pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 13 Oktober 2012 halaman 11
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Bedah Kampung Dorong Kebersamaan
Pandeglang | Sabtu, 13 Oktober 2012
Luther Kembaren

PROGRAM Bedah Kampung yang digagas Kementerian Sosial bukan hanya program pembangunan fisik semata. Nilai-nilai kesetiakawanan sosial dan kebersamaan diharapakan terbangun di dalamnya.

Tujuan ini yang ingin dicapai Kementerian Sosial melalui program berwujud bedah rumah dan perbaikan saran dan prasarana lingkungan. Target Indonesia menjadi negara sejahtera di tahun 2025 diharapkan bisa dicapai tepat pada waktunya.

"Kami bukan hanya membangun rumah, tapi juga membangun kesetiakawanan sosial dan kebersamaan," kata Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri saat meninjau 167 rumah yang direhabilitisi karena dinilai tak layak huni di Pandeglang, Banten, Jumat (12/10).

Semangat kesetiakawanan ini dinilai mulai pudar di masyarakat. Perbedaan diperuncing hingga bisa menjadi benih-benih bencana sosial. Tercatat ada 143 titik rawan bencana sosial di Indonesia saat ini.

Untuk menanggulanginya serta mencegah terjadinya bencana sosial, salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan serta tolong-menolong.

Program bedah rumah ini menjadi salah satu upaya yang ditempuh Kementerian Sosial. Bantuan uang Rp10 juta dikucurkan untuk setiap rumah tak layak huni di 51 kota/kabupaten miskin di Indonesia.

"Uang Rp10 juta mungkin cukup untuk satu rumah atau bahkan lebih, silakan dipakai untuk kebaikan bersama," kata Salim.

Uang tersebut dipakai untuk membeli bahan bangunan. Di Pandeglang misalnya, rumah berdinding bambu disulap menjadi rumah dengan tembok bata. Sementara pekerjanya adalah warga sekitar yang bergotong royong. Ada juga peran dunia usaha yang membayar tukang untuk membangun rumah.

Salim Segaf berharap dengan peran serta semua pihak ini, semua bisa punya rasa saling memiliki. Tumbuh pemahaman antarkelompok.

"Misalnya ada masyarakat yang berbeda agama, nanti mereka ikut saling membangun rumah, gotong royong. Dengan begitu konflik antar-kelompok bisa dicegah karena telah tumbuh rasa saling memahami," katanya.

Dia mengatakan prihatin saat terjadi konflik komunal, rumah kerap menjadi sasaran pembakaran. Padahal rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Di dalamya tinggal orang-orang tak berdosa yang tidak mengerti masalah yang terjadi.

"Insya Allah tidak akan terjadi sesuatu jika mereka sudah saling mengenal, saling membangun dan saling memahami," katanya.

Peran dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi sosial masyarakat, hingga lembaga donor juga sangat dibutuhkan. Tercatat ada 2 hingga 3 juta rumah tak layak huni yang ada di Indonesia.

Jumlah ini jauh dari jumlah rumah yang bisa direhabilitasi Kementerian Sosial hanya jika mengandalkan dana yang dimilikinya. "Per tahun hanya 15 ribu rumah yang bisa kami rehabilitasi," katanya.

Pada 2013, dengan bantuan dunia usaha ditargetkan 100 ribu unit rumah bisa rehabilitasi. Berada di 1.000 titik sehingga di masing-masing titik dengan bantuan swasta ada 1.000 unit rumah yang bisa diperbaiki.

"Sekarang bagaimana kami mengangkat motivasi dunia usaha, LSM, dan lembaga donor baik lokal dan internasional untuk bersama-sama membangun kesejahteraan masyarakat," katanya.

Program Bedah Kampung diharapkan bisa menjadi upaya melekatkan kembali kesetiakawanan sosial dan mengembalikan jati diri bangsa sebagai bangsa yang saling tolong-menolong dan mempunyai jiwa gotong royong. n Suriyanto

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana