Senin, 09/12/2019 16:58 WIB

Mitos dan Fakta Pemanis Rendah Kalori

Informasi mengenai diabetes dan pola makan sehat masih belum banyak didapat secara utuh oleh masyarakat. 
 

Ilustrasi Gula (foto: The Nation)

Jakarta, Jurnas.com - Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penyandang diabetes telah naik menjadi 8,5 persen dari 6,9% (Riskesdas 2013).

Selain itu, menurut data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017, sebanyak 10,3 juta jiwa masyarakat Indonesia merupakan diabetesi, membuat Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi terbesar.

Beredarnya informasi hoaks kesehatan di masyarakat, termasuk tentang diabetes, tentunya dapat memperburuk kondisi yang ada.

Kepala Divisi Metabolik-Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr. Dante Saksono, SpPD-KEMD, PhD menambahkan salah satu informasi yang sering keliru di masyarakat adalah terkait pemanis rendah kalori.

"Nyatanya, pemanis rendah kalori sebagai pengganti gula pasir sudah lazim dipakai sebagai alternatif penggganti gula, serta mendapatkan izin edar dari BPOM, sehingga sudah terbukti aman dikonsumsi," ucapnya.

Menurut anjuran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, batas maksimum konsumsi gula seseorang hanya empat sendok makan perhari. Hadirnya pemanis rendah kalori dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang perlu membatasi asupan gula hariannya.

Masyarakat Indonesia menurut dr Dante juga masih berpersepsi bahwa ‘makanan sehat itu pasti kalah nikmat dibandingkan makanan tidak sehat’. Persepsi ini keliru sebab sajian makanan minuman bebas atau rendah gula dan tetap nikmat, sehingga dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi diabetesi. 

TAGS : Rendah Kalori Pemanis Minuman




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :