
Jurnal Nasional - Minggu, 08 Juli 2012 halaman 30
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Separuh Wilayah Indonesia Krisis Air Bersih
 | Minggu, 08 Juli 2012
Vien Dimyati

MENTERI Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, kondisi air bersih di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, hampir 75 persen badan air di Indonesia dalam keadaan tercemar, 60 persen sampai 80 persen di antaranya berasal dari limbah rumah tangga, dan sisanya berasal dari limbah industri.

"Bahkan, sekitar 76,3 persen dari 53 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar oleh bahan organik dan 11 sungai utama juga tercemar oleh bahan amonium," kata Djoko Kirmanto, beberapa waktu lalu saat membuka acara Jambore Sanitasi 2012, di Jakarta.

Padahal, lanjut dia, air dari sungai-sungai utama ini yang dipergunakan oleh masyarakat sebagai sumber air baku untuk air minum. Sementara untuk pemulihan kualitas air memerlukan biaya yang sangat mahal.

Kondisi ini sangat ia sayangkan. Karena, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara terbesar kelima dunia yang memiliki kekayaan sumber daya air. Bahkan, potensi cadangan sumber daya air di Indonesia mencapai 3.900 miliar meter kubik per tahun. Potensi tersebut berada di 5.886 aliran sungai dan 521 danau.

"Sampai saat ini baru 25 persen saja yang dapat dimanfaatkan. Kurang dari 5 persen untuk kebutuhan air baku, rumah tangga, kota, dan industri. Sisanya untuk kebutuhan irigasi," kata Djoko.

Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Nugroho mengatakan, penyebab tercemarnya air bersih di Indonesia karena buruknya kesadaran masyarakat terhadap keberlangsungan air bersih. Menurutnya, masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran untuk mengelola sampah dengan baik.

Dampak Sanitasi Buruk

Volume sampah di Indonesia setiap harinya mencapai satu juta meter kubik. Sayangnya, dari jumlah sampah tersebut hanya 42 persen yang diangkut dan diolah dengan baik. Ini artinya, sampah yang tidak diangkut setiap harinya ada sekitar 348 ribu meter titik atau sekitar 300 ribu ton," kata Nugroho.

Ia juga menyayangkan buruknya kondisi sanitasi di Indonesia. Kondisi buruk ini diperparah perilaku hidup masyarakat yang masih saja membuang tinja di sembarangan tempat. Nugroho menyebutkan, tidak hanya sampah yang menyebabkan sungai, danau, mata air dan sumber air lainnya tercemar. Perilaku manusia yang suka membuang tinja sembarang tempat terbuka juga menambah tingginya pencemaran air.

"Setiap hari ada sebanyak 14 ribu ton tinja manusia tidak pernah diolah. Itu dikarenakan sekitar 30 persen masyarakat yang buang air besar sembarangan di tempat terbuka," kata dia.

Maka tidak heran jika kondisi ini menyebabkan satu dari 100 bayi yang lahir di Indonesia meninggal karena diare. Setiap hari lebih dari 2 juta bayi lahir di Indonesia, atau ada 20.000 bayi meninggal tiap tahun karena diare.

"Kalau sanitasi buruk, juga akan berdampak pada siswa. Mereka akan terkena diare. Sehingga, prestasinya menurun karena mereka akan lebih banyak membolos karena sakit. Rata-rata siswa bolos selama 8-12 hari karena sakit akibat sanitasi buruk. Tapi jika sanitasi baik angka bolos sekolah hanya empat hari," kata Nugroho.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Kementerian PU, Syukrul Amien, mengatakan, persoalan sanitasi adalah persoalan bersama. Diperlukan cara untuk mengubah perilaku manusia agar peduli sanitasi. Menurut Syukrul, mengubah perilaku seseorang agar peduli sanitasi dapat dilakukan sejak dini.

"Kepedulian ini sudah dilakukan oleh para duta sanitasi di Indonesia. Sebanyak 80 persen siswa yang menjadi duta sanitasi telah melakukan sosialisasi di lingkungannya dan telah memberi pengaruh. Mereka telah mampu menjadi penggiat dan fasilitator serta motivator. Begitu pula dengan Duta Sanitasi 2012 diharapkan mampu berbuat lebih dari duta sebelumnya," kata Syukrul.

Alokasi Anggaran

Jambore Sanitasi 2012 adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk mengampanyekan perilaku peduli sanitasi melalui anak-anak sebagai agen perubahan. Puncak dari Jambore Sanitasi 2012 bertemakan Peduli Sanitasi, Peduli Masa Depan Air.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU, Budi Yuwono, menyatakan, penyelenggaraan Duta Sanitasi 2012 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ada 1.000 anak Sekolah Dasar di DKI Jakarta menggemakan peduli sanitasi bersama dengan 198 Duta Sanitasi dari 33 provinsi dengan tujuan serupa.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah telah meningkatkan prioritas dan investasi di bidang sanitasi dengan anggaran yang relatif besar. Hal itu terlihat dari hasil kinerja pembangunan infrastruktur Air Limbah (sistem on site maupun off site termasuk SANIMAS), meningkatnya fasilitas TPS 3R dan sejumlah TPA yang semula open dumping menjadi minimal controlled lanfill atau sanitary landfill, serta meningkatnya infrastruktur drainase termasuk revitalisasi bozem dan sistem polder yang mampu mengurangi sebagian genangan atau rob.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, kementeriannya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 triliun sepanjang tahun 2012. Anggaran tersebut ditujukan untuk pembangunan infrastruktur sanitasi dalam bentuk fisik. Terutama bagi Kabupaten atau kota yang memiliki rencana dan program dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan sanitasi yang layak.

"Namun, harus kita akui bahwa upaya penyediaan prasarana sarana sanitasi yang layak tersebut masih memerlukan dukungan dari seluruh stakeholders. Stakeholders di sini tidak terbatas kepada kementerian melalui dukungan kebijakan yang prosanitasi, tapi juga dari para pengambil keputusan di tingkat daerah dan seluruh lapisan masyarakat," kata Djoko.

Ia menambahkan, pembangunan sanitasi bukanlah semata masalah infrastruktur yang memerlukan keberlanjutan pengelolaan, namun juga diperlukan perubahan perilaku masyarakat perkotaan maupun perdesaan.

***

close

Tidak hanya masyarakat perkotaan saja, masyarakat perdesaan juga mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Tingginya tingkat pencemaran air di Indonesia ditengarai menjadi penyebab krisis air bersih di berbagai daerah.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana