pencarian berita:
Jurnal Nasional - Jum'at, 08 Maret 2013 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
PLN Klaim Hemat BBM
Minahasa | Jum'at, 08 Maret 2013
Luther Kembaren

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengklaim menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai pembangkit listrik hingga 44 persen pada tahun ini. PLN berhasil meminimalisasi penggunaan BBM setelah pemerintah menggalakkan pemakaian energi terbarukan seperti tenaga surya dan uap.

"Penggunaan BBM tahun ini turun 44 persen. Tahun depan juga kami berusaha menurunkannya lagi hingga 28 persen," kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji saat ikut meresmikan tujuh pembangkit listrik di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Kamis (7/3).
Dalam menjalankan stasiun pembangkit listrik, PLN memakai sistem dagang. Misalnya, dalam pemakain biodiesel dari kelapa sawit. Jika harga solar lebih tinggi dari biodiesel, maka secara otomatis PLN akan memakai biodiesel dari sawit. "Namun sebaliknya, jika solar lebih murah, maka PLN akan memakai BBM solar," ucapnya.

Menurut dia, PLN berhasil berhemat hingga Rp70 milliar per tahun dengan pemakaian Biodisel dari sawit. Dengan demikian, jika sumber energi lain memang lebih murah, PLN juga pelan-pelan akan meninggalkan pemakaian BBM.


Nur mengatakan pembangunan tujuh pembangkit listrik di Sulawesi tidak cukup jika tidak dibarengi pembangunan transmisi dan sistem distribusi ke rumah warga di desa dan kota. "Pembangkit saja tidak cukup, tapi perlu juga trasnmisi untuk mengalirkan listrik," katanya.


Dia mengatakan meminta bantuan setiap pemerintah daerah di Indonesia. Ada bagian pendistribusian listrik yang mesti melewati kawasan hutan. Maka itu, pemerintah daerah agar membangun jalan, membebaskan lahan, dan mempermudah perizinan.

"Saya minta tolong, untuk pemerintah daerah, bangun jalan. Tidak apa jalan itu masih tanah, yang penting di tepi jalan itu bisa kami pasang tiang-tiang beton penyalur listrik," katanya.

Peresmian Pembangkit Listrik

Tujuh stasiun pembangkit listrik yang diresmikan antara lain, PLTU Amurang (2x25 MW) di Tenga, Minahasa Selatan, PLTU Kendari Unit 2 (10 MW) di Soropia, Konawe, PLTP Lahendong IV (20 MW) Tomohon Selatan, Kota Tomohon, PLTMH Tomini II (2x1 MW) Kecamatan Tomini, Parigi Moutong. PLTS Miangas (85 kWp) Khusus Miangas, Talaud, PLTS Bunaken (335 kWp) Bunakaen, Kota Manado, dan PLTS Marampit (125 kWp) Nanusa, Talaud.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan sumber tenaga ketujuh stasiun pembangkit listrik tersebut berasal dari energi terbarukan semisal tenaga surya, batu bara, dan lainnya. "Jadi pelan-pelan kita tinggalkan ketergantungan pada BBM. God by BBM," ujarnya.

Menurut dia, kondisi ketenagalistrikan tumbuh rata-rata sembilan persen per tahun. Sedangkan jumlahnya saat ini mencapai 44 ribu MW untuk menyuplai seluruh Indonesia. Jumlah itu tidak bertambah sejak Indonesia merdeka. "Karena itu tahun ini kami tambah 4.000 MW lagi," ucapnya.


Dia mengatakan jika sumber daya alam Indonesia digali sungguh-sungguh, maka tidak perlu risau akan kekurangan listrik. Sebab Indonesia berlimpah pembangkit listrik dari kekayaan alam semisal, biotermal. "Indonesia banyak gunung api. Di situ ada magma, dari situ ada uap. Potensi biotermal untuk listrik bisa mencapai 30 ribu MW," tutur Jero.

Selain itu, potensi lainnya terdapat dari sungai dan danau dengan daya hingga 75 ribu MW. Energi surya mampu membangkitkan listrik hingga 50 ribu MW. "Jadi, biar pun minyak habis listrik tak akan padam. Ada banyak lagi yang bisa dijadikan sumber pembangkit listrik," ucapnya. Abu Pane

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana