Kamis, 22/08/2019 08:10 WIB

Ketua Komisi IV: Menko Darmin Turun Lapangan Bukan Bicara Impor

Roem Kono sekali lagi mengajak Menko Darmin turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung penen Petani.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Roem Kono saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman panen raya jagung di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Rabu (30/1).

Gotontalo, jurnas.com - Ketua Komisi IV DPR RI, Roem Kono, berpendapat bahwa kebijakan kembali membuka keran impor jagung  untuk pakan ternak tanpa kuota hingga pertengahan Maret 2019 hanya pendapat Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian.

Demikian disampaikan Roem Kono saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman panen raya jagung di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Rabu (30/1).

"Perlunya impor jagung itu kan hanya pendapat Pak Menko Darmin saja. Tapi dilihat dari fakta lapangan tidak begitu, justru awal tahun 2019 ini kita sedang menghadapi panen raya jagung. Pak Menko Darmin sebaiknya turun ke lapangan," kata Roem Kono.

Roem Kono sekali lagi mengajak Menko Darmin turun langsung ke lapangan untuk melihat langsung penen Petani. Buhan hanya di Gorontalo, daerah yang memasuki panen raya saat ini yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera serta hampir seluruh Indonesia akan panen.

"Jadi, sebaiknya jangan terlalu banyak bicara impor jagung. Nyatanya kondisi produksi jagung Indonesia hingga saat ini sudah mencapai swasembada," tegasnya.

Roem Kono menjelaskan selama volume impor masih di bawah 10 persen, produksi dalam negeri dapat disimpulkan mencapai swasembada. Terbukti, di tahun 2019, impor jagung hanya 30 ribu ton, sementara produksi jagung tiga sampai empat juta ton.

"Jadi yang seharusnya yang kita bicarakan produksi pada Januari 2019 mencapai 1,2 juta ton," jelasnya.

Roem Kono menambahkan, produksi di Gorontalo saja di bulan Januari 2019 mencapai 300 ribu ton. Kemudian, produksi jagung secara nasional hingga Maret 2019 mencapai tiga sampai empat juta ton.

"Jangan sampai hasil kerja keras petani diabaikan, demi segelintir orang yang menikmati keuntungan. Jadi ketersediaan jagung dalam negeri aman. Jumlah impor saja kan 30 ribu ton masih jauh di bawah produksi di Gorontalo," jelasnya.

Lebih lanjut Roem Kono menegaskan melihat fakta lapangan dan data tersebut kita sebaiknya harus optimis jagungb kita bisa swasembada.

"Jadi sekali lagi saya tegaskan Pak Menko Darmin harus turun ke lapangan, lihat fakta data lapangan. Saya optimis produksi jagung kita saat mencukupi kebutuhan," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Gorontalo, Rusli Habibi mengatakan di tahun 2018, produksi jagung di Gorontalo sangat membanggakan. Hal ini terlihat dari Gorontalo mampu mengekspor jagung yakni 113 ribu ton, padahal ditargetkan 58 ribu ton.

"Kenapa ini bisa dicapai? Karena Kementan memberikan bantuan bibit unggul dan tidak melalui tender, pupuk pun turun tepat waktu, dikawal oleh TNI," tuturnya.

 

TAGS : Impor Jagung Jagung Gorontalo Kementerian Pertanian




TERPOPULER :