Jum'at, 14/12/2018 05:48 WIB

RODE 610 Cagar Budaya Rumah Gerakan Mahasiswa

Deputi IV Kantor Staff Presiden, Eko Sulistyo mengatakan keberadaan rumah Rode ini satu-satunya yang ada di Indonesia. 

Acara 30 tahun RODE Rumah Perjuangan (Foto: Ist)

Yogyakarta - Sebuah rumah yang legendaris sebagai basis gerakan mahasiswa pro demokrasi di Jl Sultan Agung Gang Rode No 610 Yogyakarta akan segera ditetapkan jadi cagar budaya.

Hal itu disampaikan kata sejarahwan dan juga Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan Nasional, Hilmar Farid,  di acara 30 tahun RODE Rumah Perjuangan.

Rumah Rode yang hingga kini masih menjadi basis aktivis gerakan mahasiswa tetap tidak berubah dari fisik bangunan, ruangan dan fungsinya sebagai tempat diskusi dan belajar politik para aktivis dari aktivis mahasiswa di Yogyakarta dan kota besar lainnya.

Sementara itu, Deputi IV Kantor Staff Presiden, Eko Sulistyo mengatakan keberadaan rumah Rode ini satu-satunya yang ada di Indonesia.  Aktivitas mahasiswa dan rumah yang menyatu dalam sebuah dinamika politik selama sudah 30 tahun lamanya melakukan regenerasi.

"Tidak ada di tempat lain ada rumah dan aktivisnya yang menyatu sebagai suatu komunitas yang bertahan hingga saat ini. Saya dulu dari solo selalu mampir ke rumah ini kalo ada konsolidasi gerakan melawan rezim Orde Baru ujar Eko yang dulu aktivis mahasiswa UNS Surakarta," terang Ekod dalam keterang tertulisnya yang diterima jurnas.com, Selasa (20/11).

Sedangkan bagi Anggota DPR PDIP, Budiman Sudjatmiko rumah Rode mempunyai kenangan tersendiri dan sudah menjadi jadi bagian sejarah dalam perjalanan hidupnya.

"Saya belajar politik di Rumah Rode sejak SMA dan awal masuk kampus UGM. Rode menjadi tempat baca buku, diskusi,  rapat aksi demonstrasi hingga melakukan advokasi buruh dan petani," katanya.

"Saya belajar nilai kolektif kebersamaan dan tidak hanya memikirkan hidupnya sendiri melainkan harus berjuang bersama rakyat ya di Rode ini," sambungnya.

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqodas mempunyai penilaian sendiri terhadap rumah Rode. Menurutnya penghuni Rode tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

"Penghuninya sebagian besar mahasiswa UII yang saya kenal di kampus selalu kritis dan cenderung ugal-ugalan tapi saya salut nilai akademik intelektual mereka di atas rata-rata mahasiswa lainnya," kenang Busyro.

"Saya beberapa kali diundang untuk mengisi diskusi di Rumah Rode, mereka menyukai tema Islam yang cenderung kekirian karena mementingkan pembelaan pada kaum tertindas seperti buruh petani dan korban pelanggaran HAM,"  ujar Busro yang kini aktif kembali mengajar di Kampus FH UII.

Mantan Ketua Komnas HAM RI dan kini menjadi Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Presiden, Ifdhal Kasim, merupakan penghuni dari generasi pertama rumah rode saat masih menjadi aktivis mahasiswa UII tahun 1988.

"Dinamika intelektual kritis, advokasi rakyat dan aksi jalanan demonstrasi menjadi kesatuan aktivitas yg benar2 menempa diri mahasiswa dari dulu sampai sekarang. Tidak berlebihan jika Rumah Rode ditetapkan menjadi cagar budaya oleh Pemerintah," ujar Ifdal.

TAGS : Rumah Rode Rumah Aktivis Yogyakarta




TERPOPULER :