Senin, 10/12/2018 16:22 WIB

NH Dini, Sosok Menyendiri yang Tak Lekang Tersapu Zaman

Kematiannya menyesakkan banyak kalangan yang mengenal dari tulisan-tulisan monumentalnya. Dia menghirup nafas terakhirnya setelah mobil yang ditumpanginya ditabrak mundur truk di jalan tol.

Penulis sastra legendaris Indonesia Nh Dini (Foto: Twitter)

Kepada ramuna guruku
Kepada kampungku sekayu
Dengan harapan dia tidak akan
Berganti nama di masa mendatang
Cuplikan novel NH DINI:  "Sekayu

Jakarta - Hari ini, 4 Desember 2018 pukul 16.00, sosok perempuan berusia 82 tahun bernama Nurhayati Sri Handini Siti Nukatin dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Elisabeth Semarang.

Kematiannya menyesakkan banyak kalangan yang mengenal dari tulisan-tulisan monumentalnya. Dia menghirup nafas terakhirnya setelah mobil yang ditumpanginya ditabrak mundur truk di jalan tol.

Wanita itu terkenal dari buku-bukunya bernama NH. Dini. Seorang sastrawan, novelis kelahiran 29 Februari 1936  di Semarang. Suaminya bernama Yves Coffin yang pernikahannya berlangsung di Jepang.  Dini adalah anak bungsu dari lima bersaudara,  dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah.

Dini kecil mulai menulis sejak kelas 3 SD sebagai ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Dia dikenal sebagai anak yang suka bercerita walau cita-citanya ingin menjadi masinis kereta api. Tapi tak kesampaian.

Sejak SMP, hidupnya kerap diisi dengan lamunan. Maklum saja, sepeninggal ayahnya, ibunya harus membiayai hidupnya dengan bekerja apa adanya. Dan justru dengan merasa kesendirian itulah, Dini malah aktif menulis di sekolahnya.

Dini serius dengan ambisinya menulis. Masuk jurusan sastra ketika menginjak bangku SMA di Semarang. Ia mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah.

Tahun kian lama, Dini akhirnya mulai mengasah kemampuan menulisnya. Tahun 1972 dia menulis novel "Pada Sebuah Kapal", kemudian La Barka tahun 1975. Novel terkenal lainnya, Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998).

Hingga akhir produktifnya, Dini  telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan temanya soal perempuan melulu. Bahkan ketika bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran, Dini menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Dua Dunia.

Dari buku-buku yang laris manis selama 60 tahun, Dini tua baru menerima royalti honor untuk menjejali sisa hidup sehari-hari. Bahkan kehidupannya banyak ditopang rekan untuk biaya makan dan pengobatan.

Ya, Dini sang wanita peraih tangguh itu harus menjalani kesulitan hidupnya. Sempat menjual barang. Menjalani penitipan tanaman dan binatang piaraan tetangganya hingga akhir tahun 2000.

Sejak akhir 2003, Dini menetap di Sleman, Yogyakarta. Persisnya hijrah dari Semarang ke kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dan terakhir dia tinggal di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran.

Dan Dini akhirnya pergi "Pada Sebuah Kapal". Selamat Jalan. Semoga "hidup"nya terang benderang.

TAGS : NH Dini Novelis Perempuan Sastrawan Indonesia




TERPOPULER :