pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 10 September 2012 halaman 12
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Menyulap Lahan Tandus Pantai Menjadi Kebun Sayur
Cilacap | Senin, 10 September 2012

Upaya cerdas ini bisa menjadi contoh penyelamatan lahan tandus di kawasan pantai. Bagaimana tidak. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, enam hektar lahan pantai tandus di Jetis Kabupaten Cilacap Jawa Tengah telah dipenuhi dengan berbagai tanaman sayur siap panen. Warga menanaminya dengan sayuran terong, cesin dan cabai keriting. Bukan dengan dana pemerintah, melainkan dengan uang dan niat pribadi.

Belum lagi pada musim-musim tertentu, warga juga mengembangkan tanaman buah seperti semangka dan melon. Perlahan namun pasti, hasil dari perkebunan tersebut mulai dilirik para wisatawan yang berkunjung ke pantai Jetis, sebagai oleh-oleh lokal yang wajib dibeli.

Kepala Dusun Mertangga Desa Jetis, Ahmad Suparyo menuturkan, bersama dengan dirinya, jumlah warga yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan ekonomi ini masih tergolong sedikit. Namun dari banyak keuntungan yang diperoleh melalui perkebunan sayur, telah menarik minat warga lain untuk ikut aktif merehabilitasi lahan yang masih tandus.

"Saat ini saya sedang panen terong. Harganya hanya Rp.5000 per kilo, tapi setiap hari saya bisa panen. Banyak juga wisatawan yang ingin membeli tapi dengan cara memetik sendiri. Ya semacam agrowisata lah," ujar Ahmad Suparyo, Minggu (09/09) kemarin.

Dibantu oleh anaknya, Suparyo hanya mampu menggarap setengah hektar lahan. Demikian juga dengan warga lainnya. Sebenarnya, masing-masing warga bisa mengembangkan upaya rehabilitasinya mengingat keberadaan lahan pantai tandus masih sangat lebar. Mereka khawatir, jika melebarkan lahan rehabilitasi, tanaman yang sudah siap panen menjadi tidak terurus.

Diakuinya, menghidupkan lahan tandus untuk kegiatan perkebunan tidaklah mudah. Struktur tanah yang ditanami dominan berpasir sehingga sangat mudah kehilangan air. Di samping itu, unsur hara di tanah permukaan cenderung mendekati nol alias tidak subur.

Mau tidak mau para penyelamat lahan harus melakukan komposisasi sebelum penanaman. Mereka menggunakan kotoran ayam yang dibeli dari peternakan seharga Rp 8.000 per karung atau setara dengan 50 kg.

Seorang warga yang juga turut merehabilitasi lahan tandus pantai, Rudiarto mengungkapkan, dirinya menggunakan 20 karung kotoran ayam untuk komposisasi lahan seluas setengah hektar. Sedangkan untuk penyiraman, Rudiarto membuat penampung air semi permanen di tengah lahan.

"Kotoran ayam itu dikubur di lubang yang akan digunakan. Itupun tidak bisa langsung menanam. Perlu dibiarkan sekitar dua bulan, sambil sesekali dilakukan penyiraman agar kotoran ayam menjadi tanah," kata Rudiarto.

Pemanfaatan kotoran ayam sebagai pupuk organik ini sebenarnya hanya coba-coba mengingat harganya yang lebih murah. Tapi ternyata membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Meski terpapar matahari dan suhu pantai yang panas, tanaman tersebut dapat tumbuh subur.

"Yang penting penyiraman harus rutin agar tidak layu. Walaupun panas, tapi wisatawan senang melihat daunnya yang hijau segar. Mereka masuk ke dalam kebun dan memetik sendiri sayuran yang siap panen," ujarnya.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana