pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 22 Desember 2012 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
64 Pengusaha Ajukan Izin Impor Daging dan Sapi
Jakarta  | Sabtu, 22 Desember 2012
Wahyu Utomo

DALAM upaya memenuhi pasokan daging terutama untuk kebutuhan industri di dalam negeri tahun 2013 mendatang, sebanyak 64 importir dari 92 importir yang mendapat rekomendasi telah resmi mengajukan izin persetujuan impor kepada Kementerian Perdagangan.

"Kami sudah menerima rekomendasi dari Kementerian Pertanian sebanyak 92 importir tersebut sampai saat ini, dari jumlah itu, 64 di antaranya sudah ajukan izin impor. Kami upayakan hari ini (21/12) seluruh proses administrasi ke 64 perusahaan akan diselesaikan sehubungan menjelang libur panjang ini," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Jumat (21/12).

Dengan demikian, maka tambahan pasokan daging dari importasi akan berjalan sekitar awal Januari 2013, sehingga kesepakatan kuota impor 80 ribu ton setara daging sudah bisa terpenuhi. Menurutnya perusahaan mengajukan perizinan untuk satu tahun, pihaknya pun akan memonitor jalannya importasi tersebut setiap semester.

Menanggapi harga daging yang masih mahal saat ini, Bayu mengatakan pada awal tahun depan pihaknya akan melakukan pemantauan pada 15 sampai 20 titik Rumah Potong Hewan (RPH) yang berada di sentra-sentra konsumsi di seluruh Indonesia untuk memastikan ketersediaan stok sapi. "Kami akan memonitor secara harian, karena kalau di RPH itu yang tersedia sapi, tetapi yang dibeli daging. Jadi, kami akan tahu persis berapa pasokan yang benar-benar tersedia," katanya menambahkan.

Menurut Bayu, sebenarnya stok sapi sudah ada lokasi-lokasi penggemukan (feedlot), hanya saja pengusaha butuh kepastian seberapa besar bisa memperoleh tambahan impor demi alasan keberlanjutan bisnis. Jika feedloter sudah dapat kepastian, maka tentu sudah bisa dikeluarkan stok lamanya untuk mengisi pasar.

"Dampak tersendatnya pasokan sapi dari daerah ke Jabodetabek, tentu harus ditelusuri faktor-faktor penyebabnya. Misalnya, kalau ada peternak yang tidak mau menjual sapinya untuk dipotong, tentu tidak bisa dipaksakan. Apalagi banyak di antara mereka yang menjadikan ternaknya sebagai tabungan bukan untuk bisnis," kata Bayu.

Selain itu, pihaknya pun akan melakukan penghitungan ulang konsumsi daging di dalam negeri, mengingat saat ini permintaan pasar juga semakin kompleks. Di antaranya lima jenis daging, potongan daging primer kualitas tinggi untuk steak, potongan sekunder untuk rawon, varian jenis iga, jeroan, daging untuk industri yang terbagi lagi untuk pasar tradisional, supermarket, hotel dan restoran, serta para pedagang kecil.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengimpor Daging Sapi Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring menyatakan, harga daging sapi di Indonesia sudah menembus US$10 per kilogram atau sekitar Rp100 ribu, padahal normalnya hanya Rp70 ribu. Menurut dia, konsumsi daging di Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Pergerakan kebutuhan daging sapi di Indonesia yang sangat dinamis saat ini harus diiringi dengan rencana swasembada yang matang dari pemerintah. Listya Pratiwi

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana