pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 08 April 2011 halaman 29
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Bahaya Riba
 | Jum'at, 08 April 2011
Nuswantoro

Habib Alwi as Segaff

BEBERAPA hari terakhir, ramai dibincangkan melalui media massa, situasi yang sangat mengejutkan kita. Seorang karyawan CitiBank mencuri dana nasabah untuk kepentingan pribadinya. Pada momentum yang sama, tersiar kabar debt collector yang disewa bank yang sama melakukan tindakan yang biadab, sehingga pengutang yang ditagihnya tewas.

Sumber masalahnya adalah riba. Yaitu nilai lebih suatu transaksi yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal dan menjerat salah satu pihak yang bertransaksi. Oleh sebab itulah, Allah SWT menegaskan, siapa saja pelaku riba merupakan musuh-Nya.

Allah menghalalkan jual beli dan perniagaan, sekaligus mengharamkan riba (QS Al Baqarah 275). Rasulullah Muhammad SAW, menegaskan: "Sesungguhnya dirham yang diperoleh seseorang dari riba, lebih besar dosanya di sisi Allah daripada tiga puluh enam perempuan penzina yang dizinahi satu orang laki-laki, dan sesungguhnya riba yang paling besar adalah mengghibah seorang muslim (At Targhib, 3)."

Riba tak hanya terkait dengan rente dan bunga bank semata. Mengalihkan harta orang lain menjadi bagian dari harta petugas bank secara tidak sah, termasuk riba. Karenanya, tak ada alasan bagi muslim untuk tidak menjauhkan riba. Menjauhkan perbuatan mengambil hak orang lain untuk memperkaya diri sendiri dengan menimbulkan petaka bagi kebanyakan manusia.

Rasulullah Muhammad SAW sangat perhatian dengan hal semacam ini. Bahkan beliau menegaskan, “Makanan seseorang yang paling halal adalah yang didapat dari penghasilan sendiri. Sesungguhnya Nabiyullah Dawud, makan dari hasil kerjanya sendiri. Penghasilan terbaik adalah yang didapat melalui cara yang halal dan benar".

Riba diharamkan Allah dan para pemakan riba diposisikan sebagai musuh Allah, karena riba dihasilkan oleh cara yang tidak halal dan tidak benar. Mereka yang terlibat riba sangat mudah menggunakan cara-cara yang tak berakhlak, termasuk dalam penyelesaian utang piutang. Para pemakan (atau yang hidup) dari riba tak pernah segan melakukan tindakan biadab, termasuk menggunakan cara-cara kekerasan. Cara demikian, tentu mengabaikan semua yang diatur oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Cara yang tercela.

Melalui media massa, dari kasus yang berkembang pekan ini, kita menyaksikan bagaimana riba sebagai transaksi dengan cara-cara yang mengabaikan Allah SWT, telah memakan korbannya. Begitulah cara tercela menebarkan dampak buruknya, dan menghalangi manusia mencapai keridaan-Nya dalam bertransaksi. Sebagai muslim, tak ada sikap lain dari kita kecuali bertransaksi dengan cara syariah secara tepat dan benar. Rasulullah Muhammad SAW, menyatakan: "Peniaga yang amanah, jujur, dan muslim akan bersama para syuhada di hari kiamat". n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana