pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 01 Desember 2011 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Hatta Rajasa: Kuda Hitam 2014?
 | Kamis, 01 Desember 2011
Ahmad Nurullah

Satrio Wahono

Sosiolog dan Magister Filsafat UI

PERNIKAHAN putra kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edhie Baskhoro Yudhoyono (Ibas), dengan putri pertama Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa, Siti Rubi Aliya Rajasa (Aliya), berlalu sudah. Namun, efek politik pernikahan ini rasanya bakal panjang. Perbesanan kedua tokoh politik sebagai dampak pernikahan kedua insan berbahagia tersebut jelas akan mengubah peta persaingan pilpres 2014 nanti.

Tentu, sesudah tak mungkin lagi mencalonkan diri, SBY membutuhkan calon presiden berikut yang satu visi dengannya. Dan, jika figur itu tak bisa ditemukan di lingkaran Partai Demokrat (PD), tentu logis jika SBY mencari sosok itu dari lingkaran-dalamnya sendiri. Yaitu, dari lingkungan keluarga besarnya, yang salah satunya adalah Hatta Rajasa, sang besan.

Apalagi, Amien Rais dalam wawancaranya dengan Kompas TV sudah menyatakan bahwa PAN akan memajukan Hatta Rajasa sebagai calon presiden 2014. Artinya, Hatta Rajasa memiliki mesin politik yang siap menyambut ajakan kerja sama koalisi dengan PD untuk memenangi pilpres nanti. Juga, Hatta sudah menyeruak menjadi kuda hitam dalam persaingan menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Tiga Hukum Koalisi

Di sisi lain, tentu naif bagi Hatta atau siapa pun untuk berpandangan perbesanannya dengan SBY akan memberinya tiket pasti untuk kemenangan pilpres. Soalnya, dalam sebuah sistem politik presidensial rasa parlementer yang meniscayakan koalisi dalam perebutan kekuasaan, Hatta tak boleh melupakan tiga hukum umum koalisi yang harus dipatuhi setiap kandidat.

Pertama, setiap partai dan calon presiden harus berkoalisi dengan partai dan calon (baca: calon wakil presiden) lain yang punya perolehan kursi signifikan di DPR. Logikanya, koalisi diharapkan menjamin dukungan politik terhadap pembuatan kebijakan pemerintah yang digagas presiden dan wakil presiden berkuasa. Hukum ini memiliki dalil tambahan bahwa partai yang perolehan suaranya kecil harus rela memberikan porsi jabatan lebih besar bagi partai yang perolehan suaranya besar, kecuali jika calon partai bersuara kecil demikian populer hingga mampu meredupkan calon partai bersuara besar.

Dukungan semacam ini adalah suatu keniscayaan karena Pasal 20A UUD 1945 menyatakan, DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Juga, memiliki hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat serta sejumlah hak lain yang bisa digunakan untuk “mengganggu pemerintahan". Seturut hal ini jelaslah bahwa koalisi dengan calon (wakil presiden) nonpartai politik atau independen sebenarnya kurang prospektif. Sebab, calon tersebut tentu tidak akan mampu menggaet dukungan politik untuk mengamankan posisi presiden dan wakil presiden dari “goyangan" parlemen.

Kedua, partai dan calon sebisa mungkin harus mencari calon pendamping yang tinggi popularitas individualnya. Hukum kedua ini lebih penting daripada hukum pertama karena bisa membatalkan hukum pertama tersebut. Dengan kata lain, jika PAN berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD) dan PAN meraih suara pemilih lebih kecil, PAN dimungkinkan memajukan calonnya sebagai presiden (Hatta Rajasa) jika popularitas Hatta memang lebih besar daripada calon dari PD.

Ketiga, partai dan calon seyogianya berkoalisi dengan partai dan calon lain yang memiliki kedekatan ideologis dan platform. Artinya, jarak ideologis para peserta koalisi tidak boleh terlalu jauh. Dalam hal ini, PD sebenarnya memiliki jarak ideologis paling dekat dengan Partai Golkar karena keduanya sama-sama merupakan partai catch-all. Yakni, partai berideologi tengah yang nasionalis-inklusif, tidak memiliki hubungan dengan organisasi Islam, mengakomodasi aspirasi umat Islam, dan menolak formalisasi syariat dalam hukum negara.

Akan tetapi, PAN pun sebenarnya mulai bisa dikategorikan sebagai partai catch-all mengingat PAN sedang berusaha menjadi partai tengah yang berusaha melepaskan diri dari keterkaitan pada ormas Islam, Muhammadiyah. Maka itu, jarak ideologis PD dan PAN kian mendekat untuk memungkinkan keduanya memenuhi hukum ketiga ini.

Trah Sarwo Edhie

Berdasarkan ketiga hukum di atas, terlepas dari partai mana yang akan memperoleh suara lebih besar dalam Pemilu 2014, koalisi PD dan PAN yang kian mulus oleh pernikahan Ibas-Aliya potensial menjadi kekuatan besar di kancah pilpres nanti. Problemnya, jika Hatta Rajasa memang calon presiden dari koalisi ini, siapakah wakil presiden dari PD yang disiapkan untuk mendampingi Hatta sesuai hukum kedua koalisi?

Jawabannya, mungkin terletak pada fakta. Yakni, kuatnya trah Sarwo Edhie Wibowo dalam PD. Sarwo Edhie adalah Komandan RPKAD yang berperan besar sebagai tangan kanan Soeharto dalam membersihkan pemberontakan PKI 1965. Hanya saja, karena popularitasnya yang kian meroket, Soeharto kemudian pelan-pelan menyingkirkan Sarwo Edhie dari panggung kekuasaan.

Namun, seiring waktu, trah Sarwo Edhie ternyata mampu memasuki lingkaran elit politik Indonesia. Sebab, Ani Yudhoyono adalah putri Sarwo Edhie. Jadi, presiden SBY adalah menantu Sarwo Edhie. Selain itu, putra Sarwo Edhie, Pramono Edhie Wibowo kini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dengan kata lain, kandidat wakil presiden yang potensial mendampingi Hatta adalah salah satu perwakilan trah Sarwo Edhie.

Memang, SBY sempat secara bersayap mengucapkan keluarganya tidak akan mencalonkan diri menjadi presiden dalam 2014. Tapi, bukankah itu tidak menutup kemungkinan mencalonkan diri jadi wakil presiden? Atau, dicalonkan alih-alih mencalonkan?

Memajukan Ani Yudhoyono memiliki kelebihan. Yaitu, Ani sebagai calon perempuan akan mampu mengail suara pemilih perempuan yang bukan main banyaknya. Namun, memilih Pramono Edhie juga menguntungkan. Sebab, Pramono mewakili kalangan militer. Bagaimana pun, pasangan Hatta-perwakilan trah Sarwo Edhie minimal memenuhi pakem komposisi Jawa-non-Jawa di mana Hatta Rajasa melambangkan unsur non-Jawa dan wakil trah Sarwo Edhie unsur Jawa.

Meski begitu, duet Hatta Rajasa-perwakilan trah Sarwo Edhie ini masih sebatas kuda hitam karena peta persaingan pilpres nanti bakal sesak dengan nama-nama yang juga memiliki kekuatan khas masing-masing, seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, dan lain-lain. Lagi pula, masih ada waktu tiga tahun di mana banyak faktor X bisa memberikan kejutan. And fox wanders alone. n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana