Jum'at, 16/11/2018 16:26 WIB

Keburu Tergiur dengan Kesuksesan Startup? Ini Strateginya

Startup alias perusahaan rintisan memang sedang menjadi tren di berbagai negara termasuk Indonesia.

Facebook

Jakarta - Bagi generasi baby boomers atau mereka yang lahir di rentan tahun >1960 pasti kerap merasakan gap antara terbatasnya akses teknologi, informasi dan komunikasi dalam menunjang kebutuhan aktivitas sehari-hari.

Kehadiran berbagai perusahaan rintisan berbasis aplikasi dan digital yang digawangi oleh kelompok kaum milenial mampu menjembatani gap keterbatasan akses tersebut. Startup alias perusahaan rintisan memang sedang menjadi tren di berbagai negara termasuk Indonesia.

Kisah sukses yang datang dari berbagai tokoh milenial perintisnya seperti Mark Zuckerberg, Evan Spiegel, Jan Koum, David Karp menjadi salah satu pemicunya.

Pun para perintis 3 startup “unicorn” di Indonesia, William Tanuwijaya, Nadiem Makarim, dan Ferry Unardi yang sukses menyandang gelar CEO dengan valuasi perusahaan rintisannya mencapai di atas $1 miliar.

Independent Wealth Management Advisors, FX Iwan mengatakan fenomena ini lantas menjadi momok kesuksesan yang sangat menggiurkan bagi banyak milenial yang kini beramai-ramai ingin mendirikan startup dan menjadi sukses di usia muda.  

"Namun, perlu dicatat bahwa membangun perusahaan rintisan tentu bukanlah perkara yang mudah. Milenial sebagai generasi yang mendominasi dalam pembagian kue bisnis rintisan ini memiliki karakter yang unik," ujarnya.
 
Mereka seringkali terlalu fokus dan berorientasi pada inovasi untuk membangun produk dan pasar sehingga tak jarang melupakan urusan finansial.

"Padahal penganggaran merupakan salah satu elemen yang penting dilakukan sejak awal startup berdiri dan pengelolaan finansial yang baik akan berdampak pada keberlanjutan bisnis startup," lanjutnya.

Hal yang banyak dilakukan guna menyelamatkan eksistensi startup adalah dengan menarik simpati para investor atau venture capitalist. Kisah sukses para startup “unicorn” di Indonesia sangat berpengaruh untuk menghidupkan ekosistem startup Indonesia yang melibatkan peranan investor baik lokal maupun asing.

Hasil riset Google Indonesia dan AT Kearney pada 2017 menyebutkan investasi startup di Indonesia sudah mencapai 40 triliun rupiah dan angka pada Januari-Agustus 2017 tumbuh 68 kali lipat dalam 5 tahun terakhir.

Berikut beberapa hal yang patut diperhatikan startup dalam proses fase pendanaan menurut FX Iwan:

1. Jangan terpaku pada persentase kepemilikan

Memiliki persentase terbesar kepemilikan perusahaan tentu menjadi cita-cita sebagian besar para founder startup. Namun, sebagai perusahaan rintisan pasti memerlukan dukungan pihak luar untuk mengembangkan bisnisnya.
 
Kehadiran investor yang tepat dapat menjadi peluang besar bagi startup untuk memaksimalkan keberlanjutan bisnisnya, termasuk ekspansi pasar, memperkuat human resources, memperluas jaringan, dan lainnya.

Cobalah untuk tidak selalu menjadikan persentase kepemilikan perusahaan sebagai prioritas dalam mengembangkan bisnis, karena pada akhirnya, memiliki 20 persen dari perusahaan senilai $100 juta, akan lebih baik dari 60% dari perusahaan senilai $10.

2. Matangkan tolok ukur

Layaknya pada perusahaan umumnya, startup juga membutuhkan waktu untuk mengembangkan bisnis dan memiliki target pertumbuhan. Tolok ukur yang realistis akan membatu startup menjadi bernilai di mata investor. Tolok ukur yang dimiliki startup akan menjadi panduan bagi investor dalam menilai pencapaian dan kemajuan startup.

Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan yang matang dalam menentukan tolok ukur, sebab jika terlalu tinggi, startup akan kesulitan untuk mencapainya dan jika terlalu rendah, pencapaiannya tidak akan bernilai lebih di mata investor

3. Pahami keterlibatan investor

Ketika ingin menentukan komitmen dengan investor tertentu menjadi sebuah tantangan bagi startup. Startup dituntut untuk dapat memahami terlebih dahulu sejauh apa keterlibatan investor dalam bisnisnya kelak.

Dalam investasi, terdapat beberapa pendekatan yang sering digunakan oleh para investor. Ada investor yang mengadopsi filosofi investasi tranche (tranche adalah kata Prancis yang berarti bagian atau potongan).

Investor tersebut menginvestasikan jumlah tertentu dan merilis dana tersebut secara bertahap karena perusahaan telah mencapai target yang telah ditentukan sebelumnya.

Pendekatan ini membuat investor tersebut secara aktif terlibat dalam setiap investasi dan berdedikasi untuk membantu para founder startup mencapai tujuan mereka. Beberapa investor juga ada yang mengadopsi metode one – and - done, dimana mereka menginvestasikan semua uang di muka.

Meskipun metode pertama tampak lebih menarik, namun jenis struktur dana biasanya datang dengan nilai valuasi yang lebih ramping dan parameter yang lebih ketat dalam hal pengembalian moda dan pembagian keuntungan.

TAGS : Startup Pendanaan Dana Investor




TERPOPULER :