pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 23 Februari 2012 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Premanisme, Kuncinya di Penegakan Hukum
 | Kamis, 23 Februari 2012
Iman Syukri

SIAPA yang tidak tahu soal aksi premanisme di Jakarta. Aksi pengamanan ini cukup menggiurkan. Hampir semua tempat hiburan di ibukota dijaga oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan organisasi massa.

Tidak hanya tempat hiburan, para pihak yang terkait sengketa tanah biasanya menyewa sejumlah orang menjaga agar tanahnya tidak diserobot. Tak jarang terjadi bentrokan antara mereka. Belum lagi aksi para penagih hutang (debt collector) yang meresahkan.

Aksi premanisme memang bukan barang baru. Di belahan negara lainnya disebut beraneka ragam. Di Amerika Serikat mereka menyebut premanisme itu sebagai gengster dan mafia. Ada mafia Italia La Cosa Nostra, mafia Rusia, Yakuza Jepang, dan Triad dari China.

Premanisme berasal dari bahasa Belanda yaitu vrijman atau bahasa Inggris freeman yang artinya orang bebas, merdeka. Isme berarti aliran. Sementara kata preman adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.

Fenomena preman di Indonesia mulai berkembang pada tahun 1980-an saat ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Perkembangan dunia preman begitu pesat dan makin mengkhawatirkan ketika itu, sehingga pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan pembersihan preman yang dikenal dengan sebutan Petrus atau Penembakan Misterius.

Puluhan bahkan ratusan preman ditembak mati secara misterius, kemudian mayatnya sengaja dibuang begitu saja di jalan raya agar dilihat oleh warga. Meski melanggar HAM, namun kebijakan Petrus merupakan momok yang menakutkan bagi siapa saja. Cara itu menjadi shock therapy dan shock treatment sehingga mereka tak berani beraksi lagi.

Premanisme bukanlah sesuatu yang diciptakan. Ia tumbuh dengan sendirinya karena ada ruang yang terbuka untuk tumbuh dan berkembang. Faktor keterbatasan lapangan pekerjaan dan penegakan hukum yang lemah merupakan faktor utama aksi premanisme tumbuh subur.

Persaingan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan mendapatkan profesi resmi menjadikan banyak orang tersisih hingga tidak mempunyai pilihan lagi untuk mendapatkan penghasilan agar dapat bertahan hidup. Akibatnya kelompok masyarakat usia kerja mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, biasanya melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Preman sangat identik dengan dunia kriminal dan kekerasan karena memang kegiatan preman tidak lepas dari kedua hal tersebut.

Terkait kasus kekerasan dan premanisme, beberapa hari lalu, tokoh organisasi massa John Kei ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung pada 26 Januari 2012. Atas kasus itu, John ditangkap di sebuah hotel melati di kawasan Jakarta Pusat bersama artis ibukota Alba Fuad.

Polda Metro Jaya menelusuri 11 kasus kejahatan yang diduga melibatkan kelompok John Refra Kei alias John Kei pada tahun 2010. Catatan dugaan tindak kejahatan yang melibatkan kelompok John di antaranya yaitu perkelahian massal di diskotek Blowfish yang berlanjut hingga di persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selain John Kei yang asal Maluku, sejumlah nama juga dikenal dekat dengan dunia “pengamanan" tempat hiburan atau lahan, dan jasa penagihan hutang. Seperti Hercules, Thalib Makarim asal Flores, Bang Lulung asal Jakarta (Betawi), dan lain-lain.

Bentrokan antarpreman kerap terjadi karena perebutan lahan bisnis pengamanan. Apalagi bila penegakan hukum yang lemah, maka premanisme meningkat dan mengkhawatirkan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil sikap tegas menanggapi masalah premanisme. Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menyatakan presiden menegaskan tidak ada ruang terbuka bagi aksi premanisme untuk berkuasa di negeri ini. Presiden akan mengambil tindakan tegas dan serius untuk menangani tindakan yang meresahkan warga ini.

Penegakan hukum dalam aksi premanisme harus dilakukan seiring dengan menciptakan lapangan kerja. Karena sebagian besar dari aktivitas premanisme dipicu desakan ekonomi karena semakin tinggi biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan terbatasnya lapangan kerja.

Hanya ketegasan dan konsistensi aparat penegak hukum yang bisa memberantas kriminalisme di Jakarta. Kepolisian harus berada paling depan mengawal demokrasi dari ancaman premanisme. Kita juga memerlukan polisi-polisi yang berani memberantas premanisme atau mafia, seperti agen FBI Eliot Ness yang menangkap bos mafia Al Capone.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana