pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 20 Januari 2012 halaman 27
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Mantan Petenis Meja Bentuk Wadah Aspirasi
Jakarta | Jum'at, 20 Januari 2012
Ahmad Muhajir

Sejumlah mantan atlet, pelatih, pemerhati dan pencinta tenis meja Indonesia sepakat untuk membentuk Forum Pemerhati Tenis Meja Indonesia (FPTMI) sebagai wadah aspirasi dan kreativitas seluruh insan tenis meja Tanah Air. Forum ini juga diarahkan untuk membantu memajukan prestasi tenis meja nasional yang terpuruk.

"Kami sepakat membentuk FPTM dalam upaya membangun prestasi tenis meja Indonesia yang semakin menurun," kata mantan pemain nasional, Anton Suseno usai acara Diskusi Tenis Meja Indonesia di Jakarta, Rabu (18/1) malam.

Hadir sekaligus menjadi pembicara dalam diskusi ini dari berbagai unsur. Di antaranya kalangan atlet dan pelatih seperti Yon Daryono dan Ismu Hariyanto, Anton Suseno, Sugeng Utomo, para pengurus Pengrov PTMSI seperti dari DKI Jakarta (Arifin), Jawa Timur (Diana Wuisan), Banten (Cecep Haris), dan Lampng (Busman), serta sejumlah tokoh dan para insan media.

Diskusi didasari keterpurukan prestasi dan sepinya kompetisi dalam kurun sekitar sepuluh tahun ini. Mereka membahas dan mencari solusi bagaimana caranya agar prestasi tenis meja Indonesia yang pada sepuluh tahun sebelumnya bisa berjaya dan disegani baik di tinggak Asia, Asia Tenggara, dan dunia.

Setelah membentuk FPTM, peserta sepakat menunjuk Ismu Harinto, Sugeng Utomo dan Anton Suseno yang menjadi formatur. Ketiga mantan pemain nasional yang memiliki prestasi cemerlang ini ditugaskan menyusun kepengurusan FPTMI secepatnya.

Menurut Anton, FPTMI ini bukan hanya mengkritisi kepengurusan PB PTMSI yang dipimpin Tahir, tetapi akan memutar roda kompetisi baik tingkat nasional dan internasional. Tahir yang sudah sepuluh memimpin PTMSI, belum lama ini terpilih kembali menakhodasi organisasi tersebut untuk periode ketiga.

Prestasi tenis meja Indonesia memang sangat memprihatinkan dalam 10 tahun terakhir saat PTMSI dipimpin Tahir. Merah-Putih hanya mampu merebut tiga perunggu saat menjadi tuan rumah SEA Games 2011.

"Naturalisasi yang dilakukan Singapura terhadap pemain Cina tidak bisa dijadikan alasan. Toh, yang dinaturalisasi bukan pemain topnya. Dulu saja kita mampu mengalahkan pemain China," ujar Anton Suseno.

Wartawan senior yang juga pengamat tenis meja Indonesia, Yesayas Octavianus menyoroti perlunya adanya aksi yang elegan dalam mengkritisi buruknya kinerja PB PTMSI selama 10 tahun terakhir ini. Menurut dia, keterpurukan prestasi tersebut bukan hanya karena kegagalan kepemimpinan pengurus Pusat, tetapi juga para pengurus Pengrov.

"Mereka (Pengprov) telah memilih kembali Ketua Umum Tahir bahkan untuk tiga periode, sementara prestasinya makin terpuruk. Para pengrus Pengrov yang telah memilihnya itu seharusnya juga ikut bertanggung jawab dengan konsdisi tenis meja Indonesia yang kian memburuk," tuturnya.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana