pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 03 Desember 2012 halaman 16
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Pak Raden Legenda Cerita Anak-anak
- | Senin, 03 Desember 2012
Anton Setiawan

"TAK ada pesta, tak ada makanan, tapi kami semua mau kumpul silaturahmi," tulis Prasodjo Chusnanto dalam pesan pendeknya yang diterima Jurnal Nasional, Rabu (28/11) lalu. Chusnanto mengabarkan bahwa Drs Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden dalam serial boneka "Si Unyil" berulang tahun ke-80.

Acara ulang tahun itu dirayakan secara sederhana di rumahnya, Jalan Petamburan 3 RT03/RW04 Nomor 27 Petamburan, Slipi, Jakarta Pusat. Chusnanto adalah penulis biografi Pak Raden. Dia juga yang mengurusi beberapa agenda Pak Raden, seperti acara donasi amal dan penjualan kaos untuk membantu kehidupan Pak Raden.

Drs Suyadi lahir di sebuah desa di Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur pada 28 November 1932. Ia dikenal di masyarakat sebagai seorang pendongeng bagi anak-anak. Tokoh boneka yang melegenda adalah "Si Unyil". Tokoh itu mulai muncul pertama kali pada kurun 1980-an di stasiun TVRI.

Kisah Pak Raden sempat membuat publik tak percaya bahwa karyanya tak lagi menjadi hak miliknya. Hak cipta “Si Unyil" diambil alih oleh Perum Produksi Film Negara (PFN). Makanya, ia meminta agar PFN mengembalikan hak cipta tersebut. “Saya tidak punya apa-apa sekarang. Dulu saya tidak memperhatikan soal ini, tapi sekarang, bertahun-tahun saya kerja, sama sekali saya tidak memetik hasilnya. Tapi orang lain dan senang pakai nama Si Unyil dan nama Pak Raden," ujar Suyadi kepada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.

Saat datang ke rumahnya, kondisinya sungguh memprihatinkan. Sosok yang terkenal dengan dunia anak-anak, tenar sejak bertahun-tahun tapi tak memiliki rumah. Sejak tahun 1980-an, tiga kali pindah rumah kontrakan. Rumah terakhir ini adalah milik kakaknya. Kondisinya pun tak layak untuk sekelas Pak Raden; dari atap bocor, sirkulasi udara buruk, berada di gang sempit, sampai rekaman kaset “Si Unyil" dan buku-buku koleksinya yang tak terurus.

Bahkan, rekaman kaset “Si Unyil" sudah banyak yang rusak karena tak memiliki ruang penyimpanan ber-AC. Beberapa lukisan kesayangannya pun masih terpajang, sebagian juga sudah terjual untuk menyambung hidup. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melukis. Memang beberapa anak buahnya, yang sudah ikut sejak 1980-an, membantu membuat boneka dari tokoh yang diambil dari serial “Si Unyil".

Dari hasil itu, baru ia bisa membeli beras, sayur, peralatan lukis, dan berobat ke dokter. “Sudah sejak dua tahunan ini Pak Raden sulit jalan," kata Nanang, yang sehari-hari mengurusi Pak Raden. Jalannya agak merayap dengan bantuan tongkat. “Kata dokter, dengkulnya sudah keropos," ujar Nanang.

Meski badannya tambun, kata Nanang, memori otaknya masih kuat. “Selain dengkulnya, semuanya dalam kondisi sehat: jantung, matanya juga sehat. Dia enggak pakai kacamata," kata Maman, anak buah Pak Raden yang sehari-hari membuat boneka.

Setiap hari ia ditemani Nanang, Maman, dan Fain. Nanang bertugas menyiapkan makan, memasak, atau mengurus hal lain yang menjadi kebutuhan Pak Raden. Sementara Maman dan Fain membuat boneka dan properti syuting serial Unyil di stasiun TV Trans 7.

Di usia yang senja Pak Raden berharap ia bisa menikmati hasil karyanya. Ia ingin “anak kandungnya" itu kembali ke pangkuannya. “Memang saya pernah menyerahkan ke PFN karena sesuatu hal pada akhir 1995. Dan perjanjian itu cuma berlaku 5 tahun, harusnya sekarang sudah kembali," katanya. “Tapi sekarang digunakan untuk apa saja yang mendatangkan uang, dan saya tidak punya apa-apa (sekarang). Itu persoalannya, pokoknya hak cipta kembali ke saya."

Ia juga sedang memperjuangkan hak cipta ke Direktotrat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM. “Jadi saya ingin hak saya dikembalikan kepada saya. Jadi saya bisa cari makan dengan kreasi karya saya itu." “Kan yang memanfaatkan itu orang lain semua. Ada televisi, sebuah studio animasi di Batam, untuk iklan, dan lain-lain. Saya ingin supaya hak cipta ke saya, sehingga saya pun bisa menikmati (hasil karyanya)."

Suyadi menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa ITB Bandung (1952-1960) lalu meneruskan belajar animasi di Prancis (1961-1963). Sejak masih menjadi mahasiswa Suyadi sudah mencipta sejumlah karya berupa buku cerita anak bergambar dan film pendek animasi.

Keistimewaan Suyadi tidak hanya membuat ilustrasi, tapi juga mempunyai kemampuan menulis ceritanya sendiri. Bahkan di usia senjanya kini, Suyadi tetap berkarya. “Tiap hari selalu orat-oret," tulis Prasodjo Chusnanto dalam situs www.pakraden.org.

Suyadi adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sampai sekarang ia membujang alias belum menikah. “Enggak punya anak gimana, lah enggak punya istri, enggak ada yang mau," katanya sembari tertawa.

Pada 1980 ia yang menciptakan boneka Unyil dan ditayangkan di TVRI setiap Minggu pagi. Serial ini pernah mencapai lebih dari 603 seri film boneka. Konsep cerita sendiri ditulis oleh Kurnain Suhardima, dengan rumah produksi Produksi Film Negara (PFN). “Saat itu, Pak Raden jadi pekerja tim kreatifnya," kata Chusnanto.

Bayaran Pak Raden pun sebatas pekerjaan biasa. Dari hasil di TVRI itu juga belum mampu untuk membeli rumah. Ia harus hidup kontrak dan pindah sebanyak tiga kali. Di rumah sekarang, ia menempati rumah milik kakaknya. “Saya orang yang kurang pandai mengatur (uang)," kata Suyadi kepada saya. “Saya seperti seniman zaman dulu, yang rezeki tak selalu ada tiap hari, kadang-kadang saja."

Sebagai pelukis, Suyadi lebih banyak melukis obyek manusia, dan kebanyakan berupa tarian Jawa dan karawitan, sosok Pak Raden, dan dunia anak. “Meski saya suka pemandangan saya tidak pernah melukis itu," katanya.

Lukisannya sering ditawar oleh teman-temannya. Tapi itu tak selalu laku, terakhir dia menjual lukisan seharga Rp500 ribu. Tapi lain waktu ia pernah menjual lukisan sebesar Rp12 juta. Bahkan, kurator Agus Dermawan memintanya untuk pameran tunggal pada Juni mendatang, tepat di Hari Anak.

Menurut Chusnanto, Suyadi adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh terhadap sejarah perkembangan awal animasi di Indonesia. Suyadi pernah mengajar seni akademik di seni ilustrasi di ITB, pengajar khusus animasi di IKJ Jakarta dan sebagai pembicara pada workshop dongeng dan animasi. Puluhan buku cerita anak hasil karyanya beredar sejak tahun 70-an, bahkan hingga sekarang. Sejumlah penghargaan di bidang perbukuan telah ia raih. Dan hingga tahun 2008 ia masih menghasilkan buku anak berjudul “Petruk Jadi Raja (2008)". Andi Sapto Nugroho

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana