pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 12 Desember 2012 halaman 11
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Meski Terbatas Kami Terus Berkarya
Semarang | Rabu, 12 Desember 2012

Puluhan anak berkebutuhan khusus seusia sekolah dasar dengan berbagai aksesori riuh ramai di sekitar Gedung Wanita Jalan Sriwijaya Semarang, kemarin siang. Mereka tertawa riang sembari saling menunjukkan pakaian yang mereka kenakan. Ada yang memakai pakaian adat Jawa. Ada yang mengenakan kain lurik. Dan, anak perempuan ada yang berbusana laiknya sinden.

Di antara hiruk pikuk peserta yang memadati stan pameran karya penyandang disabilitas tingkat Jawa Tengah itu, dengan tekun, Ali Murtadlo--lelaki penyandang tunadaksa asal Kabupaten Jepara, mamahat kayu dengan tatahnya. Ali, saat Jurnal Nasional menyambangi sedang mengukir relief kayu bermotif kaligrafi Arab.

Sepelemparan batu dari tempat duduk Ali Murtadlo, sebanyak 20 orang penyandang tunanetra duduk di atas panggung sembari memainkan musik karawitan. Sejumlah instrumen gamelan seperti gong, gamelan, pelog, selendro dialunkan secara harmoni oleh grup karawitan Ngudiroso Bakti Candrasa di bawah naungan Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Chandrasa Surakarta tersebut.

Aneka kreasi yang dilakukan oleh orang berkebutuhan khusus itu digelar dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional ke-XX tingkat Provinsi Jawa Tengah. Para penyandang cacat itu baik tunadaksa, tunarungu, tunanetra, tunawicara dan sejenisnya menyuguhkan berbagai hasil karyanya.

Ali yang saat itu mengenakan topi hitam itu mengaku, meskipun kakinya cacat ia tidak lantas putus harapan, setiap hari ia mengukir kayu untuk dijadikan barang bernilai layak jual. Ia bersama 20 orang yang tergabung dalam Ikatan Tuna Daksa Jepara (ITDJ)memproduksi beragam barang kerajinan yang laik jula. Di antaranya ukiran bermotif relief, kaligrafi, kain tenun, monel, hiasan dinding, dan sebagainya. "Saya mulai belajar membuat karya ukir ini sejak SMP," ujar laki-laki yang juga berjualan alat-alat kesehatan ini.

Meskipun cacat, kata Ali, dirinya dan kawan-kawan akan terus berkarya. "Walaupun kami secara fisik terbatas, kami akan terus berkarya," ujar pria asal Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara ini.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang, Ciptono mengatakan, setiap anak sebenernya lahir luar biasa, dengan kemampuan yang berbeda-beda. "Tuhan tidak pernah gagal dalam menciptakan makhluknya, setiap anak punya keunikan masing-masing, asalkan mereka diberi kesempatan pasti bisa mengembangkan potensinya," ujarnya.

Dikatakan Ciptono, sudah banyak penyandang disabilitas yang justru menginspirasi banyak orang dengan keahlian yang dimiliki. "Orang-orang penyandang disabilitas itu justru lebih kompak dan harmonis dibandingkan dengan orang-orang yang dianggap normal," kata pria yang pernah di undang dalam acara Kick Andy ini. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Tengah Budi Wibowo menyatakan, jumlah penyandang disabilitas di Provinsi Jawa Tengah mencapai 239.859 jiwa.

Menurutnya, selama ini pemerintah provinsi sudah memberikan pelayanan pembinaan kepada anak penyandang cacat di Jawa Tengah. Kebijakan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 mewajibkan agar pemerintah daerah memberikan peluang yang sama kepada penyadang cacat agar bisa berkembang. "Pembinaan ini melalui sektor kelembangaan maupun kekeluargaan," ujar Budi.

Lebih lanjut, Budi menambahkan, pembinaan sektor kelembagaan lewat balai rehabilitasi dimaksudkan untuk mendidik mereka hingga anak penyandang cacat hidup mandiri. "Upaya lewat kekeluargaan dilakukan dengan cara bantuan ekonomi produktif," tandasnya. Heri C Santoso

close
Jakarta

Sawah Lunto memberlakukan perda selamatkan cagar budaya.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana