pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 14 Juni 2013 halaman 19
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Melemahnya Rupiah Sudah Diantisipasi
Depok  | Jum'at, 14 Juni 2013

MELEMAHNYA nilai rupiah terhadap dollar sudah dimonitor dan diantisipasi pemerintah. Indikasi menguatnya dollar disebabkan dua faktor, yakni dalam negeri dan luar negeri. Salah satunya turunnya harga emas. "Anjloknya nilai rupiah, ada pada level psikologis yang terparah sejak 2009. Saya meyakini pemerintah sudah mengantisipasi hal tersebut," kata Rus‘an Nasrudi, ekonom dari Universitas Indonesia (UI) di Depok, Kamis (13/6).

Ruslan mengatakan untul faktor dalam negeri, lantaran gonjang-ganjing rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mau tidak mau akan berpengaruh. Karena itu dibutuhkan ketegasan secara politik di tingkat parlemen. "Selain itu juga ada penurunan impor, sedikit banyak memperbaiki neraca perdagangan, menaikkan tingkat suku bunga sejalan dengan pengendalian inflasi," katanya.

Kondisi dalam negeri, mempengaruhi perekonomian Indonesia sebagai sinyal investasi domestik dimana pengendalian inflasi berpengaruh. Namun, dia meyakini pengaruh global lebih berpengaruh pada momentum inflasi, apalagi menjelang puasa dan lebaran menjadi tantangan bagi pemerintah terkait kebijakan menaikan harga BBM. "Lebih kepada harus melihat perkembangan inflasi per bulan, tahun ini puasa kan agak maju, sehingga pemerintah masih ada nafas memperbaiki itu sampai akhir tahun, tetapi itu perlu kerja keras banget," katanya.

Terpisah, Kepala Tata Usaha Badan Pusat Statistik (BPS) Depok Bambang Pamungkas memprediksi memprediksi angka inflasi akibat dampak kenaikan harga BBM tidak akan signifikan. Dampak yang timbul saat ini hanya berupa efek psikologis. "Kami harus jujur. Paling inflasi satu digit saja, inflasinya nggak akan tinggi, ini hanya psikologis efek, dimana semua sembako harus naik, transportasi naik, sebenarnya nggak seperti itu, dampak psikologis, sekarang kalau hitung dari sebenar-benarnya, berapa persen," katanya.

Bambang mengatakan kenaikan harga BBM mendesak dilakukan karena subsidi selama ini dinikmati masyarakat menengah atas. "Saya sebagai rakyat juga males kok. Yang merasakan yang punya mobil. Buat apa, rakyat biasa dimanja. Semua pihak memanfaatkan momen ini. Coba dihitung-hitung, angkot BBM per hari butuh berapa, BBM naik 30 persen misalnya tak otomatis angkot juga naik tarifnya 30 persen dong, sikapilah kenaikan harga BBM dengan bijak," katanya.

Dampak kenaikan harga BBM, membuat semua pihak menaikkan harga, bukan karena biaya produksinya yang naik, tetapi semata-mata mau menambah untung. Bambang mengakui memang ada efek dari kenaikan harga BBM, tetapi tak sebesar yang dilakukan banyak pihak. "Ada efek, tapi apakah sebesar itu? BBM ini yang makan siapa, menengah atas. Pemerintah dan seluruh pihak harus menjaga itu agar tak memanfaatkan momen, harus sikapi lebih bijak saja," katanya.

Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Depok, M Nasrun menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok memberi sinyal untuk mempersiapkan kenaikan transportasi jika harga BBM naik. Apalagi jika besaran kenaikan harga BBM signifikan. Karena itu, Dinas Perhubungan Kota Depok menggelar rapat koordinasi internal untuk membicarakan persiapan kenaikan harga BBM. "Kami rapat dulu, salah satunya membahas soal antisipasi kenaikan harga BBM terkait tarif angkot," katanya.

close
Jakarta

Pendatapan iklan media digital tigas persen dari total pendapatan iklan.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana