pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 10 Oktober 2012 halaman 11
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Biofungisida dari Limbah Kapuk
Pati | Rabu, 10 Oktober 2012

DUA siswi dari SMA PGRI 2 Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah berhasil menemukan senyawa biofungisida dari limbah kulit kapuk. Caranya lumayan sederhana. Cukup dengan terlebih dahulu menambahkan soda Q ke dalam abu kulit kapuk, limbah kapuk ini bisa diproses menjadi anti jamur pada tanaman sayur.

Keberadaan limbah kulit kapuk di wilayah sentra kapuk randu Kecamatan Kayen adalah yang terbesar di Indonesia. Dalam sebulan saja limbah kulit kapuk atau biasa disebut klothok oleh masyarakat setempat bisa mencapai 150 ton. Sebagian memang dimanfaatkan oleh perajin batu bata dan genting untuk proses pembakaran. Sedang sebagian lainnya terbuang percuma.

"Fenomena ini yang menginspirasi dua siswi kami yakni Apriliani Sofa Marwaningtyas dan Ika Puji Anggraini untuk melakukan penelitian ilmiah lebih mendalam. Hasilnya cukup gemilang sehingga mereka dipercaya mewakili Jawa Tengah dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di Jakarta beberapa waktu lalu," kata Kepala SMA PGRI 2 Kayen, Suroto.

Hasil temuan Apriliani dan Anggraini secara tidak langsung mampu menjawab kendala yang selama ini menghantui dunia ekspor sayuran khususnya cabai. "Kami prihatin cabai dari Indonesia sering di tolak di mancanegara karena masih mengandung fungisida dan pestisida kimia yang meski dicuci pun pengaruhnya tidak akan hilang," tutur Anggraini.

Menurut kedua siswi tersebut, pestisida kimia memicu karsiogenetik yang bila menumpuk di dalam tubuh dalam jangka waktu lama akan memicu pertumbuhan sel-sel kanker. Atas dasar kesehatan itulah mengapa produk sayuran Indonesia kerap ditolak oleh pasaran mancanegara.

Dalam penelitian mereka, senyawa biofungisida terbukti cukup ampuh membasmi pertumbuhan jamur parasit yang hidup pada batang dan akar tanaman sayur. Di sisi lain, biofungisida tersebut tidak menempel secara permanen karena mudah dihilangkan atau dilarutkan dengan media air.

Apriliani menambahkan biaya pembuatan biofungisida ini jauh lebih murah dibanding dengan harga fungisida atau pestisida kimia. Abu klothok sebagai bahan baku utama bisa dibeli dari perajin batu bata dan genting dengan harga Rp10.000 per karung besar. Sedangkan biaya pembuatannya hanya berkisar Rp15.000 saja.

"Rendemen (perbandingan) dari hasil penelitian kami menyimpulkan, dua kilogram abu klothok dapat menghasilkan setengah kilogram biofungisida. Jumlah tersebut bisa dimanfaatkan untuk penyemprotan seperempat hektar lahan pertanian tanaman sayur. Jadi jika dihitung, petani cukup menganggarkan biaya sekitar Rp25.000 untuk pembasmian jamur," ujar Apriliani.

Apalagi saat ini, produk biopestisida dan sejenisnya belum banyak beredar di pasaran. Kalaupun ada harga yang dikenakan masih sekitar Rp60.000 dan hanya efektif untuk penyemprotan lahan seluas seperempat hektar.

Perajin genting dan batu bata pun sangat diuntungkan oleh hasil penemuan tersebut. Pasalnya persediaan abu yang melebihi kapasitas masih tetap bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Sejauh kadar airnya masih mendekati nol persen, kandungan senyawa biofungisida di dalam abu tersebut tetap utuh dan layak digunakan untuk bahan baku. Steve Saputra

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana