pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 14 Mei 2012 halaman 12
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Jakarta Siapkan Perda Pengelolaan Sampah
 | Senin, 14 Mei 2012
Suci Dian Hayati
Jakarta Jurnal Nasional

MASTERPLAN pengelolaan sampah Jakarta yang terbaru akan segera diterbitkan. Dengan adanya dokumen tersebut, Jakarta akan punya acuan dalam pengelolaan sampah dan pembangunan infrastruktur kebersihan selama 20 tahun ke depan.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, sebelumnya Jakarta telah memiliki masterplan pengelolaan sampah yang berlaku sejak 1987 sampai 2005. Namun, acuan perencanaan tersebut kini dinilai tak layak lagi, terutama karena jumlah sampah yang dihasilkan Jakarta terus bertambah.

"Revisi masterplan dilakukan tahun 2005 dan berlaku hingga 2015. Rancangannya didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Western Java Environment Management Project (WJEMP-World Bank)," kata Fauzi di Jakarta, Sabtu (12/5) lalu.

Amanah UU

Dikatakan, pembuatan masterplan tersebut merupakan amanah Undang-Undang 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Permendagri 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah dan Permen PU No 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah.

"Ketiga peraturan tersebut mewajibkan Pemprov menindaklanjuti dengan mengeluarkan peraturan di tingkat daerah," katanya. Saat ini, dokumen tersebut telah diserahkan kepada Badan Legislasi Daerah untuk segera dibahas menjadi peraturan daerah (perda). Diharapkan, selesai sebelum akhir tahun ini.

Dalam rancangan sebelumnya, Pemprov DKI bekerja sama dengan para ahli teknologi dari Jepang, telah menyusun sejumlah langkah untuk membantu Jakarta dalam menangani masalah sampah. Antara lain: JICA mendorong Jakarta segera menerapkan teknologi pengelolaan sampah yang berteknologi tinggi, sekaligus ramah lingkungan, dan hemat energi untuk mengurangi residu yang dihasilkan pascapengelolaan sampah.

Menanggapi masukan tersebut, Pemprov DKI Jakarta membangun sejumlah fasilitas pengelolaan sampah berteknologi tinggi yang dikenal sebagai ITF (Intermediate Treatment Facility). Setidaknya, hingga akhir 2011, Jakarta telah memiliki tiga ITF: ITF Cakung Cilincing, ITF Marunda, dan ITF Sunter.

Selain menggunakan teknologi canggih, yakni Mechanical Biological Treatment (MBT), kelebihan ITF lainnya adalah memperkecil ketergantungan Jakarta atas TPA di Bantar Gerbang. "Adanya program ITF dapat memperkecil jumlah sampah yang dibawa ke TPA. Dengan begitu, biaya angkut sampah juga akan jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Residu yang dihasilkan juga jauh lebih sedikit," kata Kepala Dinas Kebersihan DKI, Eko Bharuna, Minggu (13/5).

Paradigma Baru

Program ini juga memberikan paradigma baru tentang pengelolaan sampah. Hasil akhir aktivitas manusia ini tidak saja dianggap sebagai barang buangan. Sebab, sebagian di antaranya masih punya nilai ekonomi. Misalnya, sebagai sumber kompos, bahan bakar energi gas, atau bahan baku industri. Bahkan Eko mengklain, dari proyek ITF bisa dihasilkan energi gas sebesar 445.699 MMBTU.

Terkait revisi masterplan pengelolaan sampah, Eko mengatakan, hal penting yang ingin dicapai melalui program ini adalah melakukan sinkronisasi dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2011-2030 yang tahun lalu baru saja ditetapkan. "Subtansi masterplan baru ini antara lain mengatur target pengurangan sampah, strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kebersihan, penyediaan sarana dan prasarana, peran serta masyarakat, kerja sama daerah/kemitraan, penggunaan teknologi ramah lingkungan, dan rencana pengembangan infrastruktur pengolahan sampah secara multisimpul atau desentralisasi di dalam kota," ujarnya.

Dalam penyusunan revisi masterplan kali ini, Dinas Kebersihan mendapat pendampingan dari para pakar, seperti: dari Tim Special Assistance for Project Formulation Jakarta Solid Waste Management (SAPROF) dari JBIC (Japan Bank International Cooperation). Kajian tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2008.

Konsultasi Publik juga telah dilakukan beberapa kali yang melibatkan unsur legislatif, Kementrian PU, Kemen LH, LSM Lingkungan, Pemerhati Lingkungan, dan pers. Salah satunya, diselenggarakannya Focus Grup Discussion (FGD) Seminar Nasional Persampahan di Universitas Indonesia, Juni, tahun lalu.

Hanggar Sampah

Sebelumnya, untuk menyelesaikan masalah sampah di Jakarta, Dinas Kebersihan DKI Jakarta--bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaaan Umum (Kemen PU)-- berencana membangun hanggar pengolahan sampah yang dilengkapi kontainer pres sampah di belakang Asrama Dinas Kebersihan, Jalan Bintaro Puspita, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Bintaro, Jakarta Selatan.

Dari pantauan Jurnal Nasional, ada delapan mesin kontainer pres sampah serta delapan kontainer sampah biasa di belakang Asrama Kebersihan Pesanggrahan. Sayangnya, delapan kontainer sampah tersebut memerlukan energi listrik yang tinggi untuk diaktifkan, yakni: 5.000 watt listrik untuk setiap unit kontainer.

Menurut sumber Jurnal Nasional, awalnya semua mesin kontainer pres sampah akan dibagi ke seluruh wilayah di Jakarta. Namun hal itu batal dilakukan karena setiap kontainer pres sampah tak bisa difungsikan, sebab membutuhkan 5.000 watt listrik. "Mesin kontainer pres itu harusnya disimpan di atas truk, seperti truk sampah biasa. Namun, mana mungkin ada truk punya arus listrik 5.000 watt," kata sumber tersebut saat ditemui di lokasi. n Abu Sahma Pane/ Suci Dian Hayati

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana