pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 20 Mei 2013 halaman 11
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Gaji Pelaut di Bawah Standar
Jakarta  | Senin, 20 Mei 2013
Wahyu Utomo

PERSOALAN gaji yang di bawah standar tak hanya melulu menjadi urusan buruh. Ternyata masih banyak pekerja transportasi yang gajinya di bawah standar. Bahkan di Indonesia banyak pelaut dan buruh transportasi yang gajinya di bawah upah minimum. "Upah buruh pelabuhan Indonesia terendah di dunia," kata Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) Hanafi Rustandi di Jakarta, kemarin.

Untuk itu, Hanafi mendesak pemerintah segera menetapkan standar upah pekerja sektor transportasi. "Kami perjuangkan agar upah pekerja transportasi di Indonesia minimal US$340, atau sekitar Rp3,4 juta sebulan," katanya seraya mengingatkan, upah sektoral harus lebih tinggi dibanding upah minimum buruh pabrik.

Ditambahkan, KPI telah beberapa kali menyerahkan draf upah sektor tarnsportasi ke pemerintah, tapi sampai sekarang tak digubris. "Upah buruh yang rendah akan menjadi bom waktu di kemudian hari," katanya menandaskan.

Sementara, terkait KPI, Hanafi Rustandi kembali terpilih sebagai Ketua ITF (International Transport Workers Federation) Regional Asia Pasifik periode 2013-2017. Hanafi terpilih secara aklamasi dalam Kongres ITF Asia Pasifik yang dihadiri 200 delegasi dari negera-negara Asia Pasifik pada 12-17 Mei 2013 di Hongkong.

Dengan terpilihnya kembali dalam kongres buruh internasional bergengsi itu, Hanafi yang juga Koordinator ITF di Indonesia, mendapat kepercayaan untuk kedua kalinya memimpin Federasi Pekerja Transportasi Internasional wilayah Asia Pasifik.

ITF yang berpusat di London, Inggris, mengoordinasikan sejumlah organisasi pekerja transportasi (darat, laut, dan udara) dari berbagai negara di dunia. Indonesia menjadi anggota ITF setelah beberapa serikat pekerja transportasi berafiliasi ke ITF. Antara lain Kesatuan Pelaut Indonesia, Serikat Pekerja JICT (SP Jakarta International Container Terminal), SP Terminal Peti Kemas Koja, SP Kereta Api, Ikatan Awak Cabin Garuda Indonesia (Ikagi), dan Serikat Buruh Pelabuhan.

Menurut Hanafi, fokus perjuangan ITF adalah meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan pekerja/buruh transportasi sesuai dengan ketentuan internasional. Selain itu, ITF secara rutin setiap tahun melancarkan aksi untuk menghilangkan penggunaan bendera kemudahan (Flag of Convenience/FOC) bagi kapal-kapal yang beroperasi di seluruh dunia.

Sasaran utama aksi itu adalah kapal-kapal yang tidak laik melaut (un-seaworthines). Akomodasi dan gaji awak kapal yang jauh di bawah standar hidup minimum, terjadi diskriminasi upah dan jabatan, serta melanggar hak-hak normatif pekerja lainnya.

"Aksi anti-kapal-kapal berbendera kemudahan itu digelar di seluruh pelabuhan internasional, termasuk Indonesia. Sehingga semua awak kapal mendapat perlindungan maksimal dan gaji sesuai standar internasional," katanya. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana