pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 09 Februari 2012 halaman 16
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Yang Berprestasi, yang Terabaikan
Kendari | Kamis, 09 Februari 2012

INGAR-BINGAR ASEAN Para Games VI yang digelar Solo, Jawa Tengah (Jateng), tahun lalu, memang tidak segegap-gempita seperti ajang ASEAN Games yang digelar di Palembang dan Jakarta beberapa pekan lebih awal.

Para atlet yang berhasil mengukir prestasi di ajang ASEAN Para Games juga kalah pamor dibandingkan rekan mereka yang berlaga di ajang ASEAN Games. Jika media massa dan publik mengelu-elukan para peraih medali di ASEAN Games, atlet di ASEAN Para Games diapresiasi ala kadarnya.

Kesimpulan itu tercermin dari nasib seorang atlet ASEAN Para Games asal Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), bernama Hajrah (20). Atlet tunanetra yang turun di nomor atletik sebagai pelari jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan meski berhasil meraih medali perunggu.

Kalah dari atlet Thailand dan Vietnam yang masing-masing meraih emas dan perak. Namun, yang perlu dicatat adalah Hajrah membawa nama Indonesia. Membela kehormatan Indonesia.

Tidak hanya jauh dari liputan media massa dan simbol-simbol apresiasi lainnya, dia juga ternyata menjadi korban dari perilaku tidak etis dari oknum yang seharusnya membela kepentingannya.

Hajrah bukan atlet sembarangan. Di tingkat ASEAN, dia berhasil meraih medali perak untuk nomor lari 400 meter kategori tunanetra. Di tingkat nasional, dia adalah penyabet lima medali emas di tiga cabang olahraga pada ajang Pekan Olahraga Penyandang Cacat Nasional (Porcanas)VIII di Samarinda, Kalimantan Timur, tahun 2008 lalu.

Wanita yang kini bermukim di Pulau Kabaena tersebut berhasil meraih emas untuk cabang lari di nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Dan masing-masing satu emas untuk cabang tolak peluru dan lempar cakram.

Dari prestasi yang diraihnya itu, Hajrah mengaku hanya memperoleh bonus dari Pemkab Bombana sebesar Rp750 ribu. Menurutnya, bonus yang diperolehnya sebesar Rp1,5 juta. Namun, oleh seorang oknum di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bombana dipotong hingga separuhnya.

Dari berbagai ketidakpedulian pemerintah ini, baik dari Pemkab Bombana maupun Pemprov Sultra, dia berencana hengkang ke daerah lain yang menjanjikan jaminan yang lebih baik bagi masa depannya.

"Sudah ada daerah yang menawarkan saya bergabung dan kemungkinan besar tawaran itu akan saya terima," ucap Hajrah di Kabaena, beberapa waktu lalu. Hajrah enggan membeberkan nama daerah yang menawarinya itu.

Yang jelas, tawaran itu lebih menjanjikan ketimbang yang diterima dari pemkab maupun pemprov. Dia menyadari betul bahwa sebagai atlet, masa berprestasi tidaklah panjang sehingga harus dimanfaatkan dengan baik.

Rencana hengkangnya Hajrah untuk membela Sultra seharusnya menjadi bahan renungan bagi pejabat di daerah ini untuk lebih memberikan apresiasi kepada para atletnya yang berprestasi. Tanpa diskriminasi.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana