Senin, 22/04/2019 20:06 WIB

Kementan Pantau Pemanfaatan Alsintan di Sumsel

Kementan telah menyalurkan bantuan excavator sebanyak 69 unit di Provinsi Sumsel

Pemandangan hambaran lahan rawa yang sudah ditanami padi (Foto: Ist)

Sumsel, Jurnas com - Kementerian Pertanian (Kementan) mengawasi penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) khususnya excavator untuk optimalisasi lahan rawa dan lebak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (9/2).

Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan, Andi Nur Alam Syah, mengatakan, pemanfaatan Alsintan untuk optimalisasi lahan rawa dan lebak benar-benar di manfaatkan secara optimal.

"Pemantauan ini sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Alsintan dan Excavator harus bekerja optimal sehingga lahan rawa menjadi lahan sawah produktif," tegas Nur Alam.

Nur Alam menyebutkan, Kementan telah menyalurkan bantuan excavator sebanyak 69 unit di Provinsi Sumsel. Walhasil, berdasarkan pantauan, bantuan tersebut bekerja optimal untuk pengerukan saluran irigasi yang mengalami pendangkalan, pembuatan jalan usaha tani dan optimasi lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut.

"Dengan demikian, produksi pangan khususnya beras nantinya kita berdaulat dan kesejahteraan petani meningkat. Bahkan dari lahan rawa kita bisa mencukupi pangan dunia," pinta Nur Alam sapaan akrabnya.

Masih dalam kunjungan ini, Kepala Desa Talang Rejo, Kecamatan Muara Talang, Banyuasin, Sumsel, Hendrik Kuswoyo membeberkan pemanfaatan excavator. Menurutnya, adanya excavator memberikan hasil dan nilai tambah yang begitu besar bagi pertanian dan petani itu sendiri.

Hendrik menyebutkan dari 1 unit excavator dapat mengerjakan long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 m. Ini dapat mengairi sawah seluas 1.800 hektar dengan indeks pertanaman (IP) 200, yakni menanam padi 2 kali setahun.

"Produktivitas padi yang tadinya 8,5 ton menjadi 13 ton per hektar untuk dua musim tanam. Jadi ada selisih 5 ton per hektar," beber Hendrik.

Menurut Hendrik, sebanyak lima ton gabah per hektar tersebut, nilainya mencapai Rp20 juta. Dengan demikian, dari total lahan 1.800 hektare, menghasilkan tambahan pendapatan bagi petani mencapai Rp36 miliar.

"Tambahan pendapatan ini untuk dua musim tanam" ujarnya.

Hendrik menjelaskan dalam pengerjaan optimalisasi lahan rawa menjadi lahan sawah produktif ini, pemerintah desa memanfaatkan dana desa untuk biaya BBM dan operator. Total dana desa mencapai Rp800 juta, namun digunakan untuk membuat long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 m hanya Rp270 juta.

"Namun, dengan adanya bantuan excavator, pengerjaan ini bisa dilakukan hanya butuh waktu 2 bulan saja. Tapi kalau tidak ada excavator bisa 5 tahun," jelasnya.

Kemudian, sambung Hendrik, jika tidak ada excavator, pengerjaan long storage tersebut juga membutuhkan dana Rp 900 juta untuk sewa alat dan bahan bakar minyak Rp160 juta. Belum lagi biaya operator, per meternya Rp3 juta sehingga totalnya biaya operator untuk long storage sepanjang 20 km itu sebanyak Rp60 juta.

TAGS : Kementan HPS lahan rawa Kalimantan Selatan




TERPOPULER :