Senin, 22/04/2019 19:50 WIB

Sebelum Ada Kapal Ternak Bobot Sapi Disebut Menyusut hingga 20 Persen

pengiriman sapi dari NTT ke Jakarta terjadi penyusutan bobot sapi bahkan hingga 15 persen -20 persen

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan Fini Murfiani (Foto: Supi/jurnas.com)

Bali, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, sejak adanya trayek angkutan kapal khusus ternak dari program tol laut telah berdampak pada penurunan risiko penyusutan bobot sapi hingga menjadi sembilan persen.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Kementan, Fini Murfiani mengatakan sebelum ada kapal khusus ternak, banyak terjadi kasus penyusutan bobot sapi selama perjalanan laut.

Fini mengungkapkan, sebelumnya saat pengiriman sapi dari NTT ke Jakarta terjadi penyusutan bobot sapi bahkan hingga 15 persen -20 persen. Namun setelah ada kapal khusus ternak, penyusutan maksimal hanya sembilan persen.

"Itu sebabnya kenapa ternak terutama sapi harus diangkut dengan pelayaran khusus agar tidak stres," ujar Fini di sela-sela pertemuan dengan Atase Pertanian Indonesia di Bali, Jumat (8/2).

Lebih lanjut, ia sampaikan, pemanfaatan Kapal Ternak merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui suplai dalam negeri dari daerah produsen ke wilayah konsumen.

"Pengaruh positifnya, terutama sebagai salah satu komponen mendukung ketersediaan pangan protein hewani," ungkap Fini.

"Keutamaan dari kapal ternak diantaranya: memenuhi aspek kesrawan, kepastian jadwal pelayaran dan mampu diproyeksikan sebagai sistem monitoring ketersediaan dan tata niaga, sehingga dapat dijadikan salah satu dasar dalam penentuan kebutuhan impor," jelasnya.

"Keberadaan kapal ternak menjadi bagian dari upaya animal welfare karena di kapal khusus itu, sapi-sapi bisa duduk, nyaman, tenang, dan kondisi itu sangat mempengaruhi kualitas daging dan ototnya nanti tidak menjadi keras”, ucap Fini.

Dengan begitu, lanjut Fini, peternak sebagai produsen sapi bisa merasakan harga jual sapi yang layak, dan konsumen di Jakarta pun bisa merasakan daging sapi yang berkualitas dan harga yang juga tidak terlalu tinggi.

Menurut Fini, keberadaan kapal ternak yakni KM. Camara Nusantara 1-6 juga dinilai sangat bermanfaat karena pemerintah bisa mengetahui angka suplai sapi ternak dalam negeri.

"Kalau kita tahu data suplai dalam negeri, nanti kita juga akan tahu, berapa sih impor sapi yang dibutuhkan," imbuhnya.

Fini menyampaikan, pada 2018 loading factor enam unit kapal ternak telah mencapai 88 persen, dengan jumlah ternak yang diangkut 30.803 ekor dari 78 pelayaran.

Adapun konektivitas trayek angkutan ternak tahun ini ada enam rute, yakni: KM. Camara Nusantara 1 oleh PT Pelni (Kupang - Waingapu - Tanjung Priok - Cirebon - Kupang), KM. Camara Nusantara 2 oleh PT ASDP (Kupang - Wini- Atapupu- Tanjung Priok - Kupang), KM Camara Nusantara 3 oleh PT Pelni (Kupang - Waingapu - Tanjung Priok - Cirebon - Surabaya-Dumai- Cirebon-Kupang).

Selanjutnya KM. Camara Nusantara 6 oleh PT Subsea (Bima - Badas - Parepare - Palu - Balikpapan/Samarinda - Bima), dan rute yang terakhir KM. Camara Nusantara 5 oleh PT ASDP (Celukan Bawang - Tanjung Priok - Kupang - Wini - Atapupu - Samarinda - Celukan Bawang).

"Untuk mengoptimalkan pemanfaatan kapal, saat ini juga sudah dipersiapkan untuk mendukung pemasaran ekspor, salah satunya adalah ekspor kambing ke Malaysia dengan potensi 60.000 ekor per tahun," ungkap Fini.

Menurutnya, langkah ini juga memberikan keuntungan bagi peternak terkait dengan lebih tingginya harga di peternak. Untuk memfasilitasi hal tersebut Kemenhub telah merevisi SK Dirjen Perhubungan Laut tentang jaringan kapal khusus angkutan ternak tahun 2018 dengan trayek Surabaya ke Dumai.

TAGS : Kementerian Pertanian Bobot Sapi Tol Laut




TERPOPULER :