Senin, 19/11/2018 20:10 WIB

Solusi Minimal Invasive untuk Gangguan Jantung

Tindakan minimal invasive memberikan kenyamanan dan masa pemulihan yang lebih singkat untuk pasien.

Tindakan minimal invasive memberikan kenyamanan dan masa pemulihan yang lebih singkat untuk pasien (Foto: RSPI)

Jakarta - Gaya hidup yang tidak sehat serta pertambahan usia, memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan, seperti masalah kesehatan pada jantung, pembuluh darah, ataupun urologi.
 
Untuk menangani masalah kesehatan tersebut, diperlukan penanganan yang tepat dan komprehensif dengan dukungan teknologi terkini dalam bidang kesehatan,dari mulai diagnosa hingga menentukan tindakan yang tepat bagi setiap pasien.  

Gangguan kesehatan jantung menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang sering terjadi. Permasalahan pada pembuluh darah koroner, katup-katup jantung,dan masalah pada sistem listrik jantung membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat pada periode emas.

Jika tidak ditangani dengan cepat, dapat mengakibatkan kerusakan otot jantung, gagal jantung, bahkan kematian mendadak. Penanganan masalah jantung saat periode emas, meningkatkan peluang kesembuhan pasien dan menghindari kerusakan otot jantung yang lebih parah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi intervensi, dr. Wishnu Aditya menjelaskan salah satu tindakan minimal invasive yang dilakukan untuk menangani masalah pada jantung adalah kateterisasi jantung atau pemasangan stent pada jantung.

Ada dua aspek dari pelaksanaan kateterisasi jantung, yaitu diagnostik dan intervensi. Pada saat diagnostik, pemeriksaan memanfaatkan modalitas teknologiseperti X-ray atau C-Arm untuk menemukan lokasi terjadinya gangguan.

Selanjutnya,kateterisasijuga bisa dilakukan untuk membuka jalan pemasangan stent atau ring jantung pada pembuluh darah yang tersumbat, sehingga aliran darah ke jantung pun dapat kembali normal.

Tindakan minimal invasive lain yang biasa dilakukan untuk menangani masalah jantung adalah pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker, serta penutupan kebocoran sekat jantung akibat kelainan jantung bawaan.”

Setelah dilakukannya tindakan minimal invasive ini, pasien biasanya menjalani masa pemulihan dengan waktu relatif singkat sekitar satu hingga tiga hari. Setelah itu pasien diharapkan  apat kembali melakukan aktivitas normal.

Hal ini merupakan salah satu kelebihan tindakan minimal invasive, di mana pasien memerlukan waktu penyembuhan dan rawat inap di rumah sakit yang singkat.

chief Executive Officer (CEO) RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto mengatakan penanganan untuk berbagai masalah kesehatan ini bermacam-macam, harus disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari terapi pengobatan hingga tindakan bedah.

Seiring hadirnya inovasi teknologi di bidang kesehatan, solusi untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan dapat dilakukan dengan teknik minimal invasive.

Minimal invasive surgery adalah tindakan bedah dengan luka sayatan yang lebih minimal. Setelah dilakukannya tindakan,pasien akan merasakan nyeri yang lebih sedikit, risiko komplikasi lebih rendah, serta masa pemulihan yang lebih singkat, bila dibandingkan dengan bedah konvensional.

TAGS : Bedah Minimal Invasive Jantung




TERPOPULER :