pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 16 April 2012 halaman 16
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Mengenal Suku Laut, Penduduk Asli Melayu di Kepulauan Riau (Bagian 1) :
Hidup di Perahu dan Berpindah-pindah
Tanjung Pinang | Senin, 16 April 2012

SUKU Laut, identik dengan orang-orang yang hidup di perahu bersama keluarga, dan kerap berpindah-pindah. Di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Suku asli Melayu ini, menyebar di sejumlah pesisir pantai di dua kota dan lima kabupaten di Kepri, yakni Kota Batam, Kota Tanjung Pinang yang juga Ibukota Kepri, dan lima kabupaten, yakni Bintan, Karimun, Lingga, dan Natuna.


Hingga beberapa dekade silam, pola hidup Suku Laut masih nomaden karena terus berpindah-pindah jika tangkapan laut di lokasi hunian mereka di kawasan pantai, sudah mulai berkurang. Perpindahan ini juga dilakukan ketika etnis tersebut merasa terusik dengan komunitas etnis lain atau kebijakan penguasa di suatu kawasan.

Seiring dengan terus berputarnya roda waktu, suku-suku ini mulai ‘merapat' dan menetap di pesisir pantai. Sejak akhir dekade 1960-an, Suku Laut juga mulai menganut agama samawi, tak lagi animisme. Agama yang dianut juga tak mayoritas muslim, melainkan juga Katolik dan Protestan.

Di sejumlah pulau di wilayah Kota Batam dan Kabupaten Bintan, terdapat komunitas-komunitas Suku Laut yang didominasi pemeluk Katolik dan Protestan. Di Pulau Bintan juga terdapat Suku Laut di Panglong, Desa Tanjung Berakit, Kabupaten Bintan, hampir 100 kepala keluarga (KK) suku ini didominasi penganut Katolik.

Orang-orang Suku Laut ini menganut Katolik karena pelayanan misionaris yang dilakukan sejumlah pastor. Kala itu, kalangan misionaris tersebut juga melakukan pelayanan terhadap para pengungsi Vietnam sejak masih berada di Pulau Natuna, Kabupaten Natuna, hingga direlokasi ke Pulau Galang, Kota Batam.

Di pesisir Bintan, juga terdapat banyak penganut Katolik di kalangan nelayan dari Suku Flores yang juga sudah ratusan silam bermukim di Bintan. Orang Katolik dari kalangan Suku Laut Tanjung Berakit pun sudah memakai nama-nama baptis Katolik. Sebutlah istri Pak Boncet, Kepala Suku Laut misalnya, memakai nama Veronica, yang diambil dari nama Santa Veronica, nama wanita suci Katolik.


Suku Laut Tanjung Berakit juga memiliki wibawa di antara sesama suku. Para sesepuhnya dikenal vokal, jika pemerintah setempat tak memperhatikan nasib mereka. Komunitas ini juga fenomenal karena kepala sukunya tercatat sebagai orang Suku Laut pertama di Kepri yang ‘naik ke darat', alias tinggal menetap di daratan.

Pak Boncet (63), kepala suku tersebut, juga terdaftar sebagai salah satu tokoh adat Ikatan Masyarakat Adat Indonesia, yang sering bolak-balik mengikuti seminar atau sarasehan adat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

"Dari seminar-seminar atau sarasehan-sarasehan baik yang sponsornya swasta atau pemerintah ini, banyak ilmu yang saya dapatkan, dan saya sosiakalisasikan kepada rekan-rekan sesama suku. Umpamanya, kita harus melakukan penangkapan ikan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan," katanya kepada Jurnal Nasional di kediamannya.


Sejumlah spesies laut, seperti penyu yang dilestarikan misalnya, dilarang untuk ditangkap, atau tidak melakukan penangkapan ikan menggunakan bom. Menurut Pak Boncet, menjaga kelestarian lingkungan akan menciptakan paduan kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Dalam menjaga harmonisasi itu, lanjutnya, semua Suku Laut di Riau dan Kepri baik Nasrani dan Islam, tetap mempertahankan adat-istiadat leluhur mereka.

"Bukannya kami tidak mempercayai Allah, tapi bagaimanapun, ada hal-hal yang harus kita pertahankan, dan juga tidak bisa kita lakukan, demi menjaga harmonisasi dengan alam," kata Pak Boncet yang notabene tak pernah mengenyam bangku pendidikan formal.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana