pencarian berita:
Jurnal Nasional - Minggu, 11 Desember 2011 halaman 25
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Jilfest 2011
Mendesak Penerjemahan Karya Sastra
 | Minggu, 11 Desember 2011
Arie MP Tamba
Jilfest 2011
Mendesak Penerjemahan Karya Sastra


Sebagai perangak strategi kebudayaan, karya sastra merayakan subyektivitas dan keberagaman.

Arie MP Tamba
tamba@jurnas.com

"Barangkali terlalu dini membicarakannya, tapi sudah mengarah ke kepastian, bahwa tahun 2015, Indonesia akan menjadi Guest of Honour (tamu kehormatan) di Frankfurter Buchmess (Franfurt Book Fair)," kata Berthold Damhausers.

Frankfurt Book Fair adalah salah satu pameran buku terbesar di dunia dan termasuk satu di antara beberapa event budaya terpenting di Eropa. Diselenggarakan sekali setahun, setiap bulan Oktober, pameran ini jadi perhatian media dan publik di negara-negara berbahasa Jerman khususnya, dan Eropa bahkan dunia internasional umumnya.

Maklum, pameran buku internasional ini dihadiri ribuan penerbit dan perusahaan media dari seluruh dunia. Jumlah pengunjung sampai ratusan ribu orang. Pameran yang sudah berusia 500 tahun itu jadi tempat pertemuan bagi agen, pustakawan, penerjemah, penerbit, pencetak, wartawan, budayaan, seniman, sarjana, dan tentu saja sastrawan dari seluruh dunia. Karena sastralah yang jadi fokus utama pameran buku ini.

Sejak 1976, setiap tahun salah satu negara atau kawasan dipilih jadi "tamu kehormatan". Dari Asia pernah dipilih: Indis (1986 dan 2006), Jepang (1990), dunia Arab (2004), Turki (2006), China (2009). Masing-masing "tamu kehormatan" bukan saja jadi fokus selama pameran buku berlangsung, tapi berbulan-bulan sebelum dan sesudahnya ramai dibicarakan dan diamati publik dan media Jerman.

Hingga dapat dibayangkan, andaikan Indonesia jadi "tamu kehormatan" pada 2015. Itulah peluang terbesar dalam sejarah Indonesia untuk memperkenalkan diri kepada Jerman dan Eropa (dan dunia). Peluang terbesar untuk menyebarkan budaya dan terutama sastra Indonesia di kawasan itu. Peluang yang wajib dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh puluhan sastrawan Indonesia yang akan mewakili sang "tamu kehormatan" Indonesia dalam acara-acara sastra selama pameran berlangsung.

Demikianlah paparan dan "kabar gembira" yang diungkapkan Berthold Damshauser dari Universitas Bonn Jerman, yang jadi salah satu pembicara dalam Jakarta International Literary Festival (Jilfest) ke-2, 6-9 Desember 2011. Festival kali ini mengusung tema "Sastra sebagai Jembatan Perjumpaan Budaya Antarbangsa". Pembicara lain: Abdul Hadi WM, Eka Budianta, Tommy Christomi (Indonesia); John McGlynn (Amerika Serikat); Ni Abdul Rakib Bin Nik Hassan (Thailand); dan Prof. Jefri Arif (Brunei Darussalam).

Jilsfest diikuti puluhan sastrawan dari Jakarta dan berbagai daerah Indonesia, juga dari mancanegara. Selain mengikuti seminar, para sastrawan mendapat kesempatan untuk mengekspresikan karya sastra mereka. Diadakan juga forum pelatihan penulisan cerpen, puisi dan musikalisasi puisi, yang pesertanya datang dari berbagai kampus di Indonesia. Keseluruhan acara dilangsungkan di tiga tempat: Hotel Millenium Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, dan Galeri Nasional Jakarta.

Kembali ke Damshauser, agar peluang "tamu kehormatan" ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, masalah yang mendesak kini bagi karya-karya sastra Indonesia adalah penerjemahan "yang baik" ke dalam bahasa Jerman, atau minimal ke dalam bahasa Inggris. Dengan begitu karya-karya sastra Indonesia akan semakin diketahui dunia, yang nantinya mengenalkan pula Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang khas di antara negara-negara lain di dunia. Maka, sastra pun bekerja sebagai "jembatan" perjumpaan budaya antarbangsa.

"Masalahnya, saat ini Indonesia terkadang lebih dikenal sebagai negara yang pernah jadi korban terorisme dan konflik horizontal," kata John McGlynn, menyepakati apa yang disebutkan Damshauser.

McGlynn yang sudah bertahun-tahun mengerjakan penerjemahan karya-karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris, sangat menyadari betapa Indonesia sering disalahpahami karena "tidak dikenal" masyarakat dunia.

McGlynn melalui Yayasan Lontar yang didirikannya bersama Goenawan Mohamad, Umar Kayam, dll, di antaranya telah menerbitkan Never the Twain (Salah Asuhan), karya Abdoel Moeis, Shackles (Belenggu), karya Armijn Pan, The Fall and the Heart (Kejatuhan dan Hati), karya S. Rukiah, Mirah of Banda (Mirah dari Banda), karya Hanna Ramb, Family Room, sebuah kumpulan cerpen karya Lily Yulianti Farid, And the War is Over (Dan Perang pun Usai), karya Ismail Marahimin, The Pilgrim (Ziarah), karya Iwan Simatupang, Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli, Telegram, karya Putu Wijaya, Supernova, karya Dewi Lestari, dan banyak lagi.

"Karena hanya mengenal Indonesia dari pemberitaan terorisme, di Amerika saja Indonesia sering dianggap sebagai negara yang tidak aman. Padahal, saya sudah membuktikan bertahun-tahun, betapa amannya hidup di Indonesia, di Jakarta khususnya, ketimbang di New York," kata Glynn.

Menurut Glynn, untuk menjadikan karya sastra berhasil sebagai "jembatan" kebudayaan antarbangsa, sangat membutuhkan peran pemerintah. Pemerintah Indonesia harus mengubah frame kebijakan yang terlalu "royal" untuk politik dan pembangunan fisik, tapi kurang memberi perhatian ke pendidikan dan kebudayaan yang meningkatkan kecerdasan.

"Sungguh aneh bila Indonesia dikenal sebagai negara ke-4 terbesar jumlah penduduknya di dunia, namun tidak dikenal dari aspek budaya, terutama lewat buku," kata Glynn.

Berbeda dengan Indonesia yang menghadapi persoalan mendesak "penerjemahan" karya sastra ke masyarakat dunia, persoalan di Thailand yang diungkap Nik Abdul Rakib menunjukkan bagaimana keberbagaian suku dan budaya dalam satu negara dapat "dijembatani" karya sastra. Karya sastra telah membuat masyarakat Melayu Patani Thailand Selatan yang beragama Islam menemukan identitas sosial dan budayanya. Hal ini kemudian menimbulkan apresiasi kesetaraan dari masyarakat Thailand yang mayoritas Buddha.

Sementara Tommy Christomi yang sehari-harinya mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menyoroti betapa besarnya peluang sastra "merayakan" pemahaman (keunikan dan) perbedaan antarmanusia sebagai pribadi dan juga anggota masyarakat. "Sastra merayakan subyektivitas di tengah komunalitas pemaknaan," kata Tommy.

Dalam konteks masyarakat Jakarta yang kosmopolitan, sastra jadi alat penyeimbang yang dibutuhkan, mengingat warganya datang dari ranah pemaknaan yang beragam namun pada saat yang sama harus berinteraksi satu sama lain.

"Karya sastra memberi celah untuk membangun pertarungan pemaknaan yang aman," kata Tommy.
close

Sebagai perangkat strategi kebudayaan, karya sastra merayakan subyektivitas dan keberagaman.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana