pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 25 Oktober 2011 halaman 10
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Khadafi, Pers, dan Opini Publik Internasional
 | Selasa, 25 Oktober 2011
Ahmad Nurullah

Fathorrahman Hasbul

Peneliti Tetap di Pusat Studi Media, Informasi, dan Komunikasi, Yogyakarta

PEMIMPIN Libya, Moammar Khadafi, telah tewas. Penguasa yang unik dan memiliki integritas kuat di negeri Arab tersebut hanya menyisakan sejarah. Kematiannya menambah deret panjang para tokoh Arab yang mati dibunuh. Setidaknya, publik dunia, terutama Arab, harus berduka, karena Khadafi merupakan tokoh yang getol menentang Amerika Serikat. Pergulatan Khadafi menjadi sinyalemen kuat bahwa Libya selama ini jauh dari paradoks intervensi asing.

Khadafi merupakan representasi Arab. Gebrakannya selama memimpin Libya telah berhasil menciptakan proses kesejahteraan di Libya. Legitimasi berupa mempertahankan ekonomi domestik yang sering kali dilambangkan dengan kekuatan minyak, adalah bukti konkret bagaimana Khadapi selalu mempertahankan basis struktur kesejahteraan Libya daripada terhanyut oleh poros blok yang dalam skala jangka panjang akan sangat merugikan.

Kini, tinggal bagaimana kemudian Moammar Khadafi disikapi. Mungkin dominasi kuasa selam 42 tahun telah membuat rakyat resah, sekaligus membuat jengkel negara asing. Akan tetapi, gerak laju dalam memimpin Libya, sepatutnya disikapi secara jernih. Khadafi merupakan representasi kuasa Arab. Ia adalah sosok di mana kehormatan negaranya lebih menjadi prioritas daripada harus menadah pada negara asing.

Problem Opini Publik

Dalam poros kematian Khadafi, di samping tangan NATO, opini, adalah pemain kedua. Opini publik internasional telah digiring pada pola pemahaman searah bahwa kematian Khadafi adalah berkah. Dominasi kuasa yang cukup lama telah melambangkan Khadafi sebagai sosok puritanistik, otoriter, dan absolut. Opini publik menyiratkan kesatuan pemahaman dengan makna dasar “salah" dan harus dihukum. Klaim-klaim ini kemudian membias menjadi konstruksi yang berakibat fatal pada celah-celah bersih yang pernah dilakukan Khadafi. Pada titik tertentu, Khadafi kemudian diekspresikan dengan kegembiraan yang luar biasa.

Sinkretisme pemahaman yang satu arah, oleh publik internasional, merupakan modus baru dalam konteks “pelemahan" negara-negara Arab. Paradoks ini sengaja didukung oleh pernyataan Presiden Obama, “Kematian Khadafi bisa menjadi warning bagi negara Arab yang lain". Label-label semacam ini sangat berbahaya karena opini publik figur akan diamini oleh mayoritas publik. Opini figur memiliki sifat konstruksi, asertif, dan persuasif, sehingga makna dasar terkait kebenaran nyaris akan tenggelam oleh dominasi bahasa seorang figur.

Kita sangat sukar melihat Khadafi secara holistis. Sebab, formulasi opini berada pada satu batasan kebenaran samar. Opini publik pada tahap tertentu jelas akan menciptakan chaos. Karena logika opini publik berkiblat pada otoritas persepsi massa yang “tidak sadar".

Gerbner (1969) mencatat, iklim dalam opini publik menggambarkan massa dalam situasi yang tertekan. Tertekan yang mereka hadapi berasal dari pelbagai kekuatan figur internasional, dan lembaga internasional. NATO, menjadi salah satu lembaga yang jelas memberikan tekanan atas publik internasional. Kekuatan lembaga ini menjelma menjadi institusi yang “menyokong" atas ikhtiar keruntuhan negara-negara Arab. Kekuatan lembaga itu tak hanya menjelma sebagai pusat informasi dan keterbukaan terkait gegap gempitanya dunia Arab, tetapi sekaligus berpotensi sebagai “pengelak" kebenaran komunikasi hakiki.

Sehingga, publik internasional dihadapkan pada satu momentum kuasa informasi di mana dominasi klaim menjadi kenyataan yang tidak bisa ditepis. Konfrontasi keberhasilan perjuangan masyarakat Libya sendiri akhirnya nisbi. Yang ada adalah kemenangan bangsa asing. Sebab, pada dasarnya, format kerja kekuasaan selalu menguntungkan pemain di balik layar daripada yang berada di depan layar.

Tunstall (1971) memberikan satu corak dan pandangan terkait dominasi komunikasi internasional. Baginya, negara kuat yang menisbahkan diri sebagai negara kapital selalu memiliki etos “kompromi" atas dasar hasrat berkuasa. Asas semacam ini bercirikan “menggeser" negara-negara yang dianggap tidak sejalan, dan tidak bisa dikuasai. Libya adalah sederet negara yang masuk dalam kategori negara “nakal" versi negara maju.

Pers Internasional

Pada titik ini, selain dominasi asing, media internasional juga bisa dikategorikan sebagai akar masalah terkait pembentukan opini publik tentang kematian Khadafi. Model interaksi komunikasi yang sifatnya mass mediated communication (MMC) merupakan model yang paling diterima oleh publik internasional.

Shannon (1934) mengatakan, dalam pembentukan opini publik, jurnalis internasional paling mampu memberikan pengaruh daripada otoritas negara adikuasa. Dalam masalah Khadafi, media internasional acap kali tidak memiliki netralitas yang mumpuni. Mayoritas media di Amerika dan Eropa serta di beberapa negara maju lebih cenderung pada narasi “pemojokan" opini yang berlebihan. Khadafi selalu digambarkan sebagai “momok" menakutkan yang kematiannya bisa mendatangkan kegembiraan komunal.

Pembentukan opini publik yang masih jauh dari netralitas media massa setidaknya telah berimplikasi pada proses pelemahan negara Timur Tengah. Opini publik akan digiring pada satu wilayah “hitam" kepada negara di mana Khadafi lahir dan di mana dia menyebarkan tradisi bebas dari intervensi asing. Sehingga opini publik internasional akan menjadi buram, dan sulit menempatkan wacana itu secara komprehensif. Skala opini publik akan terjadi dengan masif. Tak hanya di belahan negara Amerika dan Eropa, tetapi juga di negara-negara Islam.

Khadafi akhirnya menjadi sejarah yang berakhir tidak sempurna. Ketidaksempurnaan ini bukan berangkat dari minimnya integritas sebagai orang nomor satu di Libya, melainkan atas opini publik internasional yang didukung oleh asing, sekaligus media internasional. Publik acap kali lebih tertarik melihat hasil dari pada proses kerja.

Sehingga, Libya kini hanya menyisakan sejarah yang diakhiri catatan hitam. Dengan kesimpulan internasional, bahwa sejarah Libya adalah sejarah otoriter dan diktator. Bukan sejarah mempertahankan tanah dan kekayaan pribumi. Ketika ini sudah menjadi plakat opini mayoritas publik di dunia, siapa yang diuntungkan, siapa dirugikan? n

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana