pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 06 April 2013 halaman 16
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Akil Muchtar
Dari Kebun Sawit hingga Titiek Sandhora
- | Sabtu, 06 April 2013
Anton Setiawan

DUA hari sebelum pemilihan, saya sempat berbincang selama satu jam dengan Akil Mochtar, Senin (1/4) di kantornya. Akil menceritakan, kariernya dari nol sampai akhirnya kini sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Masa kepemimpinan Mahfud MD, ia ditunjuk sebagai juru bicara MK. Makanya, ia sangat dekat dengan wartawan. Ia tipe orang yang suka bercanda dan banyak bicara. Sekalinya berdiskusi, lupa waktu kapan berhentinya.

Wartawan yang biasa meliput di MK selalu menggodanya dengan jabatan RI 9 (pelat mobil ketua MK), menjelang Mahfud MD turun awal pekan ini. Tapi, ia tak memiliki ambisi menjadi ketua. Toh, Rabu kemarin suara terbanyak diperoleh Akil dalam pemilihan sebagai ketua MK.

Perjalanan Akil sampai ke Jakarta cukup pelik. Ia berasal dari daerah Putussibau, daerah terpencil perbatasan antara Indonesia-Malaysia. Jaraknya sekitar 860 kilometer, seperti jarak Jakarta-Surabaya. Untuk sampai ke Pontianak, ia membutuhkan 15 hari perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. "Saya harus pakai kapal," katanya. Akses jalan baru dibuka pada 1994.

Di luar kesibukannya sebagai hakim, Akil aktif dalam Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Ia didapuk sebagai ketua umum. "Kenapa saya memilih itu? Ya daripada berorganisasi yang yang berafiliasi politik, lebih baik saya mengurus organisasi olahraga," ujarnya.

"Kami kumpul dengan anak-anak muda dan selalu teringat dengan masa muda." Sejak kuliah, ia memang suka pergi ke alam dan aktif di pencinta alam Universitas Panca Bhakti, Pontianak.

Ia memiliki sembilan saudara (empat laki-laki, lima perempuan). Ia adalah anak nomor enam dari pasangan Mochtar Anyoek-Junnah Ismail. Dari saudara-saudaranya, Akil-lah yang menggapai sukses paling tinggi. Kakaknya-kakaknya hanya tamatan SMP dan langsung bekerja. Adik-adiknya juga banyak yang sudah S1 dan S2.

Di keluarga, ia sebagai anak pertama yang merantau pertama kali ke Pontianak, karena harus melanjutkan sekolah menengah pertama. "Karena sekolah harus ke Pontianak. Pada 1974 di kabupaten saya belum ada sekolah. Kabupaten saya paling terisolasi, paling ujung," katanya. "Kalau enggak ya seperti temen-temen, setelah SMP kawin, sekarang sudah punya cucu 7-8, hehe."

Ia banyak mengingat kenangan saat itu. "Ayah saya bilang, 'Saudaramu banyak, ada sembilan. Ayah enggak mampu kalau kamu sekolah, ya merantaulah. Karena dengan merantau ada nantilah ada jalan," kata Akil menirukan ucapan ayahnya.

Sejak merantau ia susah untuk pulang karena faktor jarak dan biaya. Jika pulang, ia membantu angkat-turun barang di kapal agar dapat duit. "Masalahnya 15 hari perjalanan. Jadi kami bantu-bantu karena kami makan di situ," ucapnya.

Selama merantau ia tak pernah dikirimi duit. "Mana ada kiriman. Serabutanlah," tuturnya. Berbagai pekerjan ia lakoni, seperti loper koran, tukang sol sepatu, dan sopir angkot. "Saya itu kerja apa saja sudah kecuali mencuri," katanya.

Ketika menjadi sol sepatu, ia biasanya membantu tukang sol sepatu yang lagi banyak pesanan. Tak banyak yang dia dapat dari bekerja itu. "Kerelaan dia mau ngasih berapa. Sehari paling banyak Rp10-25, emang lu pikir banyak," katanya.

Ia lalu menceritakan sulitnya mencari uang ketika akan mengikuti ujian skripsi pada 1984, karena harus membayar Rp75 ribu. Untuk dapat uang itu, ia harus menjadi sopir sejak subuh hingga jam 8 malam. Yaitu ia mengantarkan seseorang karena harus mengambil gambar (video shooting) pernikahan.

"Setengah mati saya cari uang Rp75 ribu. Saya lalu jadi sopir dibayar Rp50 ribu, sisanya pinjam teman," katanya. "Ketika saya jadi lawyer, ada yang pernah bilang 'saya kenal bapak'. Ya, pastilah karena pernah bawa angkot." Berprofesi sebagai lawyer ia jalani selama 16 tahun sejak 1984.

Berikut cuplikan wawancara Jurnal Nasional dengan pria kelahiran 18 Oktober 1960 di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini.

Anda suka naik gunung, ya? Kalau gunung-gunung kecil tak bernama sudah banyak. Sekelas Gunung Rinjani saya sudah jalani itu. (Ia mengatakan bahwa dirinya lebih banyak melakukan hiking ke alam daripada naik gunung).

Apa kegiatan Anda, jika sedang libur? Kadang-kadang saya mengisi ceramah-ceramah di seminar dan mengajar pascasarjana di Pontianak. Kadang-kadang juga ada usaha kecil. Saya punya kebon sawit dan penangkaran ikan arowana, itu usaha keluarga. Tiga hari kemarin (29-31 Maret 2013) saya naik speedboat selama tiga jam ke kebun sawit di Putussibau dari Pontianak. Ke sana memberi ketenteraman karena ke desa-desa. Sambil menikmati suasana kebun.

Memangnya punya berapa hektare kebun sawit? Saya punya 100 hektare. Itu sudah lama. Jadi sedikit demi sedikit belinya, sejak saya menjadi pengacara, sejak 20 tahun lalu.

(Ia kemudian menceritakan, satu hektare kebon sawit bisa memproduksi satu ton sawit. Harga sawit dihitung sekitar Rp18-20 per tandan. Sehektare, katanya, penghasilannya sekitar Rp800 ribu, jika dipotong untuk ongkos produksi untungnya sekitar Rp300 ribu per bulan per hektare. "Tinggal kemudian dikalikan berapa hektare," katanya)

Bagaimana dengan penangkaran ikan arowana? Di daerah saya hampir semua orang punya ikan arowana. Orang bikin kolam di belakang rumah. Saya punya enam kolam, satu kolam ukurannya 8 meter x 60 meter. Investasi arowana itu cukup besar. Investasi kolam saja di luar ikan bisa Rp300 juta-Rp400 juta. Yang mahal ikannya. Kalau induknya itu antara Rp30 juta-Rp100 juta satu ekor. Itu baru induknya.

(Sekedar diketahui, kekayaan Akil termasuk tiga teratas di antara hakim lainnya di MK. Data Komisi Pemberantasan Korupsi mencatat, kekayaannya pada 2002 sebesar Rp3,46 miliar, Rp8,4 miliar (2006), dan Rp5,2 miliar (2011). Hakim terkaya lain yaitu Hamdan Zoelva Rp9,6 miliar (2011) dan Achmad Sodiki Rp5,9 miliar (2011).

Sekarang punya berapa induk? Saya punya 160 ekor induk, itu bertahap tidak langsung beli. Kadang ada teman yang jual, lalu saya beli.

Jadi pengusaha kan lebih enak, kenapa harus ke politik? Saya memang awalnya dari pengacara. Dulu itu di Kalimantan mulai pada buka kebun sawit. Karena tidak mungkin bisa ikut perusahaan besar, terus saya belilah lahan sedikit-sedikit. Kemudian saya jadi pengacara, dapat duit, lalu saya beli lagi. Sawit itu yang ngurus orang desa situ, bukan saya. Kita kan bukan pengusaha, mereka itu pengusaha besar, seperti PT Sinar Mas dan PTPN XIII. Kita ini "pengusaha gelap", hehe. Sampai sekarang itu sebenarnya bukan pengusaha, ya memang kita tradisi di sana banyak.

Saya punya sapi lebih dari 50 ekor. Saya juga punya tanak banyak sekali. Orang tua saya tanahnya dulu banyak. Dulu ayah saya yang membuka hutan. Kan orang dulu begitu, siapa yang tebang jadi huma, itu nanti milik kita. Sekarang tanah itu jadi kota.

Bagaimana hubungan Anda dengan ayah? Hubungan saya biasa saja. Ayah saya meninggal pada 1994. (Ia mengatakan bahwa ayahnya selalu mendidik anak-anaknya dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata. Ia diajari untuk selalu teguh dalam keyakinan). Orang tua berpesan agar bekerja dengan semangat, selebihnya diserahkan kepada Allah. Jangan dendam sama orang.

Kenapa memutuskan masuk ke DPR? Ya karena saat itu masa reformasi. Partai-partai dibuka. Kita ingin memberikan advokasi rakyat jelata. Kalau lawyer sekarang "mengoceh" seperti apa dimuat sama koran, kalau dulu diuber-uber tentara. Enggak ada yang peduli sama kamu. Setelah itu reformasi partai politik terbuka, banyak yang mengajak. Itu ceritanya panjang. Mantan kepala SMA saya yang mengajak masuk Golkar. Karena saya dianggap sebagai muridnya yang mandiri dan sukses, sudah jadi lawyer. (Ia menirukan ucapan kepala sekolahnya, "Bantu bapaklah kalau menang kau wakil ketua DPD 1"). Saat itu saya berusia 30-an tahun, tapi sudah kantor sendiri.

Banyak yang membantu saya. Saya punya teman-teman aktivis 1998, semua bergerak. Saat itu ada yang bilang, "Kenapa masuk ke Golkar. Golkar itu bau tahi, orang mau keluar kamu mau masuk. Mau apa kau di sana?"

Tapi saya tak percaya, apa benar Golkar roboh sampai tingkat bawah. Dengan perhitungan politik saya masuk pada Oktober 1998. Di daerah saya, Golkar rontok dari tujuh kursi menjadi dua kursi. Yaitu satu orang lama, dan kedua saya menang mewakili kabupaten.

Tapi kenapa tidak betah di DPR? Saya ingin mengatakan anggota DPR masa paling happy itu ya periode 1999-2004, semua orang masih clear, pikiran masih jernih, kita merasa sebagai reformis. Kita yang bikin UU KPK lahir, UU HAM berat, UU Pencucian Uang, dan UU MK. (Pada Pemilu 2004, ia termasuk yang lolos kembali ke periode berikutnya). Saya masuk lagi dengan suara terbanyak, tidak ada lawan. Tapi suasana politik mulai tidak enak baik internal partai maupun DPR. Sistem politik kita mulai tidak benar. Rekrutmen tidak bener, artis mulai masuk, maaf ya.

Itu yang memicu bapak keluar? Tekanan politik yang tidak baik lagi, pikiran waras yang seharus dituangkan, kembali lagi ke masa lalu partai. (Suasana sudah menjadi korup?) Di zaman itu belum begitu banyak. Tapi terhadap pemikiran reformasi itu, Anda sudah tidak bisa mengembangkan lagi. Kalau saya tidak bisa melawan, saya mengalah makanya saya hijrah. Saya bukan memuji diri sendiri, tapi saya termasuk orang konsisten dari dulu. Saya memilih hukum yaitu sebagai lawyer, saya tidak memilih fungsi lain, selain hukum. Kemudian saya sama Pak Mahfud masuk ke MK.

Karier Anda sudah selevel presiden, apa lagi yang sebetulnya belum Anda raih? Tidak ada, saya mengalir saja. Artinya, falsafah berjalannya ya sampai di batas: di mana batasmu kamu harus sampai. Dalam perjalananmu itu kamu mengisi. Kita ini ibarat sekrup kecil dari sebuah bingkai besar. Saya bersyukur. Soal siapa menjadi apa itu sama Allah.

Di umur 54 tahun Anda masih kelihatan bugar? Saya enggak ada penyakit. Saya kemarin mau diajak Pak Erry Riyana Hardjapamekas (mantan wakil ketua KPK) ke Gunung Kinabalu (Sabah), saya enggak ikut. Hobi saya ke alam terbuka. Dulu saya Karateka, Dan 1, tapi saya berhenti makanya badan melar nih. Sekarang saya jogging di taman. Kalau kurang di treadmill.

Apa kesukaan film Anda? Detektif. Haduh saya enggak pernah terpikat judul, tapi jenisnya saya suka. Kalau detektif itu mengajak berpikir. Terakhir di bioskop saya nonton film, Habibie-Ainun bersama keluarga. Saya jarang di bioskop. Di TV HBO banyak sekali.

Punya idola sejak muda? Saya suka film Nagabonar jilid 1. Di situ Deddy Mizwar bagus sekali. Tapi, saya kagum sama Jenderal Besar Sudirman. Pemikirannya luar biasa jadi doktrin TNI sampai sekarang. Luar biasanya, dia enggak ada pangkatnya, dia kan guru.

Dulu idola wanita Anda seperti apa? Kalau zaman saya SMA itu kan pasangan Muchsin Alatas-Titiek Sandhora. Impian wanita ya kayak gitu. Kan mereka pasangan ideal saat itu, sampai bikin lagu Dunia Milik Berdua. Kita tahunya itu saja, kan informasi masih terbatas.

Akhirnya dapat yang sesuai dong? Soal jodoh itu saya percaya betul itu dari Tuhan. Saya pernah tunangan menentukan hari kawin, tapi batal enggak jadi.

Bagaimana kisah cinta Anda? Saya sering kali (jatuh cinta). Saya ini tipe orang yang banyak pacar. Masa kuliah jadi rebutan kaum perempuan.

Anda termasuk pria playboy, ya? Zaman-zaman itu memang menuntut seperti itu. Hehe.

Oh ya Pak, dari sekian Presiden Indonesia, siapa yang bapak kagumi? Saya termasuk orang yang tidak mengagumi presiden di Indonesia. Tapi kita harus mengagumi presiden kita dengan segala kekurangan dan kelebihan.

Terakhir, setelah pensiun apa yang ingin Anda lakukan? Saya mau mengabdikan ke kepentingan sosial dan agama, kalau ada waktu dan umur. Yang kedua, ya jadi petani itu. Punya kebun, enggak pusing. n Andi Sapto Nugroho

close
-

Kebotakan bisa disebabkan kadar protein prostaglandin di sel folikel rambut meningkat.

-

Akil pernah menekuni profesi pengacara dan berbisnis ikan arowana.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana