pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 22 Januari 2013 halaman 13
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Prancis Rebut Kota Penting Mali
Bamako | Selasa, 22 Januari 2013
Anton Setiawan

PASUKAN Prancis dan Mali telah memasuki kota kunci di Mali tengah, Diabaly, Senin (21/1), tanpa perlawanan dari militan. Konvoi sekitar 30 kendaraan lapis baja yang membawa sedikitnya 200 tentara Prancis dan Mali bergerak memasuki kota, kata seorang wartawan AFP dengan tentara. Militan telah meninggalkan Kota Diabaly pada hari Jumat setelah diserang oleh pesawat-pesawat Prancis.

Juru bicara militer Prancis Kolonel Thierry Burkhard mengatakan sebelum pasukan darat memasuki Diabaly, militer Prancis melakukan serangan udara menggunakan jet dan helikopter tempur. Enam serangan udara dalam 24 jam itu mengincar kendaraan bersenjata milik pemberontak.

Selain menyerang Diabaly, pasukan Prancis juga disebar ke berbagai kota di wilayah utara seperti Markala, Niono, dan Mopti. Prancis memulai aksi militer di Mali lebih dari seminggu yang lalu untuk menumpas kelompok militan Islam yang menguasai bagian utara Mal, dan sejauh ini telah mengirim sekitar 2.000 tentara.

Pasukan Prancis mengklaim operasi militer ini telah mendapatkan kemajuan yang cukup berarti. Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan pada hari Minggu, tujuan militer Prancis di Mali adalah "penaklukan sepenuhnya" atas kelompok-kelompok militan yang diyakini memiliki kaitan dengan Al Qaeda. "Kami tidak akan menyisakan perlawanan apa pun. Kami tidak akan meninggalkan satu pun daerah untuk Al Qaeda," katanya kepada televisi Prancis.

Sementara itu, militan menegaskan mereka akan terus melakukan perlawanan, dan memperingatkan warga Mali yang tinggal di bawah kekuasaan Prancis untuk segera melarikan diri dari tempat tinggalnya itu. "Kami akan terus melakukan operasi militer untuk menghentikan pihak asing yang kini berada di wilayah Mali bagian utara. Kami memperingatkan warga untuk pergi dari wilayah yang dikuasai oleh tentara asing," bunyi pernyataan yang dikeluarkan kelompok militan di Mali.

Ancaman ini memaksa sejumlah negara menarik para diplomatnya di kawasan konflik karena khawatiran akan keselamatan mereka. Pemerintah Kanada, salah satunya, mengevakuasi seluruh staf diplomatik beserta keluarganya keluar dari Mali pada hari Senin.

Pemerintah Kanada juga menginstruksikan kepada setiap warga negaranya yang masih berada di Mali untuk segera meninggalkan negara itu. Kementerian Luar Negeri Kanada hari Senin, mengatakan, hanya beberapa staf yang tetap berada di Kedutaan Besar Kanada di Bamako. n BBC/AFP/Cininta

close
Washington

Rakyat yang menonton pelantikan Barack Obama tidak semeriah empat tahun lalu.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana