pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 25 Maret 2013 halaman 11
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Kuliah Gratis Bukan Mimpi Bagi Syifa Salma
Yogyakarta | Senin, 25 Maret 2013

BISA menjadi dokter dengan kuliah gratis bukanlah mimpi bagi Syifa Salma yang baru saja menyelesaikan skripsi pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Santri asal Madrasah Aliyah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah Surabaya yang lulus 2009 itu telah menikmati skema beasiswa yang diterima.

"Saya bisa kuliah gratis di UGM berkat program santri berprestasi dari Kementrian Agama. Di UGM ada sekitar 70-an mahasiswa yang juga ikut program serupa, di berbagai jurusan yang diminati," kata Syifa Salma kepada Jurnal Nasional.

Ia merasa bersyukur bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, sekaligus beraktifitas dalam kegiatan kampus termasuk aktif di forum halaqoh Quran di kampus UGM. Maklum, selain cemerlang dalam prestasi akademik, yang jadi syarat masuk Fakultas Kedokteran UGM, Syifa adalah seorang yang berasal dari keluarga penghafal Al Quran.

"Saya hafal Al Quran saat kelas 2 Madrasah Tsanawiyah. Alhamdulillah, dengan padatnya kuliah di kedokteran ini masih bisa menjaga hafalan. Modal hafal Al Quran itu membantu saya dalam proses belajar menjadi dokter," katanya.

Berdasarkan pengalaman belajarnya, Syifa menyebutkan ajaran Al Quran dan sains yang dipelajari membawa pada kecintaan dan ketertarikan untuk melakukan aneka penelitian. Ada keinginan kuat mempelajari fenomena kehidupan yang banyak termuat di Al Quran untuk diperdalam dalam kajian akademik. "Belajar ilmu Allah itu memberi pencerahan. Saya juga tertarik untuk mengikuti bagaimana seorang Ibnu Sina, yang memiliki disiplin ilmu yang dikuasi cukup banyak, juga ilmuan muslim yang lain," katanya.

Menurut mahasiswi kelahiran Kudus Jawa Tengah, 3 Juli 1990 ini, ia memiliki prinsip tak jadi mahasiswi yang hanya berorientasi pada kuliah semata, menjadi orang yang sedang-sedang saja tapi berupaya untuk menjadi yang terbaik. "Belajar menjadi dokter itu butuh proses disiplin belajar, saya bukan tipe mahasiswa yang kuliah pulang-kuliah pulang. Ada banyak aktivitas kemahasiswaan, penelitian yang digeluti. Alhamdulillah, nilai IPK saya juga masuk kategori cumlaude, sekarang saya sedang co-assisten sebelum bisa jadi dokter," katanya.

Syifa menuturkan, lingkungan keluarga memang cukup memberikan dukungan untuk meraih prestasi belajar. Ia anak ke-4 dari 7 bersaudara. Orang tuanya KH Abdul Bashir Muchtar, MA dan Hj Maskanah Zulfa pengelola Pondok Pesantren Al-Furqon Tulis Gondosari di Gebog Kudus Jawa Tengah merupakan keluarga penghafal Al Quran. "Orang tua mendorong anak-anaknya untuk memaksimalkan ilmu agama, jadi keluarga yang hafal Al Quran. Di pendidikan dokter ini, saya memilih bagaimana memaksimalkan basic science, belajar soal penyakit secara tuntas, setelah lulus saya harus mengabdi ke pondok pesantren selama tiga tahun untuk amalkan ilmu yang didapat," kata Syifa.

Samino, Kepala Sub Direktorat Kesejahteraan Mahasiswa UGM menjelaskan ada beberapa skema beasiswa yang bisa diakses oleh mahasiswa berprestasi. Kerja sama dengan Kementrian Agama terkait pembiayaan santri berprestasi sudah dilakukan sejak tahun 2007 silam. "Ada banyak skema beasiswa, UGM memang punya kebijakan membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi mahasiswa yang berprestasi,"katanya.

Pratikno, Rektor UGM menambahkan dalam pola penerimaan mahasiswa di 2013 ada skema kuliah gratis dan beasiswa dari berbagai sumber. Kini ada 160-an institusi yang bekerja sama dengan UGM untuk salurkan beasiswa. "Kami memang berupaya seluasnya membuka peluang bagi mereka yang berprestasi, lewat berbagai skema, untuk biaya sekarang kita sudah menghitung uang kuliah tunggal di tiap prodi. Intinya, kami menumbuhkan keberanian bagi mereka yang cerdas, dari golongan manapun agar berani mendaftar ke Gadjah Mada," katanya. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana