pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 03 Januari 2013 halaman 12
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Menelusuri Jejak Budaya Muna di Napabale
 | Kamis, 03 Januari 2013
Timur Arif Riyadi

Andi Syahrir (syahrir@jurnas.com)

SUASANA Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) meriah. Hal itu tak lain karena Pemda setempat menggelar festival Napabale. Festifal ini bernuansa seni dan kebudayaan pada 27-28 Desember lalu. Sesuai namanya, festival ini akan digelar di Pantai Napabale, yang merupakan kawasan wisata di daerah ini.

Pelaksana Teknis (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna Nursida Taeda mengungkapkan, festival ini dikemas dalam bentuk berbagai lomba seperti makanan khas ataupun pagelaran Kantola (musik tradisional Muna yang populer sejak abad ke-17 Masehi), dan Rambi (permainan musik yang menggguakan banyak peralatan musik dan telah dikenal sejak abad ke-16 Masehi).

“Semua kegiatan ini akan dipusatkan di Pantai Napabale. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan seni budaya Muna sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Indonesia,‘ kata Nursida di Raha, ibu kota Muna, belum lama ini.

Dijelaskan, Kantola merupakan kesenian berbalas pantun yang mirip dengan kebudayaan di kawasan tanah Melayu. Kantola menggunakan bahasa daerah Muna yang semuanya berisi kata-kata kiasan. Biasanya dilakukan antara laki-laki dan perempuan secara berkelompok.

Sedangkan Rambi atau dalam sebutan lokalnya disebut dengan Rambi Wuna, merupakan musik tradisional yang dimainkan ketika masyarakat Muna sedang bercocok tanam. Musik ini bertujuan semata untuk hiburan.

Sarat Sejarah

Pada abad ke-16, musik Rambi juga dipakai untuk penyebaran agama Islam. Konon, di masa pemerintahan Raja Muna XVI La Ode Husaini yang bergelar Omputo Sangia (1716-1767), karena senangnya akan musik, sang raja membarter rempah-rempah dari Muna dengan gong dari pedagang Pulau Jawa. Gong ini kemudian dipakai pada saat pingitan anak gadisnya Wa Ode Komomono Kamba.

Lokasi pelaksanaan festival juga memiliki catatan kesejarahan tersendiri. Bersebelahan dengan Pantai Napabale, terdapat sebuah danau air bernama Danau Napabale. Meski bernama danau, tapi airnya asin karena berhubungan langsung dengan air laut.

Danau ini terbentuk akibat masuknya air laut dari Selat Buton ke bebatuan bervegetasi berbentuk cawan yang ada di pantai. Pada saat air laut sedang surut, jalur tempat air laut masuk yang berbentuk terowongan sepanjang 30 meter dengan lebar sembilan meter itu dapat ditelusuri dengan menggunakan perahu kecil. Namun, apabila air laut sedang pasang, terowongan tersebut akan tertutup air sehingga tidak dapat dilewati.

Di wilayah danau, airnya sangat tenang. Para wisatawan yang berkunjung ke sana kerap memanfaatkannya untuk memancing. Ada juga yang hanya menggunakan perahu sewaan dan berkeliling sepanjang danau. Sewa perahu ini terbilang murah. Untuk ukuran kecil yang bisa menampung lima orang, cukup membayar Rp20 ribu per perahu yang digunakan hingga puas.

Sedangkan untuk perahu yang berukuran lebih besar, dengan daya muat hingga 10 orang, sewanya Rp50 ribu yang juga digunakan “unlimited‘.

Tempat Pingit Gadis

Catatan menarik lainnya, danau yang berjarak sekitar 15 kilometer (km) dari ibu kota kabupaten ini kerap menjadi tempat seremoni adat pemingitan gadis. Sebagai sebuah tempat eksotik, Danau Napabale tidak terlepas dari sejarah dan kisah-kisah. Itu kemudian berwujud menjadi bagian dari prilaku sosial masyarakat terutama adat istiadat. Salah satunya, danau ini menjadi tempat pelarungan sisa upacara adat pemingitan gadis.

Diyakini, sisa perlengkapan pemingitan gadis ini akan menentukan peruntungan sang gadis ke depan, apakah dia akan cepat menemukan jodoh ataupun lambat bahkan tidak ada sama sekali. Itu termasuk rezekinya di masa-masa mendatang.

Pertandanya, jika peralatan pemingitan yang dilarung itu langsung tenggelam maka perruntungan sang gadis tak begitu bagus, tapi jika melayang-layang dulu beberapa saat di permukaan air lalu tenggelam itu dianggap bagus.

Dijadikannya danau ini sebagai bagian dari upacara pemingitan gadis bisa saja karena kisah yang diyakini sebagian masyarakat setempat. Singkatnya, konon di abad ke-15, pernah ditemukan seorang gadis cantik yang terdampar di dalam terowongan tanpa diketahui asal usulnya.

Penemuan gadis tersebut kemudian dilaporkan kepada Raja Kerajaan Muna. Kecantikan dan keelokan paras gadis tersebut membuat raja terpesona dan jatuh hati. Oleh sang raja, gadis yang baru ditemukan itu kemudian didaulat sebagai permaisuri.

Ihwal danau tersebut dinamakan Napabale, bersumber kisah mulut ke mulut dari dua kata yang diadopsi dari dua bahasa. Yakni bahasa Buton dan Bugis. Napa dalam bahasa Buton diartikan dengan pelabuhan, sedangkan Bale dalam bahasa Bugis diartikan sebagai ikan. Jadi arti harfiahnya, Pelabuhan Ikan. Bisa dikata Napabale merupakan Pelabuhan ikan yang indah.

close
Jakarta

Nesia tak bisa membohongi dirinya. Sebenarnya, ia masih menaruh cinta kepada Arief, industriawan beken, pemimpin Mudhianto International Inc, itu.

Eksotisme Pantai dan Danau Napabale bertambah dengan cerita sejarah dan kisah legenda yang mengikutinya

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana