Senin, 18/02/2019 10:56 WIB

Polusi Udara China Naik 16 Persen per Januari

Pemerintah China sebelum berjanji tidak akan menekan polusi bahkan di tengah kemerosotan ekonomi. Namun, peningkatan emisi asap yang merusak paru-paru bulan lalu menunjukkan, beberapa provinsi mengalami peningkatan dalam produksi industri.

Polusi Udara di Korea (foto ilustrasi: UPI)

Shanghai, Jurnas.com - Polusi udara di 39 kota besar di China utara naik 16 persen dari Januari. Data resmi menunjukkan, melonjaknya kegiatan industri membuat Tirai Bambu itu semakin tidak mungkin memenuhi target emisi musim dingin.

Menurut analisis Reuters dari data polusi resmi, Partikel berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5 di dua zona kontrol emisi utama China utara naik 16 persen dari tahun sebelumnya menjadi 114 mikrogram per meter kubik.

Pemerintah China sebelum berjanji tidak akan menekan polusi bahkan di tengah kemerosotan ekonomi. Namun, peningkatan emisi asap yang merusak paru-paru bulan lalu menunjukkan, beberapa provinsi mengalami peningkatan dalam produksi industri.

"Alasan kenaikan level PM2.5 tidak sulit untuk diidentifikasi," kata Lauri Myllyvirta, analis energi dengan kelompok lingkungan Greenpeace, yang mencatat bahwa produksi baja, tenaga termal dan semen melonjak di seluruh wilayah pada kuartal terakhir 2018.

"Pengalihdayaan output industri yang berlangsung musim dingin lalu agar Beijing mencapai target kualitas udaranya dibalik pada musim dingin ini, mendorong tingkat polusi udara naik di kawasan itu sementara bagian lain negara itu telah melihat peningkatan," sambungnya.

Daerah yang paling terburuk selama sebulan adalah kota batu bara Linfen di provinsi Shanxi, yang mencapai level PM2,5 rata-rata 174 mikrogram, naik 23 persen dari tahun sebelumnya.

Shijiazhuang, ibukota provinsi Hebei, wilayah pembuat baja terbesar di China, juga mengalami peningkatan emisi 30 persen menjadi 144 mikrogram.

Standar kualitas udara resmi Tiongkok adalah 35 mikrogram, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan rata-rata tahunan tidak lebih dari 10.

Selama tiga bulan dimulai pada November 2018, ketika sistem pemanas berbahan bakar batubara dinyalakan di seluruh utara, rata-rata PM2.5 di 39 kota mencapai 93,5 mikrogram, naik 12 persen pada tahun tersebut.

Anyang, sebuah kota penghasil batu bara dan baja di provinsi Henan, palingburuk selama periode itu, dengan konsentrasi rata-rata 124 mikrogram, naik 27 persen.

Kementerian Lingkungan China tidak menanggapi permintaan komentar. Namun bulan lalu, pejabat senior Liu Bingjiang mengatakan kepada wartawan, pemerintah daerah akan bertanggung jawab penuh atas segala kegagalan, terlepas dari cuaca.

Sebagian besar kota ditarget mengurangi polusi hingga tiga persen dibandingkan dengan 12 bulan sebelumnya, jauh lebih rendah dari target tahun lalu sekitar 15 persen.

Periode kepatuhan juga dimulai sebulan sebelumnya pada bulan Oktober, ketika polusi biasanya jauh lebih rendah. Namun, mereka masih berjuang untuk memenuhi target.

"Dengan empat bulan periode Oktober-Maret berlalu dan dua bulan lagi, akan dibutuhkan pengurangan 20 persen yang sangat curam pada Februari-Maret untuk mencapai target pengurangan 3 persen," kata Myllyvirta.

TAGS : Polusi Udara China Pembangunan Industri




TERPOPULER :