Rabu, 21/08/2019 12:59 WIB

Tekan Ongkos Produksi, KKP Perpanjang Program Smart-Fish

Menurut Sesditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Berny A. Subki, program hibah pemerintah Swiss senilai US$1,7 juta tersebut dinilai terbukti meningkat volume produksi perikanan

Perpanjangan program Smart-Fish

Jakarta, Jurnas.com – Program kerjasama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kedutaan Besar Swiss, dan Organisasi Pengembangan Industri PBB (UNIDO), Smart-Fish kembali diperpanjang untuk periode kedua (2019-2022).

Pasalnya, menurut Sesditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Berny A. Subki, program hibah pemerintah Swiss senilai US$1,7 juta tersebut dinilai terbukti meningkatkan volume produksi perikanan, dan sebaliknya menekan ongkos produksi (cost production) khususnya di tiga komoditas yakni ikan patin, rumput laut, dan tuna.

Untuk ikan patin misalnya, ongkos produksi di tingkat pembudidaya dalam lima tahun terakhir berhasil ditekan dari yang sebelumnya selalu di atas 60 persen.

Hal ini pun berdampak positif pada volume produksi, di mana ikan patin Indonesia sudah mampu menembus pasar Arab Saudi. Tahun ini, 200 ton patin beku diekspor perdana ke Saudi untuk keperluan jemaah haji, dengan nilai US$472 ribu.

“Hampir 60 persen secara umum cost-nya habis di pakan, karena impor. Dengan pakan mandiri dan dibantu Smart-Fish, yang menggunakan material lokal, ternyata nutrisinya tidak kalah dari yang impor. Pembudidaya bisa untung, dan bisa meningkatkan volume produksi,” kata Benny dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (4/7).

Demikian pula untuk komoditas rumput laut dan tuna. KKP mengklaim telah terjadi kenaikan volume produksi dengan tingkat efisiensi tinggi, sehingga menghasilkan lonjakan keuntungan bagi pembudidaya.

“Tiga komoditas ini memiliki harapan cerah utk daya saing perikanan di indonesia,” ucap dia.

Sementara Direktur Pemasaran PDSPKP Machmud mengungkapkan, saat ini Indonesia sedang bersaing dengan Vietnam dalam memenuhi permintaan Patin di Timur Tengah. Dengan permintaan secara global sebesar 500.000 ton, Machmud optimistis Indonesia bisa menggarap sejumlah pasar potensial, antara lain Afrika.

“Vietnam posisinya sekarang (patinnya) lagi kena penyakit. Dengan bantuan Smart Fish kita harap bisa efisiensi,” ungkap Machmud.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Jenderal KKP sekaligus Plt Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo. Dia mengatakan, patin saat ini menjadi komoditas primadona di Tanah Air, dan siap memenuhi permintaan pasar global.

“(Untuk) pasar di seluruh Indonesia, minta (patin) berapapun kami siap. Usaha kami tidak sia-sia, bahwa Smart-Fish berhasil mempromosikan patin dengan baik,” papar Nilanto.

TAGS : Smart-Fish KKP Ikan Patin Perikanan




TERPOPULER :