pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 24 Februari 2012 halaman 15
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Pemprov Jatim Diminta Hentikan Ekspor Sapi
surabaya | Jum'at, 24 Februari 2012

Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Kota Surabaya mendatangi kantor Dinas Peternakan Jawa Timur mengeluhkan minimnya stok sapi sejak Jawa Timur melarang masuknya sapi impor. Gubernur Soekarwo diminta menghentikan penjualan sapi ke luar Jatim.

"Sebenarnya Jawa Timur memiliki stok sapi yang melimpah meskipun tanpa impor, tetapi mengalami kekurangan stok karena banyak sapi yang dijual ke luar Jatim, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan. Hal ini karena harganya relatif murah. Tapi akibatnya, warga Jatim sendiri kekurangan," kata Koordinator Rumah Potong Hewan Pegirian, Surabaya, Apriyadi di Surabaya, Kamis (23/2).

Pedagang mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur membatasi penjualan sapi ke luar Jatim, atau mencabut larangan impor. "Kami juga meminta pemerintah bertindak tegas menutup pusat penggemukan sapi, yang lebih memilih menjual sapinya ke luar Jatim," katanya.

Dua titik Rumah Potong Hewan (RPH) di Surabaya, kata dia, setiap harinya rata-rata memotong lebih dari 150 sapi. Namun, kini jumlahnya berkurang 50 persen menjadi 60-75 ekor. Hal itu jelas membuat penghasilan para pedagang juga menurun. Salah seorang pedagang dan pemotong sapi asal Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karangpilang, Surabaya, Syafii (30), mengatakan sejak empat bulan terakhir hanya memotong dua ekor atau bahkan tidak sama sekali setiap harinya. "Saat stok sapi stabil, saya bisa memotong 7-9 ekor dalam sehari," katanya.

Muthowif, salah satu koordinator aksi juga menambahkan tidak adanya regulasi itu membuat lebih banyak sapi dengan kualitas bagus malah dijual ke luar Jatim. Surabaya setiap harinya butuh 250 ekor sapi potong untuk suplai daging segar. "Biasanya kita dapat dari kawasan Timur, seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Jember. Tapi belakangan ini kita dapat kualitas sapi yang jelek. Dagingnya sedikit, tulangnya besar. Akibatnya para pedagang juga mengalami kerugian," kata dia.

Kondisi ini juga berdampak pada harga daging sapi yang kian melonjak. "Saat ini rata-rata harga daging sapi Rp65 ribu per kilogram. Itu harga tidak pernah turun sejak Lebaran kemarin," katanya.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim Soeparwoko Adisoemarto mengatakan akan segera menindaklanjuti usulan dari paguyuban pedagang sapi untuk disampaikan kepada Gubernur. Pihaknya memahami akan keluhan itu. Namun, saat ini di Jatim terdapat sekitar 65 ribu peternak yang menggantungkan hidup dari penjualan sapi. Karena itu, terkait usulan paguyuban pedagang sapi untuk membuka impor, Pemprov Jatim akan menolak. Ini karena, jika impor dilakukan akan mematikan ekonomi masyarakat peternak.

Dia mengatakan penjualan sapi keluar daerah tidak akan memengaruhi stok daging untuk konsumsi masyarakat Jatim. Tetapi jika masih ada kekhawatiran dari masyarakat pemerintah akan mengkaji ulang untuk membuat regulasi baru. n Witanto

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana