Rabu, 26/06/2019 14:47 WIB

Austria Tutup Lembaga yang Didanai Arab Saudi di Wina

Mosi itu juga meminta pemerintah dan Kementerian Luar Negeri Austria untuk menggunakan semua cara politik dan diplomatik untuk mencegah eksekusi Murtaja Qureiris, yang ditangkap pada 2014.

Pusat Dialog Antaragama dan Antar Budaya (KAICIID) Raja Abdullah bin Abdulaziz di ibu kota Austria, Wina. (Foto: PressTV)

Wina, Jurnas.com - Pemerintah Austria mengumumkan rencana menutup lembaga yang didanai Saudi di Wina atas kemungkinan eksekusi mati seorang remaja yang ditangkap di Arab Saudi karena terlibat protes anti pemerintahan.

Keputusan itu muncul setelah anggota Partai Kebebasan sayap kanan, kaum liberal Neos dan Sosial Demokrat mengeluarkan mosi di parlemen Austria untuk menghentikan kegiatan Pusat Internasional Dialog Antaragama dan Antar Budaya (KAICIID) Raja Abdullah bin Abdulaziz.

"Ini adalah sinyal untuk hak asasi manusia di Arab Saudi, yang diharapkan akan disalin oleh banyak orang, tidak hanya di Eropa," kata anggota parlemen Peter Pilz, seorang kritikus Arab Saudi, menulis di Twitter pribadinya.

Mosi itu juga meminta pemerintah dan Kementerian Luar Negeri Austria untuk menggunakan semua cara politik dan diplomatik untuk mencegah eksekusi Murtaja Qureiris, yang diringkus pada 2014.

"Hak asasi manusia yang mendasar, yaitu ikut serta dalam demonstrasi, sudah cukup bagi pemerintah Arab Saudi untuk mengeksekusi remaja," kata Pilz dalam sebuah pernyataan terpisah.

Dalam video, Qureiris masih berusia 10 tahun saat terlibat dalam protes menggunakam sepeda di Provinsi Timur Arab Saudi. Dalam video itu, ia terlihat mengangkat alat pengeras suara dan menekannya ke bibir.

"Orang-orang menuntut hak asasi manusia!" teriaknya.

Tak lama kemudian, ia dituduh mendampingi saudara lelakinya yang aktivis, Ali Qureris, mengendarai sepeda motor ke kantor polisi di kota Awamiya, Saudi timur. Ali diduga melemparkan bom molotov ke kantor polisi di sana.

Murtaja berusia 11 ketika saudaranya meninggal saat ikut serta dalam protes, yang disebut Arab Saudi sebagai kekerasan.

Ia berusia 13 tahun, saat pemerintah Arab Saudi menangkapnya saat bepergian bersama keluarganya ke Bahrain. Pada saat itu, Qureris diangga pengacara dan aktivis sebagai tahanan politik termuda di Arab Saudi.

Menurut laporan, jaksa penuntut umum akan menghukum mati Qureris atas beberapa tuduhan, mulai dari bergabung dengan organisasi teroris hingga melempar bom molotov di kantor polisi dan berbaris di pemakaman saudara lelakinya.

Arab Saudi mengeksekusi 37 orang hanya dalam satu hari di bulan April, setidaknya tiga di antaranya adalah anak di bawah umur, menurut kelompok hak asasi.

KAICIID adalah proyek bersama yang diluncurkan pada 2012 berdasarkan perjanjian yang ditandatangani Austria, Spanyol dan Arab Saudi.

Vatikan adalah pengamat pendiri KAICIID dan memiliki perwakilan di dewan, yang menurut perjanjian harus mencakup tiga orang Kristen, tiga Muslim, seorang Yahudi, seorang Hindu, dan seorang Buddha.

TAGS : Arab Saudi Hukum Mati Murtaja Qureiris




TERPOPULER :