pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 28 September 2012 halaman 12
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Penyusutan Lahan Capai 50Ribu Hektare Pertahun
Banjarmasin | Jum'at, 28 September 2012

Diperkirakan setiap tahunnya terjadi penyusutan lahan pertanian antara 50 hektare hingga 60 ribu hektare. Kondisi penyusutan lahan ini terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan, sedangkan penyebab penyusutan lahan pertanian datang dari berbagai kepentingan.

"Kalau di Pulau Jawa, penyusutan lahan karena adanya pembangunan industri, pemukiman dan insfrastrutur. Akan tetapi di Sumatera dan Kalimantan disebabkan pembukaan eskpasi perkebunan kelapa sawit," ungkap Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, sesuai membuka Workshop Internasional tentang lahan rawa di Banjarmasin, Kamis (27/09).

Pemerintah sendiri dihadapkan pada masalah cukup pelik, dimana satu sisi, dengan laju pertumbuhan penduduk yang kini menempati posisi ke empat terbesar di dunia, membutuhkan ketersediaan dan cadangan pangan. Sementara dilain pihak, penyusutan lahan pertanian di Indonesia, dapat menjadi hambatan dalam pencapaian swasembada pangan.

Dia menegaskan, pemerintah bertekad membenahi dan memaksimalkan pemanfaatan lahan rawa, dengan luasan mencapai 33 juta hektare yang tersebar di 17 provinsi. Untuk saat ini luas lahan rawa potensial yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian seluas 10 juta hektare, dan untuk sekarang baru 5,25 juta hektare yang sudah eksisting sebagai lahan pertanian.

Untuk mengatasi alih fungsi lahan dan penyusutan lahan pertanian, Pemerintah Daerah diharapan segera membuat peraturan daerah, sebagai bentuk penyelamatan lahan pertanian, ujar Rusman Heriawan.

Luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 33,43 juta hektare yang setara dengan 20 persen luas daratannya. Sekitar 9,5 juta hektare dari luasan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif, dan diperkirakan baru lima juta hektare lahan rawa yang dibuka untuk lahan pertanian.

Selain hal tersebut, juga perlu diperhatikan bahwa sebagian besar dari lahan yang telah dibuka tersebut masih memiliki nilai produktivitas yang rendah. Rata-rata produksi padi di lahan rawa masih rendah yaitu berkisar 3-4 ton/hektare atau masih lebih rendah dari produksi yang didapatkan di lahan sawah irigasi di Pulau Jawa yang telah mencapai angka 8 - 9 ton/hektare.

Hal ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan lahan rawa untuk mendukung peningkatan produksi pangan masih sangat terbuka lebar dan membutuhkan teknologi yang tepat.

Rendahnya produktivitas lahan rawa disebabkan beberapa sifat lahan seperti tingkat kesuburan tanah yang rendah, periode genangan dan banjir yang sulit dikendalikan, Lahan tersebut sebagian besar hanya ditanami padi varietas lokal setahun sekali.

Telah banyak teknologi yang diciptakan dan dikembangkan persiapan lahan, pengelolaan air, penciptaan varietas adaptif, teknologi pemupukan berimbang spesifik lokasi serta konsep pengembangan pertanian terpadu telah diupayakan dan dilaksanakan.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana