pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 05 Januari 2013 halaman 14
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Musim Hujan, Tangkapan Lobster Turun
Pacitan | Sabtu, 05 Januari 2013
Timur Arif Riyadi

DATANGNYA musim hujan rupanya tidak hanya memicu bencana alam. Di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) banjir akibat tingginya curah hujan membuat tangkapan udang lobster nelayan menyusut drastis.

"Turun sekitar 50 persen," kata salah satu nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Yanto, Jumat (4/1).

Jika pada musim kemarau lalu sekali melaut Yanto mampu menangkap 10-15 kilogram lobster, maka kini mereka perolehannya maksimal hanya 7 kilogram saja. Menurutnya, berkurangnya tangkapan itu diperkirakan karena lobster berpindah lokasi habitat hidup. Yakni memilih wilayah yang airnya lebih jernih.

Seperti diketahui, wilayah tangkapan lobster nelayan selama ini lebih banyak berada di dekat muara Sungai Grindulu. Sehingga ketika banjir datang, air di areal tersebut terkontaminasi endapan lumpur.

Turunnya jumlah tangkapan berimbas pada volume pengiriman ke luar kota. Pada kondisi normal, sepekan ada dua sampai tiga kali pengiriman dengan jumlah mencapai lebih dari tujuh kuintal. Tetapi kini hanya sekali saja. Itu pun tak lebih dari lima kuintal saja.

Keruhnya air laut di bagian muara dan tepian pantai sekitar Teluk Pacitan juga mendatangkan kesulitan tersendiri dalam upaya menjaga agar lobster tetap hidup. Padahal jika udang mati sebelum sempat dikirim dipastikan harganya akan jatuh. Untuk menyiasatinya, para pengepul terpaksa mencari air laut dari wilayah Pantai Srau di Kecamatan Pringkuku. "Air keruh akan mempercepat matinya udang lobster," ujar salah satu pekerja di lokasi pengepul, Wahyono.

Hasil tangkapan lobster di PPP Tamperan terdiri dari berbagai jenis. Seperti mutiara, batu, bambu, batik dan lainnya. Harganya pun bervariasi. Dari Rp150 ribu hingga Rp450 ribu per kilogram. Tergantung jenisnya.

Secara umum jumlah tangkapan lobster di wilayah perairan Kabupaten Pacitan terus mengalami penurunan. Data di Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) setempat mencatat pada tahun 2007, selama setahun jumlah tangkapan jenis udang yang berukuran cukup besar ini total mencapai 45,094 ton, setahun berikutnya berkurang hingga menjadi hanya 28,02 ton saja. Bahkan pada tahun 2009 produksi udang lobster menyusut menjadi 9,163 ton. Jumlah lebih rendah tercatat pada tahun lalu. Di mana jumlah tangkapan pada 2011 hanya 6,202 ton.

Tak hanya dihadapkan pada turunnya jumlah tangkapan. Musim banjir juga membuat para nelayan mengeluh. Jaring milik mereka cepat rusak. Selain tersangkut batu karang, salah satu jenis alat penangkap ikan ini mudah robek akibat tersangkut batang-batang pohon dan bambu yang terbawa banjir dari hilir. "Sudah lebih dua kali saya harus ganti jaring," ucap salah satu nelayan lainnya Suparni.

Hal itu tentu memberatkannya. Sebab harga jaring kini naik. Dari Rp500 ribu per set menjadi Rp700 ribu. Terlebih hasil tangkapan juga tidak selalu bagus. Bahkan terkadang nilainya tak sebanding dengan biaya operasional. n David Eka Kuncara

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana