pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 13 Maret 2013 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Bawang Merah Rp45.000 per Kg
Medan | Rabu, 13 Maret 2013

HARGA bawang merah dan bawang putih naik tajam dan mencatatkan harga kisaran Rp45 ribu per kilogram (kg) di sejumlah provinsi. Di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur, kenaikan harga bawang merah dan putih berdampak pada konsumen dan penjual makanan.

Pantauan Jurnal Nasional di sejumlah pasar tradisional di Medan, Sumatera Utara (Sumut), harga bawang merah mencapai Rp42 ribu per kilogram. Begitu juga harga jual bawang putih.

Kenaikan ini diketahui secara merata di sejumlah pasar tradisional, antara lain Pasar Baru, Jalan AR Hakim, Pasar Halat, Pasar Simpang Limun, Pasar Petisah, Pasar Peringgan, dan Pasar Pinang Baris. Selain itu, di sejumlah wilayah di Sumut, juga mengalami kenaikan harga yang hampir sama, seperti di Kisaran, Asahan, Pasar Kota Binjai, Pasar Horas, Pematang Siantar, dan Pasar Ambarita, Simalangun. Di wilayah ini, harga bawang merah dijual antara Rp37 ribu-Rp42 ribu per kg.

Dari wawancara Jurnal Nasional dengan sejumlah agen penampungan bawang merah disejumlah pasar tradisional di Medan, harga ini merupakan harga tertinggi selama 35 tahun terakhir.

Darmabela Sinaga, agen penampung bawang merah dan bawang putih di Pusat Pasar Medan, mengatakan selama ini harga jual bawang hanya berisar Rp18 ribu-Rp29 ribu per kg. Dan, itu masih tetap terjaga hingga puluhan tahun.

Dia menjelaskan salah satu penyebab kenaikan harga bawang di pasar tradisional karena langkanya bawang lokal akibat panen raya yang sudah lewat. Kebutuhan atau permintaan tinggi, tidak dibarengi dengan persediaan yang melimpah.  Untuk memenuhi permintaan, bawang merah dan bawang putih dijual dengan harga tinggi.

Menurut dia, bawang merah dan bawang putih diimpor darit Vietnam dan Filipina sehingga menyebabkan melonjaknya harga. Spekulan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil keuntungan tinggi.

"Kalau produk lokal ada sih, tapi sikit. Ini banyak dari Vietnam. Spekulan-spekulan itu ambil untung besar. Herannya, meski mahal, tetapi permintaan tetap tinggi, " kata Sinaga.

Hal yang sama juga disampaikan Agus Perdana Siagian, Analisis Produk Holtikultura dari Universitas Sisingamangaraja Sumut, melalui hubungan telephone, menyatakan bebasnya bawang impor masuk ke Sumut, menjadi salah penyebab kenaikan harga  tinggi. Ditambah lagi pengaturan harga yang tidak jelas dari pemangku kebijakan, membuat agen dan spekulan menetukan sendiri harga jualnya.

"Harusnya ada pengawasan dan pemantauan harga, di setiap pasar tradisional yang ada," katanya.

Dia juga menyebutkan, produk holtikultura impor ini, juga dapat dengan leluasa bebas masuk hingga ke lokasi pelosok desa di Sumut, tanpa ada kontrol dan pengawasan ketat.  Belum lagi soal pemeriksaan kualitas layak jual.

Di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) kenaikan harga bawan merah dan putih juga menimbulkan keluhan konsumen. "Kebutuhan kita bertambah. Karena jumlah bumbu masakan untuk makan para buruh yang memetik padi," terang Ngesti Setyorini, warga Kecamatan Pacitan, Selasa (12/3).  

Menurutnya, kenaikan harga bawang putih sebagai salah satu unsur dasar penyedap masakan terlalu memberatkan. Untuk tiap kilogram Ngesti harus menebus Rp45 ribu per kg. Naik Rp15 ribu dari harga awal yakni Rp30 ribu per kg. Jika bawang putih impor dipastikan harganya lebih mahal.   Selain bawang putih, harga bawang merah juga mengalami kenaikan. Dari Rp28 ribu per kg, naik Rp2.000 menjadi Rp30 ribu per kg. Sedangkan harga cabai rawit juga naik hampir 50 persen. Dari semula Rp22 ribu per kg menjadi Rp40 ribu per kg.  

Melonjaknya harga beberapa jenis bumbu tersebut kemudian terakumulasi menjadi biaya produksi setelah ditambah upah para buruh.

Sebagai gambaran, upah buruh per hari rata-rata sebesar Rp40 ribu. Nilai uang lebih besar akan dikeluarkan jika jumlah pekerja banyak. Padahal rata-rata untuk melakukan panen pada sebidang sawah, petani mempekerjakan 5-10 orang buruh. Karena itu Ngesti dan petani lainnya terpaksa mencari tambahan uang guna mencukupi kebutuhan saat panen. Dan, akan dikembalikan setelah menjual sebagian dari hasil panenannya.  

Hal senada juga disampaikan Nanik, warga lainnya. Sebelum kenaikan harga bawang putih, ongkos biaya panen, minus upah buruh, tak lebih dari Rp175 ribu. Tetapi kini bertambah menjadi Rp250 ribu. "Itu belum termasuk ongkos buruh 10 orang senilai Rp 400 ribu," katanya.

  Baik Ngesti maupun Nanik sepakat dan berharap pada pemerintah untuk turun tangan. Khususnya untuk mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok dipasaran. Sebab dampaknya luas.  

Mahalnya harga bawang putih diamini salah satu pedagang di Pasar Minulyo, Tini. Saat ini harga bawang jenis kating kini dihargai Rp50 Ribu per kg. Padahal sepekan kemarin harga jual baru dikisaran Rp32 ribu per kg.   Informasi yang diperolehnya dari distributor di Kabupaten Ponorogo kenaikan terjadi lantaran terbatasnya stok. "Katanya ada pembatasan impor gitu lho mas," tuturnya. Heri Surbakti/David

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana