Jum'at, 16/11/2018 14:13 WIB

MCI Tuding Bisnis Gadget Makin Tidak Sehat

Fakta lain yang tak terbantahkan, konsumen sekarang ini tidak gampang kepincut atau dibodohi dengan retorika marketing

Magelang - Pasar gadget di Indonesia kian subur. Beragam merek gadget bermunculan, entah yang menyadang status produk lokal atau asing (luar). Di tengah sengitnya persaingan dan ketatnya penetrasi pasar gadget, sejumlah vendor pun kini terjebak dalam persaingan yang tidak sehat dan cenderung minus etika untuk merebut pasar di tengah situasi ekonomi nasional dan global yang sedang tak menentu.

"Saat ini sejumlah vendor terjebak untuk memasarkan dan menggaet konsumen agar membeli inovasi produknya dengan cara-cara negatif yaitu menyerang rival secara membabi-buta. Pasar gadget pun kini mengikuti hukum rimba, siapa kuat, dia yang memenangkan pasar karena tujuan akhir bagi mereka adalah barang terjual," kritik Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI),  Gendhotwukir.

Merapi Cultural Institute (MCI) adalah lembaga studi yang khusus menggeluti kajian dan penelitian literasi. Secara khusus MCI membumikan dan mengkontekstualisasikan Cultural Studies pada isu-isu konkret di masyarakat. MCI bernaung di Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) yang terletak di lereng Gunung Merapi di Magelang, Jawa Tengah.

Penelitian MCI  menemukan pasar gadget di awal-awal 2016 belum masif dengan persaingan head to head dengan eksplisit menyebutkan produk hasil inovasi vendor pesaing. Namun hari ini, sejumlah vendor berani terang-terangan menyebutkan produk pesaingnya untuk pembanding dan untuk selanjutnya dijatuhkan. Sebatas pembanding, tentu saja masih dianggap wajar dalam dunia bisnis. Namun, menghalalkan cara, itu lah yang tak terpuji.

"Fakta tak terbantahkan, sejumlah vendor, dalam hal ini sering diwakili direktur marketing dan level di bawahnya, plus konsultan komunikasinya, melakukan tindakan-tindakan tak terpuji dengan mengeluarkan statement-statement rivalitas secara negatif."

Penelitian asal Magelang ini menemukan sejumlah kosakata negatif yang akhir-akhir ini marak ditemukan dalam konteks persaingan yang tidak sehat dan cenderung dilandari ambisi untuk menyerang brand lain dengan cara-cara tidak terpuji untuk

merebut pasar. Kosakata negatif yang dipakai ini jelas dicomot begitu saja dari kosakata sarkasme di ranah persaingan politik ke dunia persaingan bisnis.

"Kata-kata yang cenderung berkonotasi negatif dalam konteks persaingan usaha seperti menelikung, melibas, perang, menjatuhkan, keok dengan menyebutkan brand lain makin marak. Ini bukan persoalan boleh tidak boleh, tetapi soal etika bisnis," terang peneliti yang pernah mendalami ilmu filsafat di Jerman ini.

Ia menjelaskan etika bisnis dan etik dalam berbisnis bukan saja wajar, tetapi perlu. Sayangnya, banyak pelaku bisnis kini terjebak pada bisnis amoral dengan memisahkan bisnis dan etika. Pebisnis menyamakan bisnis seperti judi atau permainan pada umumnya, dimana bisnis adalah bentuk persaingan yang mengutamakan keuntungan. Dalam prakteknya, permainan itu penuh persaingan. Aturan yang digunakannya pun berbeda dari aturan yang ada dalam kehidupan sosial pada umumnya.

"Dengan kata lain orang yang mematuhi aturan moral akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan di tengah persaingan yang menghalalkan segala cara. Namun faktanya, bisnis itu tidak sepenuhnya permainan atau judi. Dalam bisnis ada nilai manusiawi yang dipertaruhkan. Dengan demikian, mau tidak mau cara untuk memperoleh keuntungan atau untuk menang juga harus manusiawi," tegas peneliti yang menjadi salah satu pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) di lereng Gunung Merapi ini.

Gendhot menambahkan, bisnis yang berhasil juga sebagian besar diukur berdasarkan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, termasuk norma dan nilai etis. Gencar menyerang rival dengan kata-kata negatif akan mudah diingat konsumen, apalagi konsumen dari hari ke hari juga makin cerdas. Kebiasaan menyerang menandakan inferioritas kualitas diri dan produk yang dipasarkan.

Fakta lain yang tak terbantahkan, konsumen sekarang ini tidak gampang kepincut atau dibodohi dengan retorika marketing yang cenderung bombastis. Di tengah maraknya keseragaman pemberitaan secara bombastis yang didesain sedemikian rupa, ada celah untuk mengetahui kualitas yaitu menyimak satu atau dua pemberitaan yang cenderung menyimpang dari skenario besar (grand desain) yang dirancang tim marketing. Dengan kata lain, keseragaman itu perlu dicurigai sebagai dangkalnya kekritisan.

Sayangnya, ada saja masyarakat yang termakan rayuan kata-kata bombastis dan retoris. Dalam konteks ini pebisnis berhasil, konsumen lah akhirnya yang dirugikan oleh skenario pebisnis. Namun sayangnya setelah itu, vendor tidak akan dipercaya dan lambat laun akan tenggelam.

"Pebisnis yang mau bersaing dengan tetap memperhatikan norma-norma etis pada iklim bisnis yang semakin profesional justru akan menang karena tetap dipercaya masyarakat," tegas pria yang kini intensif menggeluti cultural studies.

Ia mengatakan, keuntungan memang perlu, tetapi keuntungan yang sesungguhnya itu hanya bisa diperoleh kalau cara-cara yang digunakan itu etis dan kebaikan masyarakat secara keseluruhan diperhatikan melalui penawaran mutu barang yang baik.

TAGS : Bisnis Gadget MCI Merapi Cultural Institute




TERPOPULER :