pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 10 November 2011 halaman 14
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Penggunaan Energi di Indonesia Boros
Jakarta | Kamis, 10 November 2011
Luther Kembaren

BADAN Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menilai penggunaan energi di Indonesia masih boros. Kondisi ini menunjukkan terjadinya penurunan daya saing industri karena terjadi inefisiensi energi yang berdampak pada tingginya biaya produksi.

"Elastisitas energi di Indonesia masih tinggi, di atas angka 1. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan energi belum efisien, masih boros," kata Kepala BPH Migas Tubagus Haryono di Jakarta, Rabu (9/11).


Sebagai informasi, indeks yang biasa digunakan mengukur kebutuhan energi terhadap perkembangan ekonomi sebuah negara adalah elastisitas energi dan intensitas energi. Elastisitas energi merupakan pertumbuhan kebutuhan energi yang diperlukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi (GDP) tertentu. Angka elastisitas energi di bawah 1,0 dicapai apabila energi yang tersedia telah dimanfaatkan secara produktif.

Menurut sebuah riset, elastisitas energi di Indonesia adalah sebesar 1,84 . Artinya, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen, maka konsumsi energi Indonesia harus naik rata-rata 1,84 persen. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia enam persen, maka diperlukan tambahan penyediaan energi sebesar 11 persen.


Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN seperti Thailand angka elastisitasnya 1,16, Singapura 1,1. Di negara-negara maju elastisitas ekonomi berkisar antara 0,1 hingga 0,6 persen. Di Jerman bahkan pada kurun waktu 1998-2003 angka elastisitasnya -0,12 persen, artinya kenaikan perkonomian justru menurunkan kebutuhan akan energi.


Sedangkan intensitas energi adalah energi yang dibutuhkan untuk meningkatkan gross domestic product (GDP) atau produk domestik bruto. Semakin efisien suatu negara, maka intensitasnya akan semakin kecil. Intensitas energi Indonesia sebesar 482 TOE (ton-oil-equivalent) per US$1 juta. Artinya, untuk menghasilkan nilai tambah (GDP) US$1 juta, Indonesia membutuhkan energi 482 TOE. Sebagai perbandingan, intensitas energi Malaysia 439 TOE/juta US$ dan intensitas energi rata-rata negara maju yang tergabung dalam OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) hanya 164 TOE/juta US$.


Angka elastisitas dan intensitas energi yang relatif tinggi ini menunjukkan pemakaian energi di Indonesia termasuk tidak efisien atau boros. Ini mengindikasikan rendahnya daya saing industri di Indonesia karena terjadi inefisiensi energi yang berdampak pada tingginya biaya produksi. Dalam formulasi berbeda, energi di Indonesia masih banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak menghasilkan.

Beberapa waktu lalu, Tubagus Haryono menjelaskan, realisasi BBM bersubsidi dari Januari hingga 31Oktober 2011 telah mencapai 34.426.971 KL. Dibanding 2010, realisasi ini naik 8,74 persen.

Menurut Tubagus, terjadinya peningkatan konsumsi realisasi sampai Oktober 2011, antara lain disebabkan karena kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang signifikan. Berikut adalah realisasi BBM bersubsidi dari Januari-Oktober 2011 antara lain, jenis premium 21.022.582 KL, minyak tanah (kerosin) sebanyak 1.462.406 KL, dan minyak solar sebanyak 11.941.983 KL. Total sebanyakk 34.426.971 KL.

Bila dibandingkan dangan realisasi tahun 2010, premium mengalami kenaikan sebesar 10,74 persen, minyak tanah (kerosin) turun 27,23 persen dan minyak solar naik 11,97 persen. Sementara, bila dibandingkan dengan kuota APBNP 2011, premium mengalami kelebihan sekitar 3,87 persen, minyak tanah (kerosin) under (-5,63 persen), dan minyak solar over 2,44 persen. Widyasari

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana