pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 17 April 2012 halaman 16
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Mengenal Suku Laut, Penduduk Asli Melayu di Kepulauan Riau (Bagian 2)

Satu Nenek Moyang dengan Orang Rimba
Tanjung Pinang | Selasa, 17 April 2012

HUNIAN Suku Laut di Tanjung Berakit terkenal kaya akan beragam tangkapan laut terutama jenis ikan. Di bawah teras rumah mereka yang menjorok ke laut, sering terlihat ikan-ikan tongkol bergerombol. Itu sebabnya para pejabat teras bahkan Bupati Bintan sering memancing di permukiman Suku Laut.

"Karena sering memancing di sini, Pak Bupati tahu persis kekurangan-kekurangan kami. Umpamanya masalah air bersih, karena kami harus mencari air bersih jauh dari sini," kata Pak Boncet, salah satu tokoh suku Laut di Tanjung Berakit.

Air payau yang diperoleh dari sumur-sumur di desa mereka, tak layak dikonsumsi sebagai air mandi, masak dan mencuci pakaian. Menurut Ny Veronica (59), istri Pak Boncet, air payau hanya membuat kuning warna pakaian yang dicuci. "Tak layaklah buat mencuci pakaian apalagi buat menanak nasi atau untuk air minum. Anak-anak mudalah yang selama ini mengambil air bersih jauh-jauh dari desa kami ini," katanya.

Pihak Pemerintah Kabupaten Bintan (Pemkab) Bintan, sebagaimana dijelaskan Pak Boncet, sudah berjanji akan memasang satu tangki air berkapasitas ratusan liter untuk setiap empat-lima rumah warga. "Pak Bupati sendiri sudah bilang ke saya, jadi kami tinggal menunggu saja," ujar Pak Boncet.

Tingginya perhatian pihak Pemkab Bintang kepada kalangan Suku Laut Tanjung Berakit, tak lain pula sebagai dampak dari aksi demo yang dilakukan kalangan tersebut, 24 September 2011 di Kantor Gubernur Kepri.

Ketika itu, lebih 20 tokoh Suku Laut Tanjung Berakit menuntut pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri agar jangan menelantarkan keberadaan mereka. Pihak Pemprov Kepri juga didesak menghentikan merajalelanya penambangan bauksit baik legal maupun ilegal, yang mengancam mata pencarian mereka di laut akibat limbah kimia bauksit.

Suku Laut Tanjung Berakit, karena menghindari limbah bauksit, lebih memilih melaut hingga ke tapal batas Malaysia. Namun, menurut Pak Boncet, nelayan-nelayan Suku Laut tahu etika sekaligus menjaga keselamatan nyawa mereka. Karena itu mereka kerap menghindar untuk mencari tangkapan laut hingga menembus wilayah Malaysia. "Kami tahu bataslah," katanya.

Sebaliknya, kapal-kapal ikan berbendera Malaysia, kerap mendulang tangkapan laut di wilayah Indonesia. Nelayan-nelayan Malaysia itu juga selama ini tak pernah terlibat masalah serius jika di laut bertemu dengan perahu-perahu Suku Laut. "Kecuali ada badai sehingga kami sering kehilangan arah dan terdampar sampai Malaysia," ujar Pak Boncet.

Karena dekatnya jarak antara Johor, Malaysia dan Tanjung Berakit, maka sekitar 300 meter dari permukiman Suku Laut, berdiri Pelabuhan Internasional Tanjung Berakit. Pelabuhan yang dijadwalkan beroperasi pada Juli 2012 ini, dibangun oleh pihak Pemprov Kepri untuk meningkatkan perdagangan antara Malaysia dan Indonesia karena jarak perjalanan laut Johor-Tanjung Berakit hanya satu setengah jam.

Di kawasan ini terdapat pula markas pangkalan TNI AL di salah satu ruas pantai. Di hadapan markas tersebut terlihat tiga unit kapal ikan besar milik Malaysia yang dalam proses penahanan karena menangkap ikan di kawasan perairan Indonesia.

Suku Laut, menurut Pak Boncet, merupakan penduduk asli Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan penuturan leluhurnya, Suku Laut awalnya tinggal di pedalaman Jambi. Di zaman Kolonial Belanda, orang-orang pedalaman berusaha diadu domba pihak penjajah sehingga sesama suku terancam berperang.

"Karena kami cinta damai, leluhur kami memisahkan diri dari saudara-saudara yang lain, dan memilih menghindari dengan cara hidup di laut. Nah, saudara-saudara kami yang tetap menetap di pedalaman Jambi itulah yang sekarang dinamakan Orang Rimba," kata Pak Boncet.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana